Minggu, Februari 28, 2016

Hukum Kebalikan

Source: www.kompasiana.com
Ingatlah dulu bahwasanya pertama kali kita bertemu adalah dalam sebuah wawancara formal di sudut gedung tua di bawah tangga. Sembari memegang form yang telah kamu isi, aku bertanya terkait beberapa hal tentangmu. Sayangnya ketika itu setiap pertanyaan memiliki batasan sehingga aku tidak bisa bertanya seinginku. Satu-satunya cara agar bisa lebih mengenalmu adalah dengan mendesain pertanyaan supaya kamu bercerita hingga keluar area yang aku tanyakan. Dan aku tidak terlalu bodoh untuk hal itu.

Kamu jelaskan bahwa sebelumnya kamu pernah ambil bagian dalam beberapa kegiatan. Dan kamu tampak sudah berpengalaman dari caramu menjawab. Dari form kubaca bahwa kamu ingin ikut serta dalam acara ini tidaklah sekedar ikut-ikutan. Sayang sekali aku lebih tua darimu. Mau tidak mau, kamu yang sebenarnya lebih berpengalaman dan lebih berbakat harus tunduk pada beberapa pertanyaanku yang notabene berada di bawahmu.

Setelah hari itu, kamu berubah menjadi daya tarik. Semakin bertambah hari, semakin kamu membuat terpikat. Hingga 2 tahun berlalu sejak saat itu. Kini kamu benar-benar memperlihatkan bakat dan kemampuanmu. Kamu kini jauh melebihiku yang hanya bisa berjalan di tempat tanpa mampu mengembangkan diri lebih jauh.

Kini ketika bertemu denganmu aku menjadi agak sungkan. Orang yang dulu berharap satu tempat dariku kini kepakan sayapnya sudah sangat jauh lebih lebar, bahkan ditanganmu kini kursi beberapa orang ditentukan. Betapa luar biasanya kamu dalam memainkan dan memahami potensi diri. Bukankah wajar jika aku semakin kamu buat tertarik?

Jika boleh aku berharap, maka saat ini aku ingin menghabiskan sehari bersamamu. Aku ingin bernostalgia, mengulang kembali cerita dari awal kita bertemu hingga kini kamu mampu melampauiku sangat jauh. Sehari saja, jika kamu membaca tulisan ini, mohon berikan jawaban atas sedikit permintaanku. Sehari saja waktu berharga kamu habiskan untuk orang yang tidak penting sepertiku, sehari saja. Sehari itu aku ingin menyatakan bahwa aku bersalah dalam beberapa sikap kepadamu, dan aku ingin menembusnya walau mungkin tak akan bisa sempurna.

Perihal cinta yang kemudian datang, aku juga ingin minta maaf. Bukan semata salahku jika aku tiba-tiba jatuh cinta. Kamu juga berperan meski tidak layak untuk disalahkan. Sudahlah tentang cinta, aku yakin kamu tidak akan mau menyisihkan sedetik saja waktumu. Sekali saja, aku ingin mendengar responmu, berharap agar kamu miliki satu hari kosong untuk dimanfaatkan bersamaku. Jawablah. 

Terimakasih jika kamu bersedia. Tetapi jika tidak, mungkin di lain waktu malah aku yang akan membuatmu meminta waktuku. Hukum kehidupan selalu begitu dan aku mempercainya. Orang-orang menyebut hukum kebalikan atau karma

Suaramu

www.photoblog.com

Lelah memang tak selalu terhapus oleh lamanya pembaringan. Ketika kelopak mata sudah habis waktunya untuk bersatu, raga kadang masih tetap enggan untuk segera memulai hari. Berat rasanya untuk bangkit dari pembaringan, liat setiap sendi untuk mulai kembali bergerak.

Lalu, ada suaramu yang dalam beberapa hari terakhir membangunkan pagiku. Tak lagi sekedar kopi panas yang menyemangati, suaramu kini juga ikut andil dalam mencerahkan hari. Perpaduan istimewa antara segelas kopi dengan suara yang dicinta.


Rabu, Februari 24, 2016

Celah Derita

Source Image : Google

Tengah malam adalah suasana yang sepi mencekam. Sedikit saja gesekan 2 benda yang terjadi, maka nyaring yang akan terdengar di telinga.

Hujan tadi sore kini tinggal menyisakan dingin. Bersama sedikit suara jatuh butiran air dari atap menuju tanah yang ikut menemani. Sesekali, tidak menghujam seperti tadi, melainkan berkala dan teratur bunyinya.

Aku terbangun dalam keadaan yang tidak gembira. Dering telefon tengah malam yang tidak biasa. Nadanya bagai alarm yang memang harus membangunkanku tengah malam ini. Sedari sore terkapar di kasur, sudah waktunya untuk menunaikan tugas yang tadi tertunda.

Di seberang sana seseorang menangis terisak, menahan agar suaranya jelas terdengar. Tidak biasanya. Sudah bukan waktunya untuk menghubungi seseorang ketika pergantian hari mulai terjadi. Tetapi bukan tanpa alasan telefon itu berdering. Rasa memang tidak  pernah berkhianat dan ikatan bathin ternyata memang benar adanya.

Tanya yang diajukan adalah sama dengan derita yang tengah terasa. Aku diam saja. Jujur memang tidak akan membuat rugi, tetapi malam ini sedikit kebohongan akan lebih memperbaiki suasana.

Aku terkapar sejak sore, lunglai karena tak lagi berenergi. Asupan dan jatah hari ini telah terpakai sepenuhnya oleh beberapa buku yang harus dipunya. Mengistirahatkan badan adalah satu-satunya cara untuk bertahan.

Bersama doa dan segelas air putih, mata mulai terpejam. Sembari berharap besok segera datang dengan senyum pagi yang disapa pangeran bernama matahari. Sayangnya ini adalah malam yang panjang. Banyak yang harus dikerjakan tetapi letih benar-benar terasa karena seharian tak ada kalori. Pun besok sepertinya akan menjadi hari yang jauh lebih panjang, mungkin juga akan lebih melelahkan.

Tidak, aku tidak merasa menderita. Menahan diri 2 hari saja bukanlah hal yang terlalu sulit jika bisa mengerti keadaan. Seharusnya bangga, perjuangan bukan hal yang mudah, dan akan lebih membanggakan jika ternyata mampu melewati setiap rintangannya.

Bahwasanya Tuhan tidak pernah tidur, aku mempercayainya. Jika di detik-detik krusial ini tubuh tak lagi mampu menahan, pasti ada jalan yang akan Dia buka. Ada celah dari setiap kungkungan kesulitan untuk tetap bertahan. 

Selasa, Februari 23, 2016

Pengecut

Source Image : Google
Di detik-detik pertemuan kita -maksudku ketika aku melihatmu- tak hentinya aku menyesali mengapa pertemuan kita lambat terjadi. Mata yang seharusnya kukendalikan tak mampu untuk memandang selain kepadamu. Keinginan yang terbiasa diam kini berontak di dalam bathin. Seandainya dan selalu seandainya, seringkali aku menghabiskan waktu untuk mengkhayalkan sesuatu yang tidak lagi mungkin terjadi, tidak pernah terjadi.

Pengecut !!! Ya, memang benar adanya aku adalah seorang pengecut. Berharap dan terus berharap tanpa berani bertindak. Dan aku yakin kamu tidak akan tertarik dengan aku yang seperti itu. 

Menaklukkan kaum hawa bukan keahlianku. Kepiawaianku hanya berani berharap, berandai dan berangan. Lalu tertidur hingga dirimu yang hanya dalam khayal singgah di bunga tidurku. 

Kapan aku dapat mendengar lagi suaramu? Saat ini tiada alasan untuk kita berbagi mendengarkan suara. Jika pun alasannya cinta, mungkin kepengecutanku lebih memilih untuk diam saja. Kamu juga sepertinya tidak akan pernah peduli. Kamu yang pernah kecewa karena ulahku mungkin sedikit akan mengatur jarak. Aku memahaminya, tetapi bolehkan selangkah saja aku lebih dekat denganmu?

Maaf perihal masa kemaren. Saat kamu menjadi seorang yang berada dalam posisi yang tidak seharusnya. Maaf juga atas keegoisanku yang sedikit membuatmu kecewa. Cinta memang tidak bersuara, tetapi dia punyai hak untuk menjatuhkan pilihan pada siapa saja.

Senin, Februari 22, 2016

Memperlambat Langkah


Cukuplah selama ini rasanya aku melangkah terlalu dekat. Detik  ini aku ingin mulai sedikit lebih mundur, memberikan sedikit ruang agar lebih leluasa mengatur langkah. Aku bukanlah bahagia yang akan membuatmu tersenyum setiap waktu, bukan seorang yang bisa memenuhi segala inginmu saat kamu mau. Ketika berdiri diantara mereka, aku merasa ciut bahkan hanya untuk sekedar menyapamu.  Lidahku kalu. Kadangkala rasanya kehadiranku adalah noda yang membuat putih cerahmu menjadi tak sempurna.

Di suatu malam yang dingin, saat kita baru saja menghabiskan waktu bersama, saat kamu mungkin sudah terlelap dengan nyaman di singgasanamu, aku merenungi satu cerita yang hanya hatiku saja mengetahui. Tidak pernah kuberitahukan kepada siapapun sebelumnya. Sesak rasanya hatiku untuk memikul beban itu sendiri, meminta bantuan pun sungkan rasanya, bahkan malu.

Pertama-tama aku ingin mengapresiasi hatimu yang setia, yang bahkan tak memberi sedikitpun celah untuk hati lain memasukinya. Jujur, aku tidak ingin menyia-nyiakan hati seperti yang kamu punya, tetapi hidup adalah pilihan dan ada kalanya kita berada diantara pilihan yang sama sekali tak bisa dinomorduakan. Di situlah aku kini berada.

Malu hatiku untuk berkata, dan tidak berdaya aku menyimpannya terlalu lama. Sampai sekarang pun aku belum percaya sepenuhnya, kamu yang indah dan sempurna ternyata mau berbagi dan menerima kesah dengan seorang yang tidak bisa apa-apa. Terimakasih untuk semuanya.

Mengapa? Pertanyaan itu selalu mengiang saat aku terjerat sepi dan termenung seorang diri. Bayanganmu yang sedang tersenyum selalu mampir menemani. Mengapa kamu terlalu bodoh untuk mau menggenggam tanganku? Padahal kamu sendiri memahami, tanganku tidaklah bersih, kasar dan akan merusak tanganmu yang lembut lagi halus.

Banyak yang sedang menatapmu dari jauh, berharap ada celah agar hatimu terbuka. Jelas mereka jauh lebih baik, mereka lebih hebat dan lebih sempurna. Lalu, mengapa kamu berdiri mematung dan diam saja? 

Detik ini aku sedikit memperlambat langkah, mempersiapkan ragaku agar lebih layak saat nanti berjalan tepat di sampingmu. Aku butuh persiapan agar kamu tidak malu, untuk meyakinkanmu supaya kamu tidak ragu. Karena meski bukan saat ini, akulah yang sebenarnya kamu tunggu.

Minggu, Februari 21, 2016

Pelajaran dari Obrolan


Apa yang terjadi jika kesepian sedang melanda detik-detikmu yang sebenarnya berharga? Diam, itulah yang sebagian orang lakukan ketika diterjang sepi tanpa tahu harus berbuat apa, termasuk kamu mungkin saja. Ditambah lagi jika di luar sana hujan sedang membahana dan kamu tertahan seorang diri di kamar dimana hanya kamu satu-satunya makhluk yang ada di sana. Kamu seolah merasakan baunya, meresap perlahan dan menyejukkan kepalamu yang sedang tidak baik kondisinya.

Aku jadi teringat akan sesuatu yang boleh dibilang sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi juga bukan hal yang remeh untuk dilupakan begitu saja, karena ternyata cukup berarti. Dulu, aku pernah bicara dengan seseorang di Ibukota, melalui jaringan telefon tentu saja, karena saat itu aku sedang berada di Malang. 

Kami tidak pernah berkenalan sebelumnya, bertemu juga tidak. Yang membuat adanya interaksi saat itu adalah Cinta. Ya, cinta memang memiliki banyak fungsi jika pandai menjinakkannya. Sayangnya itu bukanlah hal yang mudah. 

Oke, tentang nostalgia sederhanaku kali ini. Ketika di Malang, aku jatuh cinta pada seseorang. Dia berasal dari kota yang hampir semua orang di negeri ini ingin menginjakkan kakinya di sana. Kami bertemu di sebuah kampus yang (katanya) namanya cukup tersohor. Jika begitu adanya, berarti kampus ini telah melakukan sebuah kesalahan fatal, yaitu menerimaku sebagai salah satu mahasiswanya. Mengapa? Ah, aku tidak ingin menghina diriku sendiri. 

Rabu, Februari 17, 2016

Gerutu


Aku yakin saat ini kamu sedang menggerutu, sesak pikiran dan hatimu oleh seorang laki-laki yang sebenarnya tidak bisa diandalkan. Ketahuilah, bahwa dia hanya menang dari caranya memainkan peran, dari caranya berkata dan menunjukkan cinta secara pandang yang tak bisa diukur. Dia membuatmu luluh dan tidak dapat berkutik dalam beberapa situasi. 

Mungkin kamu terlalu polos untuk sedikit bermain api dengan cinta. Kepintaranmu seolah tiada berguna saat cinta menyentuh hatimu. Tidak dapat kamu filter mana kesungguhan yang membuatmu benar-benar merasa terlindungi. Kamu tidak jenius untuk hal semacam ini.

Dan aku sebagai yang bertanggung atas kegerutuanmu, hanya bisa menarik nafas dalam sembari coba turut merasakan suasana hatimu. Dari jauh, aku mengingatmu dalam setiap tarikan nafas, lalu mengucap maaf yang teramat besar di setiap hembusan nafas atas semua salahku. 

Boleh kamu kecewa, boleh kamu melangkah pergi, semua adalah keputusanmu. Aku pun merasa, menjadi seorang yang tidak bisa diandalkan adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Ingin rasanya aku menghukum diri sendiri, tetapi dengan cara apa? Sedangkan cinta kepadamu hingga detik ini masih menggelayut dalam sanubari