Sabtu, November 12, 2016

Wanita Penunggu, Laki-Laki Yang Tidak Berani

Hari ini aku mengerti, kamu pernah nyatakan perasaan dengan cara memainkan kata yang sarat makna, menghadirkan bingung hingga sulit memaknai kemana arah bicaramu menuju. Yang aku paham saat itu kita saling mengisi, aku dan kamu terlibat kedekatan yang mungkin sedang tidak kamu alami dengan yang lain. Sayang sekali aku bukan seorang yang berani, aku bukan seorang yang piawai mengambil langkah cepat untuk dapat mengerti apa inginmu. Dan kamu tentunya juga tidak akan memulai lebih dulu jika aku tidak juga tampak mengawali. Itu membuat kita terjebak dalam kediaman yang tidak mengenakkan. 

Sekali aku pernah ingin mengatakan bahwasanya aku jatuh cinta. Itu dimana kita dapat mengumbar senyum lebih lama dari hari-hari sebelumnya, saat kita berdiri diatas ubin yang tak seberapa jauh jaraknya. Kamu wanita penunggu, dan aku laki-laki yang tidak berani. Akan sulit menemukan waktu dimana aku punya nyali, lalu membuat penungguanmu berakhir. Kecil sekali peluangnya untuk kita dapati detik-detik berharga saat butir cinta memunculkan diri ke permukaan. 

Senin, November 07, 2016

See You Too

Dari negeri Jiran sungguh? Tapi bahasa yang digunakannya tidak memperlihatkan sama sekali bahwa Malaysia negara kelahiran perempuan putih berhidung mancung yang tidak tinggi-tinggi amat itu. Mungkin karena sudah lama menghabiskan waktu di Jogja, logat dan aksen Indonesianya benar-benar fasih. Dan kami bertemu di pedalaman Sumatera dalam kegiatan yang sebenarnya tidak berkaitan. Aku sedang melakukan orientasi dan belajar tentang analisis sifat fisika tanah untuk tanah-tanah bekas kegiatan penambangan guna membantu keberhasilan reklamasi, sementara dia, perempuan yang berasal dari Negara bagian Penang itu mengambil sampel batubara utuh untuk diuji traxial dan kandungan kimia yang tidak begitu kupahami. Tidak tanggung-tanggung, pengujian akan dilakukannya di Jepang, sebuah negara yang maju sekali teknologinya.

Tapi sempat dikatakannya, alat yang akan dia gunakan ternyata sama persis dengan alat yang ada di laboratorium mekanika tempat kami bertemu secara tidak sengaja. Lalu pertanyaanku, untuk apa jauh-jauh ke Jepang jika di sini bisa dilakukan dengan alat dan metode yang sama?

Perempuan itu tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum saja karena aku bertanya sambil menampilkan wajah yang terlalu datar tanpa terfikir bahwasanya tentu ada alasan lain mengapa rela dia jauh-jauh ke Negeri Sakura. Mungkin aku tampak polos sekali baginya.

Dia kuliah di salah satu kampus terbaik negeri ini. Orangnya ramah dan seolah dia menampilkan diri sebagaimana kami sudah kenal lama. Sayang sekali waktunya tidak banyak. Tidak banyak pula informasi yang dapat kukorek jadinya. Mungkin lain kali dapat bertemu lagi, semoga saja ada pengunduran keberangkatannya ke Jepang agak beberapa hari sehingga masih ada yang dapat kuperoleh darinya, itu pun jika kami bertemu. Tetapi untuk percakapan 2 jam hari ini sudah cukup memuaskan. Terasa sekali aura hebat yang ditampilkannya. Merinding aku bercerita dengannya.

"Kok Indonesia-nya fasih banget kak?"

"Mau denger aku ngomong melayu-nya Malaysia?"

Aku mengangguk beberapa kali.

"Kamu balas pake bahasa Minang ya?"

Aku tersenyum, bukan berarti mengiyakan, melainkan hanya untuk mempercepat saja agar dia segera menggunakan bahasa aslinya. Manager Laboratorium yang berada di belakang kami tersenyum kecil sepanjang aku dan gadis Negeri Jiran itu bercakap-cakap. Maklum, Manager itu berasal dari Jawa Timur, jauh dari Minangkabau dan Malaysia yang terkenal sebagai ranah serumpun bangsa sehingga masih banyak kesamaan, bahasa salah satunya.

Diakhir 2 jam itu, sempat kutanyakan siapa namanya. Ternyata 2 jam bicara nyambung membuat aku lupa untuk bertanya sesuatu yang sebenarnya penting untuk ditanyakan di awal, nama.

"Mezzi, See you next time Uda"

Dia teriakkan namanya ketika pintu mobil operasional yang akan membawanya meninggalkan laboratorium terbuka. 

"Follow Instagram."

Teriaknya lagi, bersamaan dengan itu pintu mobil tertutup. Kaca hitam menghalangi pandangan untuk menembus masuk ke kabin mobil yang perlahan mulai melaju melewati jalanan tambang yang berdebu.

"See you to, Kak Mezzi"

Minggu, November 06, 2016

Mahasiswi Sastra Ibukota

Selamat pagi Mahasiswi Sastra Jepang yang entah sedang berbuat apa sekarang ini. Sibukkah minggu pagimu kali ini? Atau hanya kau isi dengan membaringkan diri di kasur empuk sembari memainkan gadget? Aku melihat foto terakhir yang kamu unggah tadi malam. Boleh aku berkomentar?

You're amazing girl.

Kamu adalah satu dari tidak ada sebelumnya perempuan ibukota yang membuatku tertarik. Sederhananya, kamu satu-satunya sejauh ini yang membuat aku suka pada mahasiswa asal Jakarta di kota ini. Aku tidak begitu akrab dengan kehidupan metropolitan tempat asalmu, karena berasal dari sebuah dusun kecil di balik tebing yang susah tertembus sinyal. Kehidupannya berbeda dan bahkan bertolak belakang, itu yang agaknya membuatku tidak begitu menikmati apa-apa yang berbau Jakarta. Jakarta itu tinggi sekali rasanya, tidak terjangkau sehebat apapun usahaku, karena faktanya aku adalah seorang anak kampung yang Alhamdulillah mendapat rezeki Tuhan untuk kuliah di kampus yang sama denganmu. 

Jakarta itu hebat, dan aku bukan bagian dari sebuah kehebatan. Hanya penuntut ilmu yang ingin sedikit merubah hidup, agar tak dianggap terlalu rendah oleh mereka, termasuk olehmu mungkin saja. 

Tidak jelas alasan apa yang mendatangkan ingatan tentangmu lebih lama mampir dari yang lain, juga lebih sering muncul saat aku sedang tidak berkegiatan. Mungkin aku suka dengan caramu berlaku. Entahlah, padahal biasanya laku anak Jakarta tidak begitu dapat membuatku tertarik. Aku minder dan merasa kalah duluan.

Kamu, perempuan sastra asal Jakarta, tampaknya harus bertanggung jawab atas perasaanku saat ini. Kamu tidak salah, tetapi tetap harus bertanggung jawab, karena sudah ambil bagian di dalamnya meski tanpa sengaja sekalipun. Sekarang, bersiaplah. Tidak lama lagi aku akan mampir menghampiri. Aku tengah berusaha memberanikan diri. Jangan keluarkan rona kaget di wajahmu saat nanti aku tiba-tiba ada di depanmu. Dan jangan ternganga, itu dapat menurunkan nilaimu yang hebat. Dan satu hal lagi, jangan membuat usahaku memberanikan diri setengah mati belakangan ini menjadi sia-sia.

Sabtu, November 05, 2016

Mengingat

Halo Theresia !!!

Aku tiba-tiba mengingatmu hari ini. Kau kawan pertamaku yang benar-benar berasal dari Malang, sekaligus kawan pertama yang dimana aku dan kamu berada di satu meja dengan hidangan sederhana, namun cara kita mengucap syukur agak berbeda. Aku menadahkan tangan, sementara kamu khusyuk sambil menyatukan dua tanganmu yang saling mengisi sela jemarinya, lalu saling menggenggam erat tangan yang lain.

Apa karena caruk maruk atas hilangnya toleransi beragama yang akhir-akhir ini tidak karuan beritanya di media, atau memang karena aku sedang merindukan waktu saat kita menghabiskan malam di kotamu. Ah, entahlah. Aku bukan seorang fanatik agama, dan sejauh ini dapat berkenalan denganmu adalah hal yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Aku mengingatmu bukan karena keyakinan kita yang berbeda. Mungkin karena sedang sepi saja, karena aku kini jauh dari kotamu, tempat kita bertemu dulu.

Bagaimana kabarmu kini? Ingin lagi aku menghirup udara malam bersama, sembari menuruti jalan-jalan yang anginnya menghadirkan dingin. Begitu mudah cara kita berkenalan, mudah pula cara kita untuk mencari waktu luang agar dapat keluar bersama. Apa masih ingat kamu denganku? Mahasiswa baru yang menyusahkanmu di awal-awal dulu.

Tentang kita yang berbeda, belakangan ini aku merasa tertarik. Mungkin itu jugalah yang membuat kamu muncul lagi dalam lintasan ingatanku. Ada keinginanku yang mencuat untuk mencoba sesuatu yang tidak biasa. Bukan kamu jadi bahan percobaanku, maksudku aku hanya ingin punya kedekatan yang lebih dari seharusnya. Aku ingin lebih paham dengan apa yang disebut perbedaan, keyakinan khususnya. Mohon jangan tersinggung. Tapi jika boleh, maka aku ingin hadir lebih sering dalam hari-harimu. 

Jumat, November 04, 2016

Pengagum

Jika aku kau anggap baik, barangkali tidak salah penilaianmu. Setidaknya jika kau lihat aku secara sekilas. Namun jika ingin kau tahu lebih jauh mungkin ada baiknya bersiap dahulu dengan segala keterkejutan, kenyataan yang kau anggap sebuah ketidakmungkinan sebelumnya. Aku bukanlah seorang yang baik-baik amat, hanya kebetulan diselubungi oleh sifat pendiam saja, yang akhirnya memaksa lingkungan memberikan sebuah pemahaman yang keliru.

Jangan hanya maknai apa yang tertangkap oleh retinamu, tidak objektif, karena ada yang terlihat ada yang tidak. Karenanya lagi, seorang tidak pernah dibolehkan untuk melayangkan penilaian dari penampilan yang terlihat saja. Kusarankan jangan terburu-buru untuk menilai. Setiap yang terlihat belum tentu sebaik yang terpandang, akan selalu ada sisi yang tidak tampak, yang mungkin saja itu tidak relevan dengan inginmu.

Ceritaku ini bukan untuk siapa-siapa, bukan juga kepada siapa-siapa. Aku hanya membawakan satu dari banyak realita hidup ke dalam keadaanku saja. Mungkin ini wujud dari rasa frustasi.

Beralih kisah, aku kini sedang ingin bertemu seseorang. Ingin aku muncul tepat di depannya, mengawani kesibukannya yang melelahkan. Seorang aktivis kampus, yang namanya kian hari kian tenar, yang keterkenalannya makin hari makin meningkat, yang jumlah penaksirnya setiap hari terus bertambah. 

Problemnya, punyakah aku sedikit saja peluang untuk coba menaklukkan?

Orang hebat, yang dikelilingi orang-orang hebat pula, tertarikkah denganku yang tidak punya daya tarik? Ah, serasa bermimpi di siang bolong, serasa pungguk merindukan bulan, serasa tidak mengukur bayang setinggi tegak. Siapa kamu, siapa aku?

Ini sebuah pengharapan kosong tak berlandas. Tidak ada detik waktu yang akan kau gunakan untuk mengingatku. Terlalu sibuk, terlalu sayang waktumu habis hanya untuk memikirkan aku yang tidak penting. 

Aku sudah menulismu dalam sebuah buku, berisi tulisan yang tidak jelas ujung pangkalnya, sama seperti perasaan kepadamu. Maaf jika itu membuatmu risih, jijik, atau geli. Maklumi saja, sebagai seorang pengagum, aku ingin mengeksplor segala macam perasaan tentangmu, yang di suatu waktu berubah menjadi kekonyolan tingkat dewa yang membuatmu merasa tidak ingin mengenalku lagi.

Rabu, November 02, 2016

Momen

Pernah aku menulis tentang Malang, bahwa kota di pegunungan itu adalah tanah keduaku. Bukan saja karena hawanya yang sejuk, atau karena biaya hidup yang relatif murah, atau karena keramahan warga dan kefanatikan Aremania-nya. Melainkan ada satu lagi alasan yang membuat kebetahanku tinggal di Malang naik beberapa persen. Seorang 'Aremanita' yang bahkan tidak pernah menggunakan istilah itu untuk menyebut dirinya, juga tidak pernah sekalipun menginjak stadion Kanjuruhan atau Gajayana saat Arema berlaga. Seorang anak tunggal dari keluarga berada yang mendiami sudut kota, dialah penyebabnya. 

Kepadanya aku pernah jatuh cinta, entahlah untuk saat ini. Semenjak tidak lagi pernah bertemu, seolah kami adalah dua manusia yang sebelumnya tidak pernah saling bertegur sapa. Sulit menjelaskan apa yang kini terasa, aku tidak ahli dalam memahami ingin hatiku sendiri, tidak begitu familiar aku dengan istilah-istilah tentang perasaan. Yang kupahami hanyalah, ada bahagia yang hinggap saat potretnya tergambar di layar gadget yang kugenggam, dan aku ingin sekali memandangnya dalam waktu yang lama. 

Sekali waktu, saat angin segar masih menyertai, beberapa waktu yang lampau, sempat aku dan dia mengekspresikan sebuah senyum yang diabadikan melalui jepretan kamera. Itu satu-satunya momen berdua yang dapat kukenang. Yang dapat kusaksikan secara nyata, yang menjadi bukti bahwa ceritaku tidak sekedar fiktif belaka penghibur rasa. 

Onya's

[KELIMA]
                

Siapa sangka, anak pendiam yang tidak pintar-pintar amat, tidak piawai dalam bergaul, dan jarang terlihat di hari biasa tiba-tiba berkabar bahwa dia sedang berada di ujung timur pulau jawa melanjutkan kuliah. Itulah aku. Dalam diam aku masih memegang kuat cita-cita yang dari SMP hanya kepada Tuhan saja kuceritakan. Terlalu malu aku untuk mengumbarnya, karena berasal dari keluarga yang tidak begitu mentereng ekonominya, dan tidak pula bintang di kelas karena berotak cemerlang.

Sedikit aku berbagi, sebelum membahas Onya dalam versi terbaru, bahwa termujudnya cita-citaku untuk kuliah di salah satu kampus elit di Jawa adalah karena aku percaya pada kemampuanku. Bukan takabur, melainkan aku yakin bahwa Tuhan sudah menyelipkan sesuatu dalam diriku. Tentu saja keyakinan yang aku bangun tetap diiringi dengan doa dan usaha yang keras bukan main.

Tahun ini, maksudku tahun depan, semoga menjadi tahun terakhirku menjadi mahasiswa tanpa beasiswa di kampus ini. Amin. Secepatnya aku ingin lulus supaya orang tuaku tidak lagi diharuskan membiayai kuliahku yang mahalnya di luar dugaan.

Bukannya disibukkan dengan tugas akhir, di tahun-tahun akhir kuliah aku malah disambungkan lagi dengan Onya setelah tidak pernah berjumpa dan berkomunikasi dalam waktu yang lama. Aku tidak pernah melihat Onya semenjak dia lulus SMA, tidak juga pernah tahu kabar tentang apa yang dilakukannya setelah lulus, bahkan aku tidak ingat bahwa pernah mengenalnya. Hidup yang terlalu kompleks membuat ingatanku menjadi tak begitu baik. Apalagi Onya bukanlah sesuatu yang begitu penting, hanya kawan lama (baca: pernah sekedar kenal) yang sempat menjadi kawan les zaman SD hingga SMP, lalu menjadi kakak kelas di masa SMA, kemudian hilang begitu saja setelah lulus.

Perkembangan Sosial media dewasa ini memberikan jalan untuk aku bicara lagi dengan kawan lama, bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi di era usia belasan tahunku. Dengan Onya salah satunya, yang ternyata juga sudah lupa bahwa aku pernah mampir sebentar di jalan kehidupannya.

Hari itu aku merasakan sesuatu yang umumnya pernah dirasakan mahasiswa perantauan, homesick bahasa kerennya. Setahun lebih tidak pulang membuat ingatanku ingin terus-terusan terbang jauh ke kampung halaman. Kampungku di pedalaman Sumatera sana. Diantara lembah dan bukit yang membentuk topografi keindahan alam secara alamiah. Dikelilingi hutan hujan tropis yang dingin hawanya. Tenteram bukan luar biasa.

Tidak ingat betul bagaimana mulanya aku mengetik nama-nama yang sekiranya pernah ada di sana saat aku belum meninggalkan kampung halaman. Yang pasti aku pernah menulis nama Onya di kolom pencarian. Tidak ingat pula alasan apa yang menjadi penyebab tiba-tiba jempolku menekan tombol-tombol menyusun rangkaian huruf menjadi nama lengkap Onya.

Dari mana pula aku ingat seorang bernama Onya.

Tidak ingat bukan berarti aku lupa semuanya. Hanya saja mungkin tercecer entah kemana sehingga jangkauan ingatanku melewatkan beberapa hal. Onya adalah salah satunya.

“Anak Lintau?”

Begitu pertama kali tulisan Onya mampir dalam kolom chatku, yang akhirnya berlanjut hingga detik ini dengan pembahasan ngalor ngidul tidak berjung tidak berpangkal. Mulai dari cerita zaman les, carita ketika SMA, kegiatan saat ini dan kemaren, hingga rencana ke depan. Dari sekian banyak cerita-cerita yang Onya dan aku kicaukan, yang paling menjadi ingatan adalah tentang rencana hangout saat nanti aku mampir ke Padang, kota tempat Onya mendekam di akhir-akhir kuliahnya.