Senin, Desember 26, 2022

PERKENALAN

Kita tidak saling kenal, tapi aku tahu tentang keberadaanmu, dan mungkin kamu juga sesekali pernah mendengar namaku disebut.

Tiba-tiba muncul begitu saja sebuah tanya di dalam pikiranku, bisakah kita membuat sebuah janji temu?

Sebenarnya, seseorang baru saja memperlihatkan fotomu, lalu dia menanyakan ketertarikanku. Aku tersenyum, sebab tak ingin mendeklarasikan bahwa aku tertarik jika kita tidak pernah saling bicara. Pun jika aku tertarik padamu, dalam skala yang sama, kamu belum tentu begitu kepadaku.

Perkenalan bukan sebuah permainan, yang kalau tidak menarik lagi bisa ditinggalkan semaunya. Perkenalan kita -yang nanti jika harus dilakukan, bukanlah sebuah kebetulan yang dipaksa keadaan. Melainkan memang direncanakan. Dan tentu saja perencanaan haruslah matang, alasan dan juga tujuan akhirnya.




Rabu, Desember 21, 2022

KADALUWARSA

Terlalu banyak ingatan yang harus di jemput ke masa lalu. Tapi beberapa momen ada yang sedari awal tidak pernah bisa terlupakan. Salah satunya adalah tentang pertemuan, awal dari semua cerita dan kisah bermula.

Sebenarnya, aku sedang bicara tentang masa putih abu-abu. Masa dimana jiwa seseorang tengah berkecamuk dan mulai berpikir tentang kebebasan, masa peralihan yang jika dirunut lebih jauh, tidak berlebihan rasanya untuk dianggap sebagai titik awal pencarian jati diri.

Beberapa bagian dari masa SMA menjadi gairah tersendiri dalam menjalani hari. Teman, dan mungkin juga cinta. Entah bagaimana kalian menjalani masa-masa itu dulunya. Tapi bagiku, teman dan cinta adalah dua ikon terbaik yang paling banyak mengisi slot cerita pada waktu itu.

Saat bicara mengenai teman, aku bicara tentang sosok. Namun, ketika bicara tentang cinta tidak demikian. Sosok teman hingga kini masih nyata dalam kehidupanku, tapi tentang cinta, itu adalah sepenggal cerita  yang dulunya pernah menjadi bumbu penambah nikmat. Sekarang tinggal sekedar cerita yang sudah kadaluwarsa.

Dengan teman, masih ada banyak temu yang terjadi hingga hari ini, disengaja atau pun kebetulan. Sedang dengan cinta, dia lenyap tak bersisa bersama kepergian. Tak ada harapan lagi.




Selasa, November 22, 2022

BEBERAPA SAPA

Aku punya kesan tentangmu. Itu sudah dimulai sejak 14 tahun yang lalu. Kali pertama aku melihatmu di sebuah SMP negeri di kampung kecil kita. Kamu adalah adik kelasku dan kita sekali pun tidak pernah saling menyapa.


Sudah lama sekali sejak saat itu, namun asaku rasanya masih sama. Aku masih menyimpan kagum, mungkin juga suka. Karena sampai hari ketika aku menulis ini, kepadamu aku masih memelihara sebuah harap.


Beruntung, kita lahir di dunia dengan penuh kemajuan, sehingga beberapa kali aku bisa menyapamu lewat dunia maya, melalui beberapa pesan yang kutinggalkan di sosial mediamu.


Kamu menanggapi, sesekali kita juga berdiskusi tentang sesuatu. 


Semoga dalam waktu yang tidak lama lagi, kamu mulai bisa memahami inginku, melalui tulisan-tulisan di blog pribadiku, atau melalui sapa-sapa kepadamu yang sesekali kusematkan di instastory atau di reply twitter.


   

Selasa, November 15, 2022

LANGKAH PERGI

Kadang aku berpikir bahwa pergimu adalah sementara. Sekedar untuk menyadarkanku akan salah-salah yang luput dari pengakuan. Sekarang aku tahu, bahwa yang kurasa terbaik ternyata tidak selalu begitu dari sudut pandang yang lain.


Sampai hari ini, aku tengah berusaha untuk menerima kepergianmu. Sudah lama berlalu, tapi jatuh karena kamu tinggal kala itu, masih menyisakan sakit hingga aku tidak sanggup berdiri.


Di sini, langkah pergimu tidak lagi terlihat. Bahkan jejak langkahmu pun sudah hilang tergerus hujan. Mengharapmu kembali adalah seakan sia-sia. Mendoakanmu mungkin jadi yang paling baik yang bisa kulakukan. Semoga di langkah pergimu, seseorang yang lebih bisa mengerti dan memahami, sedang bersiap-siap menyambut datangmu.

Minggu, Februari 06, 2022

PERTANYAAN SOAL KELAYAKAN

Ada hal yang membuatku pernah berpikir untuk tidak memperjuangkanmu. Bukan karena perihal rasa. Sebab kalau itu bisa kupastikan akulah yang terdepan. Tidak memperjuangkanmu, bukan berarti aku tidak peduli. Mengikutinya seperti air yang mengalir menurutku adalah cara terbaik yang bisa kutempuh. Aku menghargai setiap usaha dan laku baikmu. Pun kepadamu aku juga berusaha melakukan yang terbaik yang kubisa. Hanya saja, beberapa hal terasa mengganjal setelah kupikirkan betul-betul.


Pertanyaan yang sering muncul adalah, Layakkah aku?


Pertanyaan soal kelayakan selalu berujung pada raguku untuk dapat membuatmu bahagia. Yang kulihat, selama ini kehidupanmu istimewa, bagaimana jika setelah denganku nanti, semua istimewa itu menjauh? Aku takut tanpa sadar menyeretmu ke jurang kerasnya hidup, padahal selama ini hari-harimu selalu terkesan nyaman dan damai. Aku khawatir denganku nanti nafasmu menjadi sesak, sedang dulu sebelum denganku tidak begitu.


Aku tahu, skenario Tuhan adalah yang terbaik. Tapi jika kali ini hanya sekedar untuk menguatkanku lagi atas segala luka tentang kehilangan, bukankah yang sebelumnya sudah lebih dari cukup?

Senin, Desember 20, 2021

KESALAHAN

Peranap 12-19 Desember 2021



Barangkali ada yang belum tahu, ini adalah nama sebuah tempat di Kabupaten Indra Giri Hulu, Riau. Kurang lebih tujuh sampai delapan jam jaraknya dari Pekanbaru.


Aku tidak tahu banyak tentang daerah ini, tetapi seminggu di sana, secara kebetulan telah berhasil mengubah caraku berpikir tentang hidup, tentang rencana masa depan lebih tepatnya.


Sebuah pesan muncul di notifikasi hape yang kala itu lebih sering tak bersinyal. Tulisan yang cukup panjang, isinya lebih dari cukup untuk membuat jantung berdebar, kaki bergetar, dan nafas tersengal. Sebuah pesan yang pada mulanya membawa pikiran tentang kesia-siaan. Namun belakangan aku sadar, bahwa sebenarnya tidak ada yang sia-sia.


Begini ceritanya, sebagai laki-laki yang secara umur sudah layak dikata dewasa, tentu aku sudah berpikir untuk melangkah ke kehidupan yang lebih jauh -Baca: Menikah. Seseorang sudah sedari lama ada dalam kepalaku. tetapi untuk menuju ke tahap itu tentu tidak mudah. Banyak sekali rintangan dan hal-hal yang harus dipikirkan dan dipersiapkan.


Barangkali karena aku terlalu lama dalam memutuskan, semua menjadi tidak sesuai rencana. Pesan hari itu isinya bernada perpisahan. langkah seirama yang selama ini menyusuri jalan yang sama terpaksa di rubah. Kini harus berjalan di jalan masing-masing.


Percayalah, perpisahan itu menyedihkan.


Namun dibalik sedih yang mendadak datang karena sebuah pesan, ada satu hal yang melintas di kepalaku.


Terimakasih!!!!

Rabu, November 17, 2021

PERLU BERTEMU

 


Agaknya kita harus bertemu, duduk berdua sambil minum kopi lalu membahas hal-hal yang belakangan membuat kita menjadi tidak akur. Aku ingin tahu apa-apa saja yang tengah melintas di pikiranmu, agar dapat kuimbangi sehingga urat tegang kita dapat dikendorkan.


Tentu saja, akar dan muasalnya adalah karena kita sudah lama tidak bertemu. Ini perkara jarak. Jarak memang selalu menyebalkan, utamanya untuk manusia yang sering didera rindu dan prasangka. Tapi apa boleh buat. Selama ini ada prioritas yang memang harus didahulukan. Dan pertemuan kita tidak termasuk di dalamnya.


Jika sanggup dan masih yakin, bersabarlah sedikit lagi saja. Kata orang semua akan indah pada waktunya. Semoga memang benar demikian


Salam Dari Kejauhan

Kamis, Mei 23, 2019

SETELAH SEKIAN LAMA, MASIH HATIMU TEMPATKU KEMBALI

Lama tidak saling berberita.

Apa kabar setelah sekian lama?

Maaf, sejak sekian bulan yang lalu aku mendekam dalam penjara bernama Training Centre. Tanpa akses dengan dunia luar sama sekali. Lokasinya di tengah hutan dan tanpa signal. Ada pun signal akan percuma, karena semua gadget disita guna fokus tidak terbagi.

Untukmu, sekali saja apa pernah kamu merindu?

Hampir setahun berlalu, aku tidak mendengar kabarmu. Masihkah denganku hatimu, atau sudah berpindah pada hati yang lain. Entahlah, kuharap janji yang dulu kita ikrarkan masih terpatri di hatimu. Masih aku yang memiliki singgasana di sana, atau sudah tergantikan?

Semoga hatimu masih seperti yang kuharapkan.

Di hari bebasku ini, masih belum bisa kita berjumpa. Terlalu jauh jarak yang menghalangi. Cukup doaku saja yang mengantarkan rindu. Sedang temu biarlah nanti saja ketika waktu memberi kesempatan. Karena bagiku, sejauh dan selama apapun pergiku, hatimu adalah tempatku kembali


Selasa, April 03, 2018

SEBUAH PERISTIWA

Bukankah kita sama-sama ingin saling mengenal? Lalu kenapa kita sama-sama diam saat bertemu, seolah tidak ada apa-apa sama sekali? Aku tahu, kamu mengkepoi kehidupanku lewat apa saja yang kamu bisa, sosial media atau mungkin bertanya kepada yang mengenalku. Tenang saja, kamu bukan satu-satunya, aku pun melakukan hal yang sama agar bisa tahu lebih banyak tentangmu.

Aku tidak ingat kapan semuanya bermula, yang kutahu sekarang aku sangat antusias setiap kali mendengar kabar terbarumu. Walau tidak ada kemajuan dan perkembangan perihal kita tidak masalah, setidaknya aku tahu kamu masih baik-baik saja.

Aku belakangan ini ingin membuat pertemuan denganmu, tentu saja dengan mengandalkan nuansa kebetulan, karena mengajakmu bertemu langsung aku tidak cukup bernyali. Sejauh ini tidak ada yang bisa kulakukan, kecuali harap-harap yang kusemogakan untuk menjadi kenyataan meski tanpa usaha.

Bukannya aku tidak mau berusaha, aku ingin. Tapi seperti yang kamu mungkin bisa pahami, aku bukan tipe orang yang bisa bicara dengan baik saat aku menginginkan sesuatu, dan sampai sejauh ini aku juga tidak menemukan cara untuk menemuimu, tentunya temu yang tidak hanya sekedar bertemu tanpa sapa.

Kadang aku berharap pada sebuah peristiwa, apa saja, yang penting saat itu aku dan kamu ada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Aku akan memberanikan diri menyapamu. Aku tahu kamu tidak akan memulai lebih dulu, maka aku yang akan mengambil peran itu. Sebuah peristiwa, hanya itu yang barangkali bisa membuat kita menjadi manusia yang berdefinisi sebagai makhluk sosial.

Selasa, Februari 20, 2018

SALING MENGENAL BUKAN SEKEDAR UNTUK MENAMBAH JUMLAH ORANG YANG DIKENALI

Memanglah alur hidup selalu cukup sulit untuk diprediksi. Seperti kita misalnya, aku baru menyadari kehadiranmu di penghujung keberadaanku di kota ini. Kamu pun barangkali sama, baru tahu belakangan ini bahwa ada aku yang selama ini selalu diam membisu tidak jauh dari keseharianmu. Tapi tetap saja, perkenalan adalah perkenalan. Setidaknya menambah daftar orang baru yang aku maupun kamu kenali semenjak tinggal di kota ini.

Aku tidak bisa menebak, untuk apa kita saling mengenal, benarkah sekedar menambah daftar orang yang dikenali? Atau malah berperan lebih dari sekedar kenalan. Tentu saja aku dan kamu yang akan menentukannya. Tapi kita sejauh ini tidak punya alasan mengapa harus sering bertegur sapa jika tidak kebetulan sedang berjumpa.

Apa kita sedang memikirkan hal yang sama?

Tidak ada yang tahu sampai kita mendiskusikannya. Aku tidak ingin banyak berkhayal, karena sekarang keadaan menuntutku untuk menjadi seorang yang realistis. Yang kupercayai, jika kita diharuskan untuk saling berbagi, maka nanti keadaan akan memberikan fasilitasnya. Dan aku juga percaya pada satu hal lain, bahwa kita saling mengenal bukan sekedar untuk menambah jumlah orang yang dikenali. Kita saling mengenal karena kamu akan berperan dalam ceritaku dan aku akan menjadi tokoh dalam kisahhmu. 

Lihat nanti saja, apakah peranmu penting dalam alur ceritaku, dan apakah aku menjadi tokoh utama dalam kisahmu. 

Selasa, Januari 09, 2018

Menembus Hujan

Menembus hujan pernah kita lakukan. Kita berbasah-basahan, lalu kedinginan bersama. Indah jika waktu-waktu yang pernah kita lewati bersama dulu itu jika dikenang.

Waktu itu aku ingin merangkul lalu memelukmu. Dingin membuatku ingin merasakan hangatnya tubuh jika kita saling menyatu. Aku ingin kita berdua mengusir dingin bersama.

Kamu pun sepertinya sama. Kamu ingin kita berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, lalu kedua tanganmu melingkar di pundakku, dan kedua tanganku melingkar di pinggangmu.

Pada akhirnya kita melakukannya. Kita larut dalam pelukan teramat erat, dan itu adalah yang ternyaman yang pernah kurasa dan lakukan bersamamu. 

Sesederhana itu bahagia untukku jika sudah denganmu.

Maka sekarang aku bertanya, kapan kita akan dapat melakukannya lagi?

Aku rindu adegan-adegan romantis bersamamu.

Minggu, Januari 07, 2018

Kabut dan Jingga Senja

Ada kabut yang kadang menutupi jingganya senja di ufuk barat. Membuatnya menjadi nampak tidak begitu gemilang. Senja sebagai batas antara siang dan malam harusnya menghadirkan nuansa indah penenang jiwa. Tapi siapa yang akan menganggapnya indah jika yang terlihat hanya putih saja sepanjang mata memandang?

Sayang saja aku tidak punya wewenang untuk protes kepada alam. Yang disediakan alam adalah yang terindah sebenarnya, hanya saja suasana hati dan keinginan yang terus membuatnya menjadi seperti tak sesuai harapan.

Seperti senja ini misalnya. Kabut menyelimuti ke arah manapun mataku menuju. Padahal beberapa jam yang lalu panas begitu menyengat. Tidak ada yang menyangka bahwa jingga senja sebagai peralihan hari tidak akan ada, terkalahkan oleh kabut yang ternyata sore ini lebih perkasa.

Padahal aku sudah membuat rencana kecil. Aku akan duduk di balkon bertemankan segelas kopi hitam dan sebuah buku yang kemaren belum selesai kubaca. Itu jika senja ada jingganya, jika kabut seperti ini, hal terbaik yang dilakukan adalah berbaring di kasur lalu dihimpit selimut panas. Kabut selalu membawa dingin di kota ini, dan memilih memanfaatkannya dengan tidur adalah pilihan terbaik bagi manusia-manusia yang sepanjang hari lelah atas berbagai kesibukan macam aku ini.


Sabtu, September 30, 2017

Tersanjung

Wajah putihnya memerah, terbakar terserang garangnya mentari. Hanya saja senyumnya tetap merekah, masih menunjukkan aura, bahwa dirinyalah perempuan terbaik yang pernah disaksikan mata. 

Siapakah kelak laki-laki itu? Siapapun dia, maka kepadanya layak disematkan ucapan selamat teramat besar. Dialah yang nanti akan membuatku cemburu setengah mati.

Suratku kepada Tuhan, mengapa bukan aku saja? 

Sampai sekarang tidak kunjung mendapat jawaban.

Wahai kamu yang sedang kuperbincangkan dalam khayal. Pertama, maaf karena sering mengacuhkanmu. Tidak ada keberanianku bahkan sekedar untuk menyapa. Aku dilanda gugup setiap melihatmu.

Kedua, terima kasih telah meluangkan beberapa detikmu sekedar untuk memandangiku. Tidak apa, saat tatap kita beradu kamu berpaling. Karena aku juga melakukan hal yang sama. Terima kasih juga karena telah berpindah posisi, mendekat hingga berdiri hanya beberapa centimeter di sampingku. 

Kamu buat aku tersanjung walau tidak bicara sepatah pun kata. Ya, diammu saja membuat aku jadi tersanjung. Bagaimana jadinya jika Tuhan malah membuat kita saling jatuh cinta.


Jumat, September 29, 2017

Pertanian, Ilmu dengan Grade Terendah (?)




Sebelumnya mohon maaf yang teramat besar jika ternyata ada konten dalam tulisan ini yang menyinggung. Bukan maksud seperti itu, melainkan ini hanya pertanyaan yang tidak tahu kemana harus dialamatkan. Barangkali nanti mungkin ada yang bersedia untuk menjawab, atau memperbaiki pendapat-pendapat dalam tulisan ini yang dianggap kurang tepat.

Beberapa waktu yang lalu kita cukup dihebohkan dengan pertanyaan tentang kemana lulusan mahasiswa pertanian? Ya, sebagian mereka ada yang bekerja di bank, di bidang asuransi, atau di bidang apapun yang tidak ada kaitannya langsung dengan dunia pertanian. Sebagai mahasiswa pertanian, bagi saya pertanyaan demikian tentu menjadi perhatian, apalagi saya dibesarkan di lingkungan petani. 

Pertanian sering kali dianggap oleh beberapa orang sebagai bidang ilmu dengan grade terendah di antara bidang ilmu eksakta lainnya. Ini tentu tidak bisa dibenarkan begitu saja. Saya tidak setuju. Tapi hati kecil saya kadang juga harus berkata demikian melihat betapa dunia pertanian negeri ini memang masih jauh dari harapan. Dapat dilihat dari angka kemiskinan yang cukup tinggi jatuh kepada mereka dengan pekerjaan utama sebagai petani. Mungkin alasan ini yang membuat sebagian lulusan pertanian minggat dari dunianya. Dalam waktu dekat, di negeri ini bidang pertanian memang masih terlalu kecil peluangnya untuk mendapatkan masa depan cerah.

Luka, Perih, dan Pedih

Beberapa orang tetap ingin tenggelam dalam perih yang dirasanya, enggan menyembuhkan meski sebenarnya dia bisa. Biasanya ini  adalah perih perihal cinta, perihal kejatuhatian. Seberapa besar kekuatan cinta yang membuatnya bisa bertahan seolah sedang menikmati perih? 

Perih ini juga adalah tentang luka. Yang digores oleh seseorang yang dulu katanya membawa cinta. Sangat akrab dengan kebahagiaan, tapi tidak ada yang bisa memprediksi seberapa baik dia berhubungan dengan kepedihan.

Luka, perih, dan pedih. Demikian cinta tanpa landasan logika.

Lulus Di Waktu Yang Tepat

Hasil gambar untuk toga kelulusan
sumber; google.com
Barangkali salah satu hal yang paling dicemaskan banyak orang adalah waktu. Enggan ketinggalan olehnya, tapi disaat bersamaan juga sering tidak kuasa menjinakkan kelalaian.  Ada berapa banyak orang yang kecewa gegara waktu yang berjalan tidak sesuai keinginan?

Aku saja misalnya, normalnya seorang yang menuju sarjana membutuhkan waktu empat tahun untuk dinyatakan lulus. Tapi bagiku itu waktu yang terlalu singkat. Alhasil, aku masih merasakan dunia kampus yang disebut Semester 9. Mengerjakan skripsi tidak lebih menarik daripada menulis fiksi untuk diikutsertakan lomba, beberapa Alhamdulillah berkah, beberapa lagi hanya berakhir sebagai bagian dari latihan biasa.

Untung saja ada pepatah yang entah kapan munculnya dan siapa pembuatnya mampir ditelingaku. Tidak perlu lulus tepat waktu, tetapi luluslah di waktu yang tepat.

Aku masih sangsi, tapi bisa jadi ini ada benarnya. 

Ketepatan waktu adalah segalanya, karena keterelambatan akan selalu berujung pada penyesalan. 'Tidak perlu lulus tepat waktu' , adalah ungkapan yang hanya dinyatakan oleh orang-orang yang sudah merasakan pahit dan penyeselan perihal keterlambatan, tetapi mencoba menutupinya dengan berbagai alasan penghibur diri.

'Luluslah di waktu yang tepat'. Aku setuju dengan yang ini. Tapi waktu yang tepat bukan berarti lebih dari empat tahun sesuai kenormalan masa studi seorang calon sarjana. Konotasinya seperti berubah, dipengaruhi oleh kalimat pertama yang merujuk kepada masa studi lebih dari yang seharusnya. Seolah waktu yang tepat bukanlah saat berhasil menyelesaikan semua mata kuliah selama empat tahun.

Ini kesalahan, tapi aku berusaha untuk mengimaninya, mau tidak mau. Sebagai motivasi guna menyelesaikan skripsi, sebagai alasan kenapa aku masih tetap menulis prosa-prosa dan karya fiksi lainnya. Artinya, ada orang yang kadang-kadang terpaksa mengikuti pendapat-pendapat yang dia sendiri menyangsikan kebenarannya. 

Senin, September 25, 2017

Prediksi Kejadian Yang Terjadi

Hujan sudah cukup lama tidak menjadi topik bicaraku. Sejak pertemuan denganmu barangkali. Ya, pertemuan kita tempo hari sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hujan. Kita bertemu di suatu kecerahan malam. Di tempat yang gelap, hanya biasan cahaya jejeran lampu jalan yang berhasil masuk ke sana. Tapi itu agaknya sudah lebih dari cukup. Dengan itu saja aku sudah dapat melihat kemilau senyum yang kamu gambarkan di rona wajahmu.

Pertanyaanku, siapa kiranya yang beruntung menjadi pemilik senyum itu?

Setiap orang mungkin berhak mendapatkannya darimu. Tetapi pemilik, jelas hanya satu. Dia yang akan menjaga supaya cahaya senyummu tetap anggun seperti sedia kala.

Aku ingin, tapi merasa bukanlah seorang yang pantas. Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha memantaskan diri.

Jika melihat sekitar, maka kepercayaan diriku langsung sirna, berganti dengan kalimat-kalimat yang mengagungkan ketidakmungkinan. Kamu berdiri diantara orang-orang hebat yang berkelebihan. Mereka siap sedia selalu dengan itu, memengedepankan keunggulannya untuk menarik perhatian. Sementara aku, bukan seorang yang bisa kamu harapkan.

Tentunya tidak ada yang tahu. Semua yang akan terjadi nanti hanyalah berupa prediksi, sampai tiba waktunya dia terjadi. Apapun bisa menjadi kemungkinan. Bisa saja aku yang bukan apa-apa ini yang justru kelak membuatmu jatuh hati. Bisa saja esok atau lusa aku menemukan diriku sendiri dalam keadaan yang berbeda. Kejadian yang akan membuatmu bergantung padaku, tidak ada yang bisa menolaknya jika demikian takdir meminta.

Rabu, Juli 12, 2017

Kabar Dari Edmonton

Aku melihat lagi chat beberapa hari yang lalu, mengulang membacanya dari awal sampai akhir untuk meningkatkan motivasi. Ya, aku kehabisan akal bagaimana caranya supaya bisa melewati semester tua yang masih belum nampak akhirnya ini. Sebagian temanku sudah tidak lagi terlihat wujudnya mondar mandir di kampus. Tinggal aku dan beberapa orang saja. Semakin hari semakin muak melihat tulisan yang tiada habis revisinya, setiap kali konsultasi, setiap itu pula ada revisi yang harus dikerjakan. Lalu itu membuatku berpikir, apa yang sebenarnya salah dengan caraku di semester akhir ini? Mengapa terlalu susah rasanya? Aku tidak minta agar semester terakhirku ini berjalan lebih mudah, tetapi aku berdoa kepada Tuhan supaya lebih dikuatkan, supaya lebih disabarkan dalam menghadapi semester ini. Beratnya perjuangan akan menjadi modal tersendiri untukku kelak menghadapi situasi yang mungkin lebih buruk dari pada sekedar menyelesaikan tugas akhir

Malam itu aku dilanda kebingungan. Sumpek dan pusing kepala terasa, dada juga sesak tidak karuan. Tidak ada hal menyenangkan yang rasanya bisa dikerjakan. Menulis? Sudah tidak ada ide lagi untuk membuat tulisan. Mengerjakan revisi sambil berdoa bahwa ini adalah yang terakhir? Sudah kucoba, tetapi keinginan itu sendiri yang sedang tidak ada mau diapakan lagi, tidak bisa dipaksakan. Dipaksakanpun akan percuma, hasil yang akan didapat sudah jelas, adalah revisi lagi, lagi, dan lagi.

Apa dan bagaimanapun suasana hati, tidak dapat dipungkiri gadget adalah pilihan terbaik untuk mengalihkan perhatian maupun kesibukan. Gadget adalah hiburan paling sederhana namun efektif di milenium ini. Gadget adalah mood booster, gadget adalah kawan setia (kecuali ketika baterai lemah, tapi tidak ada charger atau colokan). Siapa zaman sekarang ini yang tahan tidak memegang gadget selama seharian penuh? Tidak ada.

Kembali ke topik, tentang chat yang sudah berlalu beberapa waktu yang lalu. Tidak panjang, namun ada secuil motivasi di dalamnya, sayangnya masih terlalu kecil untuk membungkam rasa malasku mengerjakan revisi. Ingin lagi aku melanjutkan chat itu. Jika gayung bersambut maka dia yang aku hubungi akan membalasnya, jika tidak, ya mungkin aku belum beruntung.

Pertama kulihat jam, pukul 00.58 tertulis di arloji yang sudah kulepas semenjak beberapa jam yang lalu. Perbedaan waktu Malang dan Edmonton sekitar 13 jam. Artinya di sana sekarang sekitar pukul 2 siang. Sejenak aku berpikir, tepatkah waktunya untuk menghubungi. Kupertimbangkan dan akhirnya tidak ada alasan kuat yang membenarkan untuk mengurungkan niat.

Selasa, April 11, 2017

Tidak Mudah Ditebak, Dan Tidak Ada Romantis-Romantisnya

Jika kau ingat dari detik ini sampai ke belakang sana saat kita bertemu pertama kali, menurutmu apa dan kapan detik teromantis yang pernah kita lalui? Jangan bertanya balik. Aku bertanya karena bingung, dan sampai saat ini kurasa tidak ada sesuatu yang begitu romantis yang pernah kita lewati. Entahlah, aku tidak begitu paham dengan yang disebut romantis. Kata orang rasanya berbunga-bunga, ketika sudah lewat dan dikenang lagi akan membuat tersenyum, lalu mengkhayalkannya. Benar demikian?

Setiap kali mengingat apa-apa tentangmu -maksudku tentang aku dan kamu, tentang waktu yang pernah kita habiskan bersama, aku selalu tersenyum saat membayangkannya. Apakah itu artinya setiap detik yang kita lewati adalah sebuah keromantisan? Tapi kamu selalu bilang, aku bukan laki-laki romantis, aku pun mengakuinya. Aku tidak merasa dekat sekali dengan romantis yang kamu dan orang-orang maksud, aku bahkan tidak kenal dengannya. Aku tidak pandai berlaku layaknya laki-laki yang membuat perempuan yang disayangnya menjadi berbunga-bunga. Tidak, aku bukan tipe yang seperti itu. Terakhir kali kamu protes, aku hanya bisa diam saja. Harus dengan kalimat yang bagaimana, aku bingung menjawabnya.

Hanya kamu juga selalu bilang, aku tidak mudah ditebak. Apa yang kulakukan selalu menjadi surprise buatmu. Katamu kamu tidak pernah bisa menerka apa yang kulakukan, terutama di hari-hari penting kita. Yang kulakukan selalu berada di luar yang kamu sangka. Apakah boleh aku menganggap laku demikian sebagai sesuatu yang romantis? Setidaknya untuk mengurangi bebanku karena protesmu yang selalu menganggap aku tidak ada romantis-romantisnya.

I L U S I

Aku tidak akan pernah bisa menyentuh perempuan-perempuan sepertimu. 

Tidak akan pernah aku dan kamu berada di satu jalur yang sama. 

Kita selalu saja akan melangkah secara  tidak beriringan. 

Sedetikpun adalah ketidakmungkinan untuk aku dapat membersamakan diri denganmu. 

Aku tidak cukup berhasil mengimajinasikanmu dalam masa depanku.


Karenanya aku mulai diam, mulai tidak bersuara, dan mulai memperlambat langkah. 

Kamu memang sebaiknya berada di depan sana. 

Jauh di sana yang bahkan punggungmu saja hanya dapat kulihat samar

Begitulah kita. . . . . .


Selama ini kita terjebak, aku dan kamu sama-sama tidak sadar

Pertemuan kita nyata, tapi tidak untuk harap dan imajinasi yang terangkai

Semuanya semu dan palsu 

Rencana yang kita buat tidak lebih dari sekedar wacana

Tidak akan pernah ada wujud nyatanya


Percuma. . . . . . . .

Sebaiknya aku berhenti menghubungimu

Pun kamu sebaiknya tidak perlu meresponku

Ini ilusi, dan selamanya akan menjadi ilusi