Selasa, Maret 08, 2016

Badai Doa

Adakah namaku terselip dalam rangkaian doamu yang teramat panjang itu? Aku yakin kamu sudah menyusun doa untuk hidupmu ke depan, dan berdoa untuk orang-orang yang menyayangimu. Tetapi aku, yang bukan siapa-siapa bagimu, adakah sekali saja muncul namaku dalam gerak bibirmu saat berdoa di sana?

Aku hanya dapat tersenyum, menyaksikan keberadaanmu dari selembar foto. Jelas aku saat ini tidak bisa melakukan apa yang kamu sedang kerjakan. Kamu adalah seorang yang beruntung, yang bahagia dari sisi dunia. Dulu aku masuki kehidupanmu, nyatanya hanya untuk membuatmu menjadi seorang pembenci.

Kulihat lagi kolom chat lama, bahwa dulu kita tertawa namun sekarang tidak lagi bersapa. Kusentuh satu barangmu yang masih tertinggal. Satu-satunya alasan yang kelak akan membuat aku kembali bicara denganmu.

Biarlah hujan dan badai datang dulu, menyapu bersih semua kenangan dan alasan penyebab kita tidak bisa bersama. Berdoalah agar badai itu tak sampai menghapus cinta.

Senin, Maret 07, 2016

Casual Ladies

image source: sofyandanu.blogspot.com
Dalam banyak hal, kesederhanaan selalu membuatku jatuh cinta. Entah apa istimewanya, pesona dan kesan sederhana yang melekat selalu menghadirkan pikatan yang tidak biasa. Seorang mahasiswi Sastra Inggris menjadi daya tarik yang membuat malam ini terasa panjang untuk sekedar dibawa beristirahat di singgasana malam.

Tidak banyak pujianku untuk meninggikannya. Dibandingkan mahasiswi sastra dan budaya yang lain, jelas dia kalah jauh tak terkira. Mungkin seulas senyum di bibir tipisnya saja yang menjadi keunggulan di samping kulit putih bersihnya yang mulus. Satu hal lagi selain kesederhanaannya dalam berpenampilan, dia terkesan enak diajak bicara. Apapun topik yang kuajukan, dapat ditanggapinya tanpa ada kesan keterpaksaan dalam menanggapi. Aku memanggilnya 'Casual Ladies'. Responnya hanya berupa secuil senyum ikhlas jika sudah panggil begitu.

Pernah ketika itu aku hampir lupa bahwa pernah mengenalnya. Setahun lamanya kami tidak berjumpa. Dia juga tak terlalu aktif di sosial media sehingga update hari-harinya sama sekali tidak menyambangi berandaku. Lalu, gazebo besar kampus membuat kami bertemu malam itu. Di depan Photobooth aku melihatnya, berdiri dengan gaya yang sedikit dibuat kocak yang diabadikan temannya melalui kamera.

Dia, perempuan sastra istimewa nan sederhana. Malam itu tidak banyak kata tercipta. Hanya sekedar saling menyapa, tentunya dengan iringan senyum semanis madu dari bibirnya. Ya, itu saja kurasa. Tidak ada alasan yang cukup atas sesuatu yang perlu dibicarakan, jika pun ada pasti lidah sudah kaku terlebih dahulu. 

Minggu, Maret 06, 2016

Awan dan Topik Penelitian

Image source : google
Masih tidak habis pikir sampai detik ini. Berulangkali kucoba menengadah menatap langit, kiranya Tuhan ada memberi pesan melalui awan-awan di atas sana. Nyatanya tidak. Tak ada awan sama sekali. Langit biru sedang merajai hari bersama teriknya mentari.

Dian menyapaku setengah jam kemudian. 

"Wajar saja Gi, kamu gak dapet topik. Kerjaanmu nulis ginian terus."

Ya, saat itu aku baru saja mengeluarkan laptop dan menulis. Menulis apa saja yang sedang hatiku rasakan, yang membuatnya sesak, yang membuatnya plong, atau yang membuatnya merasa lebih santai dan tenang.

Dian melongo melihat tulisanku. Diam beberapa saat untuk membaca dengan serius. Lalu dia tersenyum, mendekatkan posisi duduknya padaku. Bahunya setengah dia sandarkan. 

"Tokohnya kayak aku ya."

Dian tersenyum manis sekali. 

"Kenapa dulu gak ambil sastra aja?"

Ini pertanyaan berulang yang tidak tahu lagi yang keberapa, sudah terlalu banyak dan sering pertanyaan yang sama muncul. Tetapi pertanyaan Dian kali ini hanya berupa monolog, tidak menagih jawaban karena sudah pernah kuceritakan alasannya.

Sekali lagi aku menatap langit. Berharap sekali lagi agar Tuhan menitipkan pesan melalui awan-awannya. Kubiarkan Dian bersandar, kuabaikan dia sementara. Saat ini dia tidak lebih penting dari awan. 

Awan yang menginspirasi, begitu kutulis di blog pada postingan ke 4 di bulan ini. Walau nyatanya tidak satu pun kata yang dilukiskan awan agar aku segera menemukan topik penelitian.

Sabtu, Maret 05, 2016

Bius

Imgae Source : google
Seperti itukah sinyal jawaban yang kamu layangkan? Masih dalam bentuk sikap bukan kata, tampak sekali kamu begitu angkuh kini, tidak lagi mencerminkan bahwa kita dulu adalah hati yang pernah saling berharap. Kamu diam dan terus melangkah, sedikitpun tidak mengarahkan pandang kepadaku yang jelas memberikan isyarat imgin bicara. Tidak masalah meski hanya sejenak, tetapi tampaknya kamu lebih memilih untuk benar-benar mengakhiri.

Perlu kamu ketahui bahwa ketika tak sengaja bertemu denganmu, dadaku masih bergetar, menunjukkan bahwa perasaan yang sekarang tidak ada ubahnya dengan dulu saat kita pernah berpikir untuk bersama. Namun sekarang, getar itu bercampur sesak karena sedetik pun aku tidak lagi ada dalam pikiranmu. Aku telah lenyap, dan mungkin sudah tergantikan dengan seorang yang menurutmu lebih baik.

Aku bisa terima jika kamu memilih yang lebih baik. Adalah satu kewajaran jika seorang Hawa memilih Adam yang akan membuatnya merasa aman dan terlindungi. Tetapi untuk hilang begitu saja, apakah aku setidakpenting itu?

Mungkin saat ini aku tidak bisa berpikir logis karena masih tersengat cinta yang belum ada biusnya. Masih ada harap yang kadang timbul terutama saat melihatmu dari kejauhan. Ya, aku selalu memperhatikanmu. Tanpa kamu sadari, tanpa kamu ketahui, barangkali setiap gerak gerikmu tidak pernah lepas dari sorot mata dan pandanganku. Jujur saja itu sangat menyiksa karena hanya mata yang mampu menatapmu, sementara lidah tak sanggup bicara dan hatiku tak mampu menaklukkan hatimu.


Rabu, Maret 02, 2016

Kopi Dari Ayah

Source image: google
Ayah adalah pecandu kopi, membuat aku ikut terseret pada laku yang sama. Kopi pagi dengan kepulan asapnya adalah awalan sempurna untuk memulai hari. Seruput kopi panas memang tidak melegakan dahaga, tetapi sentuhannya di kerongkongan membawa pada nikmat yang mendalam. 

Dalam kesepian, kopi adalah teman setia. Tak perlu ditemani sebatang rokok, ayah tidak pernah mengajarkan untuk itu. Cukup kopi saja karena itu sudah lebih dari segalanya. Kepulan asapnya jauh lebih indah daripada kepulan asap rokok yang muncul dari balik bibir dan kedua lubang hidung. Aromanya pun jauh lebih menusuk rasa kenikmatan. Duka, kecewa, dan sedih. Selagi ada kopi semua akan baik saja. Memang tak menghilangkan secara sempurna, tetapi mampu meredakan gelisah. Menenangkan saraf-saraf di jiwa.

Ayah mengajarkan cara hidup melalui seduhan kopi. Tidak dijelaskannya, karena yakin anaknya bisa menangkap setiap makna yang tertera. Tidak perlu untaian kata, suara denting sendok dan gelas diantara air panas sudah menjawab semuanya. 

Selasa, Maret 01, 2016

Tidak Sengaja

archive.kaskus.co.id
Ketika ketidaksengajaan mempertemukan kita, apakah kamu yakin ada sesuatu yang lain yang sebenarnya telah terencana? Bahkan jauh sebelum kita berkesimpulan, Tuhan sejatinya telah memantapkan perhitungannya bahwa di titik yang telah Dia tentukan kita akan menatap dengan satu rasa yang sama. Hanya saja jiwa, hati, perasaan, dan logika kita merespon dengan cara yang tidak selaras.

Mungkin saja kamu merasa biasa dengan rencana pertemuan kita, kamu anggap tidak sengaja karena kita secara kebetulan memulai langkah di detik yang sama, mengarah ke arah yang sama, lalu berhenti di tempat yang sama pula. Sebelumnya sudah sering kutekankan, tidak ada kebetulan dalam kamus kejadian dalam hidup dunia. Semua yang awalnya aku dan kamu anggap tidak sengaja dan tak terduga pada dasarnya merupakan sebuah rencana, bukanlah aku dan kamu yang membuatnya. Entah manusia, entah alam, entah hujan, entah angin, entah siapapun juga.

Sebuah maksud yang kadang tidak tersampaikan saat kita bertemu. Bukan tidak ada, kadangkala waktu menjadi alasan agar kita tidaklah kehilangan asa untuk tetap saling menyapa. Pertemuan pertama tak akan pernah menyampaikan maksud serta alasan utama mengapa kita dipertemukan. Kita dibiarkan sejenak bermain dengan waktu, megendalikan sendiri permainan-permainan dunia fana.

Komentar Dan Selamat


Hari ini kita tampil agak berbeda. Kita sama-sama berlaku dengan sedikit tidak biasa. Dan kamu tentu tahu apa yang aku maksud. Kita sama-sama menghasilkan daya tarik antara satu sama lain. Tidak disengaja, tetapi penampilan hari ini telah membuat kita saling bertatap agak lama. Aku bisa membaca pikiranmu bahwasanya ada sedikit senyum dalam hatimu saat memandangku, dimana aku tidak dapat menaksir maknanya. 

Tentang kamu yang lain dari biasanya. Maaf jika aku berkomentar karena sebenarnya aku tidak punya hak untuk itu. Tetapi sedikit masukan mungkin akan berharga di suatu saat nanti untuk kamu terapkan. Pertama, jadilah dirimu sendiri. Aku tidak berkata bahwa hari ini kamu tidak baik. Bukan juga karena aku tidak menghargai sesuatu yang baru yang coba kamu terapkan. Tetapi alangkah lebih baik seandainya kamu tampil dengan adanya kamu yang seperti sediakala. Karena dari sorot matamu yang tidak sengaja terpandang oleh mataku, ada gurat belum percaya diri dan itu membuat tampilanmu minus hari ini. Sekali lagi, bukan kamu tidak terlihat indah hari ini, mungkin mataku saja yang tidak biasa memandangmu seperti itu sehingga ada sedikit shock saat pupil menjatuhkan bayanganmu di retina.

Kedua, jadilah seorang yang sederhana. Jujur, aku menyukaimu ketika baru pertama melihatmu. Kamu tidak neko-neko dengan diri yang harus kamu tampilkan. Ya, memang pada dasarnya setiap hawa ingin menjadi daya tarik yang membuat Adam-adam di sekitarnya terpikat. Tetapi bukankah alamiah tetap bisa membuat mereka jatuh hati? 

Ketiga, hargai leluhurmu. Sebagai salah satu yang terbesar di pulau ini, bahkan negeri ini, sudah seharusnya kamu berlaku seperti mereka-mereka yang memengang teguh ajaran tetua. Salah satunya adalah dari segi berbahasa. Harus kukatakan bahwa aku tidak suka dengan cara bicaramu yang tidak lagi berkaca pada tanah kelahiranmu. Pahatan wajahmu yang indah memang seharusnya bisa saja mengatakan bahwa kamu berasal dari metropolitan sana. Tetapi, sebagai tuan rumah di sini, seharusnya kamu mengembangkan cara bicara yang memang itulah kamu dan kotamu yang sebenarnya. Bukankah kota ini juga punyai daya tarik sendiri yang tidak dimiliki tempat lain?

Keempat, aku minta maaf atas segala kelancangan atas komentar kepadamu. Silahkan saja marah dan membenci. Tidak sekarang, suatu saat mungkin akan berguna dan kamu akan selalu mengingatnya. Aku pun bukan seorang yang sempurna, tetapi rasanya juga tidak ada salahnya untuk memberi masukan terhadap apa yang aku saksikan.

Terakhir, aku dengar beberapa hari yang lalu kamu merayakan hari jadi ke 20. Selamat atas usia kepala Duamu. Jadilah lebih dewasa dan lebih berguna. Jadilah Jawara bagi Dua pahlawanmu di rumah. Tingkatkan pengabdian yang telah kamu rintis selama ini. Dan maaf untuk kesekian kalinya, aku tidak punyai hak dan juga tidak berani untuk berkata langsung di depanmu. Ingin aku berucap seraya memberimu selamat, tetapi. . . . . ah, mungkin kamu bisa memahami sendiri apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal komunikasi kita yang dulu pernah berjalan baik.

Satu doa terakhir dariku, semoga kita bisa kembali seperti biasa, bisa bercanda dan bergurau meski hanya terbatas pada kolom chatting :D