Selasa, Desember 13, 2016

Salah Terka

Pikirku sebelum malam itu kita adalah 2 orang dengan keyakinan yang tidak sama. Barangkali bukan aku saja yang menganggap demikian, ada juga kawan lain yang sebelumnya berpendapat sama. Pikir itu lalu runtuh setelah pertanyaan bodoh tidak sesuai tempat yang kuajukan saat kita sedang berjalan bersama beberapa orang lain, menyusuri jalan aspal selebar 3 meter dari Arena Bowling menuju warung kecil tempat mengakhiri malam.

Atas kesalahan fatalku, semoga kamu tidak merilis namaku di daftar orang yang tidak kamu senangi. Pikirku kamu adalah seorang Khatolik atau Protestan. Kontur dan topografi wajahmu menunjukkan demikian, gaya keseharianmu juga mencirikan seorang yang biasa menyenandungkan pujian kepada Tuhan di gereja. Ada garis perawakan China yang telah menyatu dengan rupa orang Melayu, menghadirkan kombinasi seperti kamu yang berdiri di sampingku. Dan adalah kesalahanku, hanya menilai dari apa yang terlihat, tanpa ingin menelusuri kepastian kebenarannya.

Kronologisnya, saat kita tinggal beberapa meter lagi tiba di warung kecil di ujung jalan. Ada yang berbicara tentang 2 gereja yang hanya berjarak 200 meter kurang lebih. Greja Protestan di sisi Utara dan Gereja Khatolik di sisi selatan. Yang bersama kita saat itu adalah 2 orang dengan tempat ibadah yang berbeda, si Pace dari Timor Leste adalah seorang Khatolik dan Kakak dari NTT adalah seorang Protestan. 

Sekedar untuk mendekatkan diri saja, sebagai alasan agar tidak terlalu banyak diam yang menguasai hari itu, kutanyakan tentang Gerejamu, dimana kamu beribadah selama berada di sini. Aku sempat shock dengan jawabanmu, cukup berhasil kata-katamu membuat air mukaku berubah seketika, untung saja malam itu cahaya lampu di setiap rumah tidak sampai meraih jalan raya, juga bulan sedang tidak penuh pantulan cahayanya, sehingga perubahannya tidak begitu kentara terlihat.

"Aku Muslim, Gi." Tersenyum kamu menjawabnya.

Aku melotot dan beberapa detik berhenti bernafas. Ternyata kamu sama denganku. Langsung aku merasa bersalah atas pertanyaan yang baru saja kuajukan. Kuhitung 3 kali aku minta maaf atas pertanyaan bodohku. Dan kamu sepertinya menjawab dengan santai, sayang saja jalanan terlalu gelap untuk aku dapat menangkap raut ekspresimu atas pertanyaan sembronoku.

Sepanjang malam aku dibuat merasa bersalah. Pernah juga sebelumnya aku melakukan kesalahan yang sama dengan keadaan yang terbalik, hanya saja agaknya kesalahan hari ini agak lebih tidak bisa ditolerir.

Beberapa kali kutangkap ekspresi di wajahmu. Bersamaan dengan itu juga aku coba memahami kesalahanku. Seperti yang sudah kujelaskan, ada perpaduan setidaknya 2 etnis yang menghasilkan rona penduduk asli Bumi Sriwijaya. Itulah yang telat aku sadari, yang berakhir dengan sebuah rasa bersalah atas pertanyaan tidak tepat sasaran.

Mohon maaf, semoga kita bertemu malam itu yang dibarengi dengan pengakraban secara tidak langsung di Arena Bowling, cukup mampu mencairkan suasana, cukup mampu juga untuk menganggap pertanyaanku sebagai angin lalu saja, pertanyaan yang tidak penting untuk dibahas lebih lanjut karena memang ada human error yang seharusnya tidak pernah terjadi. 

BTW, salam kenal dan semoga kesalahterkaanku bukan alasan untuk kamu tidak lagi mau mengenalku. 

Senin, Desember 12, 2016

Menikmati Dingin Di Malang [2]

Masih harus kembali menyesuaikan diri. Hans sudah kurang biasa lagi dengan udara kota Malang yang sejuk, bahkan dingin di beberapa waktu. Menggigil badannya setiap kali menyentuh air untuk sholat subuh, bulu-bulu tangannya selalu berdiri, gemeretak giginya yang beradu terdengar jelas.

[PART 2]

Hans memutuskan untuk menjadi bagian dan tinggal di Kontrakan Ivan hingga akhir semester ini, 4 bulan lagi kurang lebih. Dengan membayar beberapa uang untuk keperluan rumah, dan bentuk patungannya membayar sewa rumah, Hans resmi menetap di sana. Ivan dan yang lain tidak keberatan sama sekali, bahkan atas saran mereka Hans akhirnya memilih tinggal.

Ini memasuki minggu ke 3. Rutinitas ke kampus tidak begitu banyak. Tidak ada lagi kuliah, yang ada hanya konsultasi dan bimbingan dengan dosen terkait skripsi. Atau ke kampus hanya apabila rindu dengan soto ayam kantin dan sup buah.

Tidak seperti biasa, setelah subuh ini Hans tidak kembali membaringkan badan ke kasur. Sudah ada janji dia dengan Elsa minggu pagi ini ke CFD, dan dalam rencana, Ivan, Wed, Ambon, Fahri, dan Nusa juga akan ikut. Ivan sudah bangun dan sudah terhidang segelas kopi di depan tv tempat ia duduk. Wed sudah pasti masih tidur, hanya keajaiban yang membuatnya bisa bangun sepagi ini. Ambon dan Fahri kemungkinan sebentar lagi juga akan keluar kamar. Nusa, orang itu gampang. Dia hanya akan mengikut saja. Di suruh bangun, dia langsung bangun. Disuruh siap-siap, segera dia lakukan.

"Jadi?" Tanya Ivan bersamaan dengan hisapan pertama rokoknya.

"Jadi, aku udah dikabarin Elsa tadi." Jawab Hans.

"Anak-anak Basecamp juga katanya pada mau ikut."

"Sejenak Hans agak kaget, tapi berusaha dibiasakannya ekspresi wajahnya."

Ini pertama kali Hans mengajak Elsa keluar. 2 Minggu ini mereka memang tiba-tiba jadi dekat, lebih dekat dari sebelum Hans berangkat ke Sumatera dulu. Hans bahkan pernah beberapa kali berangkat ke kampus bareng Elsa.

Beberapa menit berikutnya, Ambon nimbrung yang juga diikuti Fahri beberapa saat kemudian. Nusa diteriaki Ivan, sementara Wed yang alarmnya sudah berteriak berkali-kali tidak juga terpisah kelopak matanya. Adalah tugas Nusa untuk membuat Wed tersadar. Tanpa belas kasihan dihantamnya pinggang Wed.

"Gggak bangun kalau gak gitu." Alasan Nusa ketika Ambon atau Ivan menyarankan cara yang lebih manusiawi.

#######################

Jam 6 kurang sedikit mereka berangkat, Elsa sudah menunggu di depan rumah. Masih agak pagi memang, tetapi ini sudah perhitungan dari Fahri yang sangat meghargai waktu. Jarak dari rumah ke Jalan Ijen tempat CFD sekitar 10 km. Dengan kecepatan yang diperkirakan hanya 30-40 km/jam maka waktu yang dihabiskan adalah kurang lebih 20 menit. Belum lagi ditambah beberapa kali melewati lampu merah, memilih parkiran dan sebagainya, total mereka akan tiba di jalan Ijen pada pukul setengah Tujuh.

"Hitungan yang berkelas." Wed mengapresiasi dengan kedua jempol tangannya.

"Temenmu ganok sing melu Sa?" Tanya Nusa kepada Elsa, merupakan yang paling cantik diantara mereka karena satu-satunya perempuan.

"Ada sih Mas, yang mau CFD juga."

"Yo wes, ajak gabung ae Sa. Kali ada yang nyantol sama Fahri, kasian jomblo sejak lahir."

"Alensanmu Nus, kayak kamu udah laku aja."

Seperti biasa, Elsa hanya membarengi obrolan mereka dengan senyum. Elsa kenal hanya dengan Hans, sementara dengan yang lain, hanya Nusa yang hampir dapat dikenal baik, itu pun baru akhir-akhir ini karena sama-sama orang Jawa.

###############

"Bener kan Wed."

Fahri menunjukkan jam di pergelangan kirinya kepada Wed. Dilihat Wed jam itu menunjuk angka 06.27. Setengah tujuh kurang sedikit, yang artinya hitungan Fahri tidak meleset. Mereka kemudian berjalan ke arah jalan Besar Ijen, mulai tenggelam dalam rombongan-rombongan kecil yang sudah datang lebih dulu.

"Anak-anak Basecamp udah pada di sana." Ivan menunjuk bangku di ujung jalan. Tidak terlihat memang, terhalang punggung-punggung yang bergerak kesana-kemari.

"Ada Putri?" Tanya Ambon.

Ambon dari semester awal sudah tertarik pada Putri. Tetapi sampai detik ini sama sekali tidak terlihat usahanya. Dia bahkan hanya menemui Putri dalam keadaan rombongan seperti ini. 

Dari ujung sana, mulai terlihat beberapa perempuan duduk mengarahkan pandangan pada mereka, lalu berteriak dan melambai. Di balas lambaian oleh Ivan dan Ambon. Fahrid an Nusa tersenyum. Hans perlahan sekali memperbesar jarak dengan Elsa, sementara Elsa menunduk, berjalan memelototi aspal yang diinjaknya.

Ada 4 orang yang menunggu mereka. Dan bagi Elsa, hanya satu yang menjadi fokusnya. Faza. Dia tidak kenal, tapi tahu kalau itu Faza. Elsa tiba-tiba merasa menjadi aneh. Merasa menjadi orang lain, orang yang sangat lain. Agak timbul sesalnya mengapa ikut Hans dan kawan-kawan, harusnya dia memilih ikut Dina saja. Tidak dia pikir kalau ternyata ada pertemuan macam ini. Yang dipikir Elsa kemaren hanya jika berangkat bersama Hans dan kawan-kawan maka dia tidak harus berangkat sendirian. Tetapi jika janjian dengan Dina, maka dari rumah ia sendirian dan hanya bertemu di CFD saja, pulang pun nanti juga sendirian. Dina dan kawan-kawannya tinggal di dekat kampus yang notabene hanya berjarak tidak sampai 2 km. Sementara Elsa, rumahnya di ujung kota. 

Keempat orang yang sudah menunggu, memandang Elsa agak lama, membuat Elsa semakin ciut dan tundukannya semakin dalam, sebentar saja dia memperlihatkan wajahnya untuk sekedar menyapa, lalu disembunyikannya lagi. Bukan karena dia, hanya Elsa tahu dia dalam posisi yang kurang baik. Elsa paham, anggapan keempat orang itu yang mengajaknya ikut adalah Hans. Kenyataannya memang begitu apa boleh buat.

Faza, bagaimana dia akan menghadapi Hans? Bagaimana Faza akan menghadapi dirinya? Dan bagaimana pula Hans akan menghadapi Faza? Timbul caruk maruk tidak jelas dalam kepala Elsa. Timbul rasa cemburunya. Elsa sadar betul bahwa hubungan Hans dan Faza belum berakhir sepenuhnya. Tidak mungkin apa yang terjadi selama 3 tahun lebih akan lupa begitu saja. Kini Elsa menyesali betul keputusannya tadi malam, memilih untuk tidak ikut Dina, dan memilih bergabung dengan Hans adalah kesalahannya. Dan Hans pun tidak memberitahunya kalau ternyata pagi ini mereka akan bertemu Faza juga.

Bersambung. . . . . 

Minggu, Desember 11, 2016

Menikmati Dingin di Malang

[PART I]

Malang sudah larut dalam dingin ketika Hans masuk kota dari arah Arjosari. Belum dapat dilihatnya apa yang berubah dengan Malang setelah 8 bulan dia tinggalkan. Travel yang Hans tumpangi berbelok ketika tiba tepat di stasiun kota Malang, tempat yang paling menjadi kenangan baginya.

Hans bahkan tidak tahu kemana ia minta supir untuk mengantarkan. Dalam rencana dia akan menumpang menginap di rumah kontrakan Ivan, kawannya di awal kuliah dulu. Mereka ada 5 orang, dan semuanya Hans kenal cukup dekat. Fatalnya, Hans lupa meminta alamat rumah Ivan, sama sekali tidak dia pertimbangkan delay pesawat dari Jakarta yang membuatnya harus tiba di Malang sekitar pukul 12 lebih sedikit, terlambat 7 jam dari jadwal yang seharusnya.

Untung saja, Wed masih di luar. Satu-satunya anak yang bisa Hans hubungi malam itu, yang membuatnya tidak harus mengemper di jalanan hingga pagi tiba.

"Turun saja di depan bundaran pesawat."

Senyum kecil Hans muncul di sudut bibir, bersemangat dia memberi tahu supir kemana tujuan pastinya.

"Bundaran pesawat ya Pak."

20 menit berikutnya Hans tidak lagi berada di dalam travel. Kini ia sendiri berdiri di pinggir jalan tepat di depan bundaran. Sepi, di warung ujung sana hanya tampak beberapa orang yang masih duduk berhadapan dengan gelas kopi mereka yang hampir kosong. Dulu warung itu adalah favoritnya dan Ivan menghabiskan malam, di sana juga dia bertemu dengan Wed. Dikiranya Wed masih di sana, sehingga di suruh turun di bundaran saja.

Dipandanginya, satu-satunya bangunan yang masih menyisakan orang, yang masih terang dan masih ada aktifitas. 

"Wed." Sapa Hans ketika tiba di depan warung dan dipastikannya yang berbaju hitam dan topi terbalik itu adalah kawan yang akan ditumpanginya.

Seperti setiap pertemuan, semua diawali dengan jabatan tangan. Entah kebiasaan semua mahasiswa, atau hanya mahasiswa Malang saja.

15 menit berikutnya Hans sudah berada di motor Wed, dan mereka meluncur ke Jalan Ikan-ikan.

"Aman Hans?"

"Udah kangen Malang parah."

Sudah tidak ada sungkan meskipun Hans baru pertama kali masuk ke dalam rumah Wed dan kawan-kawan.. Selalu sama, berantakan dan abu rokok bertebaran di mana-mana.

Wed menyuruh Hans masuk ke kamar di ujung. Kamar Ivan yang ternyata sedang pulang kampung ke Bandung.

############################


Sore, hampir selalu rumah itu ramai. Dan Hans sedang berada di antara pemilik rumah kecuali Ivan. Wed, Fahri, Ambon, dan Nusa sedang menyambut Hans dengan menikmati oleh-oleh khas Sumatera Selatan dari Hans.

Asap rokok mengepul diantara cerita mereka. Hanya Nusa yang tidak begitu akrab, dia orang yang baru 2 semester terakhir ini dikenal Hans. Tetapi Nusa orang yang terbiang supel. Tidak butuh waktu banyak untuk mengakrabkan diri sama seperti kepada yang lain.

"Anak 2014 yang dulu deket sama kau siapa, Hans?"

"Yang mana?" Jelas Hans bingung menjawab pertanyaan Ambon. Belum mengerti dia apa yang sedang di bahas Ambon.

"Yang itu lho, sering kau cerita ke Ivan."

"Elsa?" Hans tidak begitu yakin, dia masih berpikir nama lain saat menyebut nama itu.

"Nah iya, rumahnya itu di depan."

Tanpa aba-aba, semuanya melongo ke pintu yang terbuka setengah. Jelas orang yang mereka sebut tidak ada, pintu rumahnya di seberang jalan juga tertutup.

"Masih deket Hans?"

"Udah gak terlalu Ri, udah 8 bulan gak di sini juga."

"Tunggui aja sore jam 5 an di depan, dia balik kampus."

Hans diam saja, tetapi sudah bertekad untuk sore ini menghabiskan waktu di teras rumah, mengikuti saran Fahri.


####################

"Elsa."

Seseorang dipanggil Hans dari balik pagar rumah. 

Yang merasa terpanggil menoleh, Berhenti dulu dia sejenak tepat di depan pagar rumahnya yang setengah terbuka. Yang perempuan itu lihat Hanya Hans. Tidak ada orang lain di situ, lagi pula ini menjelang magrib. Sudah barang pasti kompleks itu menjadi perumahan yang sangat sepi.

"Hans."

Agak lama Elsa menjawab. Dia pastikan dulu bahwa yang dilihatnnya adalah Hans.

"Kok bisa di sini?" Lanjut Elsa.

"Numpang. Dari mana?"

"Dari kampus."

Terasa sekali oleh Hans bahwa pembicaraan mereka sangat kaku. Maklum saja, semenjak Hans terbang ke Sumatera 8 bulan yang lalu, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Juga sebelumnya mereka tidak sempat untuk cukup akrab. Hanya sempat dekat beberapa bulan saja, dan itu hanya lewat chattingan, senjata mendekati perempuan zaman itu.

"Aku masuk dulu ya."

Elsa akhirnya mengundurkan diri setelah didengarnya Azan Magrib berkumandang di Mushola di utara komplek.

"Dia gak manggil Kak, apa Mas, apa Bang gitu Hans?" Ambon ternyata mendengar percakapan Hans dan Elsa, tidak sengaja tentu saja.

"Nggak."

Ambon juga tidak ambil pusing sebenarnya, pertanyaan itu hanya untuk menyapa Hans saja.


#########################


"Hans, hari ini gotong royong ya."

"Tumben."

"Ini perintah wajib Pak RT, liat aja rumah di sini pada bersih."

Sebagai tamu Hans menurut saja, diambilnya gunting rumput lalu dipangkasnya dahan Beringin hiasan di depan rumah yang sudah mulai tidak beraturan bentuknya. Fahri mengambil sabit, dibersihkannya halaman di pojok kiri yang sengaja tidak di semen untuk menumbuhkan bunga. Wed, Ambon dan Nusa juga tidak ketinggalan. 

"Seng bersih yo le."

Seorang ibu yang kebetulan lewat menyapa, tertarik melihat 4 mahasiswa minggu pagi sudah gotong royong. Bu Ani, itu Ibunya Elsa.

"Nggeh Bu." Nusa yang satu-satunya orang Jawa diantara mereka menjawab.

"Dari mana sampean Bu?" Lanjut Nusa dengan bahasa Indonesia yang sangat medok.

"Oh iki." Bu Ani memperlihatkan kresek hitam yang dibawanya.

"Opo iku?"

Nusa tidak ingin tahu, tetapi sudah terlanjur bertanya karena saraf sensoriknya yang terlalu aktif. Lagipula dia sebenarnya juga tidak terlalu peduli.

##############


Hampir dua jam mereka di halaman, terakhir ditutup dengan duduk bersama di teras. Ambon baru saja menghidangkan kopi hitam, minuman rutin mereka setiap pagi. 

"Kosong aja gak ada gorengan atau roti?"

"Ada di tasku, ambil gih."

"Ah nantilah." Ambon menolak masuk ke rumah lagi, sementara Hans juga enggan mengambil roti di tasnya.

Duduk di teras adalah kebiasaan mereka. Aroma udara di teras itu sejuk, pengaruh bunga mawar dan melati yang campur aduk, juga bunga-bunga lain milik tetangga yang cukup tajam harmnya. Dan juga pemandangan sore dari teras rumah mereka begitu menarik. Dapat langsung disaksikan matahari terbenam diantara gelombang bukit-bukit yang mengelilingi Malang.

"Mas."

Seseorang memanggil di seberang sana. Tidak jelas memanggil siapa, yang pasti arahnya adalah kepada Hans dan kawan-kawan. 

"Ini ada gorengan. Sini ambil."

"Nah tuh Wed, yang tadi kamu tanyain."

Wed memang baru saja menanyakan gorengan, tetapi untuk berdiri menjemput gorengan yang ditawarkan, terlalu berat pantatnya terasa.

"Hans, kali aja bisa liat Elsa, sekalian PDKT sama camer." Ucapnya.

"Ah alesan lah." Hans tidak menolak, dia lalu berdiri dan berjalan ke seberang.

"Baru ya Mas di sini, kok gak pernah liat?"

Pertanyaan Bu Ani memaksa Hans untuk tertahan beberapa menit di sana, mengakibatkan kedatangan gorengan menjadi terlambat.

"Iya Bu, saya baru selesai magang."

"Dimana?"

"Di Sumatera Selatan."

"Adohee."

Hans tidak menjawab lagi. 

"Ini bawa ke sana. Buat nyemil abis kerja."

Diambilnya piring yang berisi gorengan lalu dibawanya. Hans berterima kasih, tetapi dia tidak melihat Elsa seperti harapannya.

"Oh iya, sek Mas."

Hans berbalik.

"Elsa, bawa agar yang di meja ke sini."

"Iki Mas, ada tambahan lagi."

"Aduh, banyak amat Bu." Hans merasa sungkan sendiri.

Bu Ani masuk ke rumah, bersamaan dengan itu Elsa muncul dengan sekotak agar di tangannya.

"Banyak bener, jadi gak enak."

"Gapapa Mas. Bawa aja, penghilang capek abis kerja" Suara Bu Ani terdengar, tetapi orangnya sudah tidak kelihatan.

"Ekhhmm." Wed berdehem kecil, tapi suaranya terdengar sampai ke telinga Elsa.

"Yuk gabung ke sana." Hans menawarkan Elsa.

Elsa tidak menolak. Diikutinya langkah Hans dari belakang. Tidak sampai semenit mereka sudah tiba di seberang lagi.

"Apa kata camer tadi Hans?"

Ambon langsung menyambut Hans dan Elsa dengan pertanyaan Dahsyat, menyambut kedatangan gorengan dan agar lebih tepatnya. Sementara Wed mematikan rokoknya melihat Elsa datang. Nusa menawarkan kopi yang sudah jelas ditolak Elsa, Fahri diam saja. Sementara itu Elsa tersenyum, berniat menjawab pertanyaan Ambon tapi tidak jadi, kemudian memilih duduk di samping Hans yang berhadapan dengan Fahri dan Nusa.

"Ngapelmu deket berarti ya Hans." Wed mulai membuka obrolan dengan melibatkan Elsa di dalamnya.

"Yo iyo to, sebrangan kok, ganok sak menit nyampe." Justru Nusa yang menyambut pertanyaan Wed kepada Hans dengan bahasa Jawanya.

"Hans, tinggal di sini aja deh. Biar kita sering-sering dapat berkah." Ucap Fahri meraih agar dan menjebloskan ke mulutnya. 

"Iya bener tuh, sekalian ngapelmu gak butuh biaya Hans", Ambon ikut meramaikan obrolan.

Elsa tersenyum mendengar percakapan mereka, yang membicarakan dia dan Hans, yang sesekali diiringi tawa dan candaan, yang bahkan ia juga ikut tertawa dibuatnya. Tanpa disadarinya, Elsa menyimpan harap dari obrolannya dengan Hans dan kawan-kawan. 


Bersambung. . . . . . . .

Kamis, Desember 08, 2016

Peluang Nol Koma Sekian Persen

Ternyata semakin ke sini, semakin banyak anak tangga yang jadi pemisah. Kamu terus menanjaki hingga semakin dekat dengan puncak. Sementara aku, boleh dikata tidak beranjak dan hanya jalan di tempat. Semakin ke sini aku semakin tidak yakin. Menaklukkanmu adalah hal yang rasanya hampir mustahil. Berkaca pada keadaan, aku bukanlah seorang yang dapat menggapaimu dengan usha-usaha yang sangat biasa. Tidak lagi seperti beberapa waktu yang lewat, ketika aku dan kamu berada pada satu anak tangga yang sama. 

Melihat yang sekarang sedang terjadi, rasanya tidak lagi mungkin untuk mendapatkan apa yang aku damba. Aku bukan daya tarik, bukan juga sesuatu yang berefek. Ada dan tidak ada akan sama saja.

Ibaratanya, hari ini aku melihatmu dari jarak ratusan meter. Beberapa meter dari sisimu, berdiri orang-orang yang lebih piawai dalam banyak hal, termasuk dalam hal menaklukkanmu barangkali. 

Jika perlahan aku coba melangkah mendekat, masihkah berkesempatan untuk berjuang? Adakah peluangnya barang nol koma sekian persen saja?

Semoga saja kamu tidak menolak kenyataan, bahwasanya kita pernah dekat dan kamu pernah kubuat nyaman. Dapatkah hal itu kita teruskan lagi? Jika aku dapat memotong jarak tempat sekarang kita berpijak, adakah kemungkinan untuk aku dapat menjadi seorang yang paling sering muncul di pikiranmu?

Kota Tambang

Hasil gambar untuk tanjung enim
source image: google.com

Tanjung Enim 08 Desember 2016 04.25 am

Sudah masuk waktu subuh dan aku masih di depan laptop, mengarang cerita selama berada di kota tambang. Tidak, bukan cerita tentang tambang, tentang magang, ataupun tentang penelitian yang kulakukan.

Tentang seseorang, seorang mahasiswi yang tidak sengaja bertemu denganku ketika kami sama-sama berada di pool perhentian. Satu berkah kecil ditengah-tengah kepanikanku meghadapi penelitian yang masih belum jelas ujung pangkalnya. 

Ini tentang kamu, yang ternyata cukup mampu memberikan daya tarik. Menjadi satu dari sedikit alasan mengapa aku harus tinggal lebih lama. Tidak. . . . . tidak. Aku tidak berpikir jauh. Hanya saja sebelum bertemu denganmu tempo hari, kota ini bagiku tidak begitu bersahabat. Bukan karena kehidupan yang keras, melainkan karena bagiku ini kota yang sepi. Dan kamu adalah utusan yang muncul untuk menghapus hari sepi yang menjebakku.

Kini, kota yang tidak begitu bersahabat berubah menjadi kota yang menyenangkan. Pertemuan denganmu membuka jalan untuk berkenalan dengan orang yang lebih banyak. Terima kasih atas hari yang kemaren. 

Untuk sekedar ucapan terima kasih, boleh aku mengajakmu keluar sehari saja? 

Tidak perlu risau, aku tahu kamu was-was dengan ajakan ini. Sampai detik ini aku masih dapat membaca situasi. Akan jadi boomerang jika kita menghabiskan malam meskipun hanya beberapa jam saja. dan aku kesini tentunya bukan untuk itu. Cukup kamu tahu saja, bahwa aku mulai senang melihat kamu tersenyum, aku suka mendengar cara bicaramu, dan aku senang setiap kita bertemu, bahkan aku senang jika kita sekedar berbalas chatting saja.

Rabu, Desember 07, 2016

Kelak

source image: google
Selalu kuadukan kepada senja, bahwa aku tidak ingin sesaat saja muncul dan kemudian terlupakan. Aku ingin tinggal, ingin menjadi penghuni tetap di hatimu. Temu kita waktu itu ternyata berbekas cukup dalam. Menghadirkan kenangan di masa ini. Kapan lagi kita akan dijumpakan? Aku rindu dan jatuh hati pada keramahanmu, aku takluk pada senyum sederhanamu. 

Kau tahu aku bukan siapa-siapa, bukan seorang yang dapat unjuk diri untuk menampilkan satu saja hal hebat. Aku bahkan tak bisa banyak berbuat, sederhana dan sangat biasa. Harapku saja yang terlalu pongah, terlalu berani memimpikan kamu yang selalu dikelilingi orang hebat, yang siapapun di antara mereka dapat kamu tunjuk untuk mengisi pikiran malammu.

Biarlah, tidak masalah jikalau sekarang di sisimu yang berdiri adalah orang-orang hebat dengan banyak keahlian. Tetap saja suatu saat, ketertarikanmu akan menuju ke arah sorot mataku. Aku yang kelak akan menaklukkanmu. Aku berusaha, dan aku melibatkan Tuhan dalam usahaku. Tinggal aku berkoordinasi dengan waktu, mengatur temu kita selanjutnya. Temu yang akan menjadi titik awal bahwa kita adalah insan yang akan saling mengisi.

Peracik Senyum

Agaknya kamu adalah Ibu bagi mereka. Kamu adalah sesuatu yang jika tidak ada, membuat mereka tampak sangat berbeda. Kamu salah satu motor yang membuat mereka bergerak. Ya intinya kamu penting bagi mereka.

Hari ini, atau mungkin beberapa hari lagi, dalam waktu dekat sebut saja, kamu akan menjadi seorang yang lebih paham dengan dirimu. Embanan tanggung jawab yang kamu pikul setahun terakhir, akan menjadi kenangan tersendiri, tidak saja bagimu, tetapi bagi mereka yang telah melibatkan kamu di banyak hal.  

Dari sini aku ucapkan selamat, bahwasanya tanggung jawab itu berhasil kamu atasi. Dan kamu akan menjadi seorang yang selalu mereka elukan di banyak kesempatan suatu hari nanti. 

Demikian mukadimahnya. . . . . . . . . . . . .

Sekarang, masih ingat aku?

Sisihkan waktumu sejenak, mengingat orang-orang tidak penting yang pernah tampil di depanmu. Boleh jadi orang tidak penting inilah yang kelak akan menjelma menjadi peracik senyummu yang paling masyur. Kamu sudah tidak dikejar tanggung jawab lagi, aku rasa ada sedikit waktu yang dapat kamu sisihkan.

Oke, jika kamu berkenan, mari kita tarik waktu ke beberapa tahun silam. Mulai dari pertama kali kamu mengenalku sampai detik ini, sampai namaku sudah tenggelam diantara kesibukanmu.

Dengan waktu yang terus berlalu, dengan kesibukan dan rutinitas kita yang berbeda, dengan segala bentuk ketidaksamaan aku dan kamu, aku masihlah seorang dengan kata hati yang tidak berubah. Abaikan saja jika pengakuanku ini membuatmu risih. Kamu sedang tinggi dan sedang berada di puncak popularitas. Takut kalau-kalau aku muncul hanya sebagai perusak popularitas saja. 

Aku hanya minta izin, apakah detik ini dan sampai seterusnya, aku masih diperbolehkan untuk tetap jatuh hati?