Kamis, Maret 31, 2016

Hujan Kemaren Sore

Senja kemaren sedikit hujan membasahi tanah-tanah kampus yang tidak tertutup paving dan bangunan menjulang. Untung saja hujan kali itu tidak terlalu deras turunnya, sehingga aku bisa pulang tepat waktu. Tapi ada makna lain dari singkatnya hujan yang turun, yang hanya bisa dipahami oleh manusia-manusia berperasaan lembut.

Antara hujan dan perasaan, seringkali keduanya tiba-tiba saling berkait. Hujan kemaren sore seolah datang hanya untuk sekedar menghapus rasa, menghapus ingatan tentang seseorang yang kini entah dimana keberadaannya. Mungkin juga hujan kemaren bermaksud menghapus rindu. Sayang, rindu yang lama tersimpan sudah teramat menumpuk sehingga butuh jauh lebih banyak butiran hujan untuk menghapusnya.

Tidak banyak yang mampu kutafsirkan terkait hujan, perasaan, dan rindu. Ketiganya adalah hal rumit untuk dijelaskan jika sudah terakumulasi. Hati merasakan, namun ketika tulisan ingin mengabarkan, kata-kata seolah tidak ada yang mampu menerjemahkannya. Adalah hal sulit untuk mengkonversi rasa hati menjadi ungkapan-ungkapan, entah melalui lisan mulut ataupun tulisan pada selembar kertas. Jauh lebih sulit daripada mengkonversi satuan  kilometer kubik menjadi liter atau mililiter.


Rabu, Maret 30, 2016

Pelanjut Bunga Tidur

Daun-daun dan bunga tengah bersiap menanti kehadiran surya yang menurut BMKG akan lebih intens bercahaya untuk 3 hari ke depan. Seperti menolak, udara dingin justru semakin menusuk tatkala air-air pembasuh mulai menyentuh tubuh. Memberdirikan rambut-rambut di tangan yang awalnya tertidur pulas.

Hari-hari terakhir yang dilalui, kehadiran bayang seorang perempuan yang natural cantiknya tidak pernah absen mengisi lamunan pagi, mengkombinasikan siluet mentari dengan suhu yang lebih rendah dari seharusnya. Tidak ada pertanyaan tentang kepada siapa harus bercerita, perempuan itu hanyalah pelanjut bunga tidur di tengah gerogotan malas untuk memulai aktifitas. 

Entah bagaimana kabarnya kini, entah telah berubah rupanya, entah telah bermetamarfosis sifatnya, tidak ada pesan yang disampaikan angin pagi tentangnya. Pun tanah-tanah yang terinjak seolah enggan memberi jalan untuk bertemu walau dengan alasan kebetulan. Tiada tanda untuk kembali dapat berjumpa, belum ada nampak titik yang menguatkan asa bahwa rindu akan segera sirna. Keanggunan dalam kesederhanaannya menuai cerita, memperbarui cerita-cerita lama dengan harapan yang semoga menjadi nyata.

Selasa, Maret 29, 2016

4 Kali Pertemuan

Ada beberapa pertanyaan dariku kepada diri sendiri, yang sampai saat ini, quotes-quotes tentang perasaan yang bertebaran di setiap sosial media belum mampu menjawabnya. Pun pengalaman-pengalaman di usiaku yang menginjak kepala Dua ini juga tak bisa berbicara banyak. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak teringat lagi kapan aku pertama kali mengutarakannya. Meski sudah lama, tetapi sama sekali tidak terlupa bahwa aku pernah bertanya dan sulit untuk dijawab bahkan sampai detik ini.

Satu diantaranya adalah yang pertama, tentang ketertarikanku pada perempuan-perempuan berpenampilan sederhana. Entah dimana dan kapan mulanya, entah kepada siapa awalnya, dari dulu sampai sekarang kenyamananku lebih tinggi tingkatannya untuk berbicara dan berinteraksi dengan yang terlihat biasa-biasa saja kenampakan penampilannya -terlepas dari segala bentuk latar belakangnya-. Dan yang terakhir ini terjadi adalah ketika aku berkenalan dengan seorang mahasiswi cantik dari jurusan Sastra Inggris. Tidak seperti mahasiswi lainnya di jurusan serupa yang sedikit meninggikan penampilan di samping kualitas belajar mereka, perempuan asal ibukota ini terlihat lebih simple -dalam pandangnku-.

Resah

Untuk hati yang pernah bergejolak atas kehadiranku. Maafkan jika aku membuatmu luka. Adalah salahku yang telah memberi goresan-goresan kecil pada hatimu yang mulus dan utuh. Pun aku sebenarnya tidak pernah berfikir untuk sedikit saja merusak. Terakhir ini baru kusadari bahwa ternyata ada rindu. Merana palung hati karena mata tak lagi dapat melihatmu. Dimana gerangan kamu berada? 

Sekali saja, sangat ingin rasanya aku untuk bertemu denganmu, berdua kita berbahasa dengan sangat terbuka. Berkata apa saja sambil tertawa, dan tersenyum saat 2 tatap mata kita saling berjumpa. Terakhir dapat kulihat dirimu adalah saat turun tangga di gedung itu, lalu buru-buru melangkah pergi. Kiranya masih ada noda bersalahku yang masih melekat dalam kesucian hatimu.

Berilah sedikit maaf untuk lelaki yang tak tahu diri ini. Lelah jiwa karena terlalu lama berada dalam kungkungan rasa bersalah. Ditambah suasana kota yang semakin dingin setiap kali pagi memulai hari. Semakin tidak nyaman rasanya perasasaan-perasaan teras membelenggu.

Jatuh cinta, rasa bersalah, rindu yang tak terobati, semuanya menyatu dalam satu resah hati karena sulit untuk bertemu. Maka, jika aku boleh meminta, bahkan mungkin harus memohon, sisakan sedikit saja detik-detik berhargamu untuk menatap mataku, untuk tersenyum bersamaku, dan untuk tertawa di sela cengkerama kita. 

Minggu, Maret 27, 2016

Agak Geser Sedikit


Saya sedang bingung dengan judul penelitian untuk penulisan skripsi sebagai syarat kelulusan mendapatkan gelar S1. Jangankan judul penelitian, topik pun belum terbayang dalam kepala. Malam itu atas ide dan omong-omong dengan seorang teman yang agak geser sedikit otaknya (padahal selalu di kelas A), muncullah inspirasi kecil yang cukup membuat saya berpikir dua kali. Mungkin kalian tidak akan mengerti banyak karena, hanya orang-orang di jurusan sayalah yang paham betul akan ini, itu pun tidak semua.

Agar sama-sama dapat dimengerti, mari saya perkenalkan terlebih dahulu sebelum membahas topik tersebut. Saya adalah mahasiswa jurusan Ilmu Tanah Kaget? Ya, bisa jadi, karena tidak banyak yang tahu jurusan ini padahal prospeknya lumayan cerah. Di kampus saya, jurusan ilmu tanah tergabung dalam Fakultas Pertanian, di bawah naungan program studi Agroekoteknologi. Meski berkecimpung dalam lingkungan pertanian, tidak semua alumni Ilmu Tanah yang bergerak di bidang pertanian (walaupun sebagian besar memang di sana). Ada yang bekerja di Pertambangan, PNS, Peneliti/Ilmuan, Dosen, Pengusaha, Pegawai Bank, Manager Lapang di Perusahaan Perkebunan dan sebagainya.

Khusus untuk saya yang masih terbilang muda dan bayi dalam Ilmu Tanah ini, semuanya masih dipengaruhi oleh lingkungan yaitu pertanian. Jadi penelitian yang ada dalam kepala saya hanyalah tentang tumbuhan. Malam itu, saat deadline pengumpulan judul tinggal kurang dari 9 jam lagi, seorang teman berpendapat agak miring (menurut saya).

Dalam jurusan Ilmu Tanah, ekspertnya yang dibahas tentulah seputar tanah, entah klasifikasi, jenis, kesuburan, dan sebagainya. Seorang teman itu sudah mendaftarkan topik besarnya, yaitu Hubungan, Air, Tanah, dan Tanaman. Sangat keren, karena menyangkut jurusan yg diambilnya (Tanah) dan fakultas yang menaunginya (Tumbuhan => Pertanian). Lalu air? tentu saja air berpengaruh besar saat pertumbuhan tanaman di tanah. Kalian tentu tahu bukan? tidak perlulah saya sebutkan lagi.

"Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman." Sungguh keren dalam kepala saya saat itu.

"Lalu tema dalam penelitianmu nanti apa?" Saya bertanya.

"Hidroponik". Jawabnya antusias.

Hhmmm..................

Haloo. Apakah kalian menyadari ada yang sedikit aneh dari jawaban teman saya ini? Jika kalian menyadari berarti termasuk ke dalam orang-orang yang kritis. Jika tidak, yaa...... berarti bukan.

Hidroponik. kalian tau hidroponik kan?

Gampangnya, hidroponik itu adalah budidaya tanaman tanpa tanah. Bisa pakai air, arang, dan sebagainya. Intinya tidak menggunakan tanah sebagai media tumbuh.

Dan inilah yang agak membingungkan saya atas jalan pikiran teman yang otaknya agak geser itu.

Seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah, yang mempelajari seluk beluk tanah, telah mengambil topik besar Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman lalu tiba-tiba tanpa rasa bersalah mengerucutkannya kedalam penelitian menjadi Hidroponik, yang jelas-jelas adalah budidaya tanaman tanpa tanah. 

Salah? Tidak, hanya sedikit kurang pas saja menurut saya. 

Intinya ini hanyalah canda malam saat kami pusing ketika tengah berusaha menghubungkan beberapa ilmu untuk diterapkan dalam penelitian nanti.

Jumat, Maret 25, 2016

Bergejolak

Wahai cinta yang hingga detik ini belum dapat kusentuh. Perbolehkanlah sejenak aku menyanjungmu atas rinduku yang sedang bergejolak. Biarkan aku sedikit berkhayal menikmati indah dunia bersamamu. Izinkan aku untuk sedikit menebar aroma kasih sayang kepada dirimu yang maha indah.

Sekarang aku sedang terserang gundah dalam kesendirian.

Lalu, apa peduliku? Mungkin begitu jawaban ekstrem yang kamu lontarkan.

Memang, gundahku bukanlah gundahmu yang harus kau pikirkan juga. Gundahku adalah gelisah diriku sendiri yang tidak bisa kusambungkan denganmu yang tidak mengerti apa-apa. Tetapi tidak. Sama sekali keyakinanku tak tertuju ke sana. Kamu bukan wanita dengan tipe jawaban seperti demikian. 


Cinta telah membuatku gundah. Cinta kepadamu telah mendatangkan gelisah. Aku terhenyak setiap saat dikala bangun tidurku hanya dapat melihat gambarmu, tiada dapat menanyakan kabarmu, pun mengucapkan selamat pagi saja tak bisa.


Kamis, Maret 24, 2016

Merapikan Hati

Senyummu yang lama hilang di pelupuk mata, pagi ini hadir lagi walau hanya sekilas. Adalah perubah suasana senyummu itu. Mendung hati menjadi sedikit lebih cerah dibuatnya. Rindu sekali aku pada tautan bibir itu. Lama hilang entah kemana tanpa kabar berita.


Sekarang apa? Tidak tahu aku harus berkata apa. Bingung dan bimbang menggelayut di wajah. Kepadamu saja ingin kuceritakan semuanya. Tetapi tidaklah aku paham caranya bagaimana. Pagi ini kamu hanya melempar senyum tak lebih dari 2 detik lalu bergegas melangkah dan hilang di balik daun pintu gedung. 


Ah, mungkin aku harus bersyukur. setidaknya kamu telah menentramkan hati yang sedang tidak baik kondisinya. Kamu tebar sekilas senyum manis itu untuk sedikit merapikan hatiku pagi ini. Terima kasih banyak atas pertemuan sekilas yang tidak direncanakan ini.