Minggu, Desember 04, 2016

Ekspresi Khayal

Aku cenderung riang ketika mendung mulai menjadi atap di atmosfer. Artinya hobiku dalam beberapa waktu berikutnya akan dapat terlaksana. Pernah kuceritakan sebelumnya, bahwa aku adalah seorang Pluviophiles. Tidak banyak yang peduli, karena ini agaknya terbilang aneh. Sudahlah, peduli mereka juga tidak akan berpengaruh apa-apa. Aku tetap akan berlaku seperti sebelumnya.

Kenangan, itulah yang selalu membuat antusiasku muncul menikmati bau tanah yang tersiram hujan. Seperti bius yang menyerang kepala, aku dibuatnya melamun, diajak terbang ke beberapa waktu yang sudah lewat, lalu kadang disambungkannya dengan khayal-khayal yang ingin kubuat menjadi nyata. 

Kau tentu mahfum, bahwasanya aku bukan Dewa yang bisa mentransformasi khayal menjadi sesuatu yang benar-benar terjadi. Tapi aku merasa diberi jalan untuk mengekspresikan setiap khayalku. Lamunku serasa bermanfaat, rasanya aku diperbolehkan memodifikasi kenangan sesuai keinginan.

Aku kini sedang ingin bercerita tentang khayal yang barangkali menurutmu tidak layak diungkap. Tapi apa boleh buat, ini khayalku, ini kenanganku yang kebetulan ada kamu di dalamnya, dan aku begitu ingin mengekspresikannya.

Kamu yang di ujung sana, bagaimana pendapatmu jika ternyata kamu berhasil membuatku jatuh hati? Bagaimana caramu akan menghadapiku? Tidak, aku tidak minta banyak, bahkan aku tidak juga minta jawaban. Satu hal saja yang aku ingin, semoga dapat kamu nikmati hari tanpa berniat menghilangkan jejakku yang pernah tidak sengaja kamu kenali.

Di antara butir hujan yang masih terus memberondongi tanah, aku berusaha mengekspresikan khayal dengan mencoba merangkai kata, agar dapat merasa lebih dekat kepadamu. Semoga ada jalan yang Tuhan hamparkan untuk kelak kamu dapat membacanya, lalu sembari itu, kamu mengingatku sebagai seorang yang pernah membuat senyummu merekah di malam sebelum matamu terpejam. 




Surat Kaleng:
Inspired by: 'Primbumi Malang yang Membuat Jatuh Hati'
Sorry for the Mistake but Special Thanks For You Dear

Tugas Akhir

Sesi Curhat Oleh Diri Sendiri Kepada Diri Sendiri

Perkenalkan, aku mahasiswa semester tua yang sedang berdiri sok manis di gerbang tugas akhir (baca: skripsi. Tapi sengaja ditulis 'Tugas Akhir' supaya tidak begitu horor). Terjebak dengan jarak ribuan kilometer dari kampus berikut dengan dosen pembimbing ternyata jauh lebih menyeramkan daripada yang dibayangkan sebelumnya. Kampusku berada di Malang, Jawa Timur. Dan aku kini sedang pusing setengah mampus di Tanjung Enim, sebuah daerah dengan jarak sekitar 100 km dari kota Palembang, Sumatera Selatan.

Mengapa bisa begini?

Tidak lain dan tidak bukan karena aku punya mimpi dan modal berupa kenekatan dan keyakinan, itu saja tidak lebih. Aku bukan seorang yang pintar-pintar amat, yang dengan beberapa kali bimbingan saja bisa menyelesaikan tugas sekelas skripsi, tidak. Bahkan di kampus, aku tidak termasuk mahasiswa dengan IPK kelas atas, mungkin hanya sebatas papan tengah yang hampir terjerembab ke papan bawah. Atau barangkali memang sudah berada di papan bawah. Ah, sudahlah. . . . . .

Lalu aku berani mengambil resiko mencoba tugas akhir  jauh dari bimbingan dosen?

Ini memang belum final, belum ada kepastian yang memfixkan bahwa tugas akhirku akan dilakukan di sini. Dulu dosenku sudah memberi lampu hijau, dan aku begitu yakin, tetapi akhir-akhir ini nyaliku agak ciut dibuatnya, susah juga ternyata. Hanya saja, sudah kepalang tanggung, aku sudah 2 bulan berada di sini, rasanya sudah menjadi warga Tanjung (sebutan untuk orang yang tinggal di Tanjung Enim). Kalau ibarat kata, sudah tanggung basah, lebih baik mandi sekalian.

Jadi bagaimana?

Berdasarkan modal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ini (nekat dan yakin), aku berdoa supaya yang terjadi sekarang adalah yang terbaik, dan pada saatnya nanti (beberapa bulan lagi), syarat lulusku bisa rampung dengan nilai sangat memuaskan. Amiiinnn !!!! 

Yakin bisa?

Harus yakin, semua berasal dari sana, kata-kata 'Yakin' yang mujarab. Selagi ada keyakinan, jalan juga pasti akan selalu ada.

Apa motivasinya?

Banyak, diantaranya yang paling relevan dengan keadaan sekarang adalah kata-kata dari Ibu yang muncul setiap kali menelfon. Orang lain bisa, kenapa kita tidak? Cukup ajaib, karena setelah mendengar itu aku sedikit banyaknya lebih merasa mampu untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai beberapa bulan ini.

Kalimat untuk memotivasi diri sendiri: 

Yakin saja pada kemampuanmu, dan jangan lupa libatkan Tuhan di dalamnya. Buah dari keyakinanmu jika melibatkan Tuhan adalah hal yang selama ini kamu dambakan.

Jumat, Desember 02, 2016

Aroma Tanah Setelah Hujan

Aku adalah satu dari sedikit orang yang tergila-gila pada aroma tanah setelah hujan. Bagiku itu menarik, baunya mendamaikan pikiran-pikiran suntuk yang saban hari mencerca kepala. Dan lagi, bau tanah yang tersiram hujan pada akhirnya juga akan membawaku ke suatu kenangan dan khayal yang menyemangati. Hingga detik ini aku menikmati kehidupan normalku sebagai seorang Pluviophiles. 

Adalah ketika kamu muncul dalam imajinasiku, momen terbaik saat bau tanah setelah hujan menyerempet masuk ke penciumanku. Sering waktu kuhabiskan hanya untuk berkhayal dan mengenang. Aku selalu antusias mengingat waktu-waktu yang pernah secara tidak sengaja kita habiskan bersama. Tidak apa walaupun setiap detiknya hanya berlabel ketidaksengajaan. Tetap menyenangkan untuk dikenang.

Perempuan sastra, bau hujan kali ini kembali menggeroti inginku untuk dapat melihatmu lagi. Imajinasi dan khayal tentangmu baru saja mendatangkan rindu. Barangkali ada seorang di sana yang akan cemburu jika aku merinduimu, maaf untuk itu. 


Senin, November 21, 2016

Pergantian Musim

Lagi-lagi senja ini diguyur hujan, menimbulkan aroma khas yang membawa lamun ke ujung masa lampau yang tergalau. 

Kedatanganku yang membawa hujan, atau memang sudah waktunya musim penghujan naik tahta di kota kecil ini? Ah, biarlah alam sendiri yang menentukan, mungkin hadirku saja yang memang kebetulan berbarengan waktunya dengan pergantian musim. 

Terlepas dari itu, aku selalu menyukai hujan di sore menjelang malam. Aromanya menyenangkan, dingin-dingin tanggungnya baik sekali untuk dibawa bermalas-malasan. Membaringkan diri di kasur empuk, sembari mencigapi jendela luar yang basah terkena percikan, atau mendengarkan suara seseorang dibalik gagang telfon. 

Lama sekali aku tidak merasakannya, tidak ada suara yang saat ini bisa didengar. Aku seorang diri, di usia yang seharusnya tidak lagi patut disinggahi sepi. 

"Kemana perempuanmu tempo hari?"

Ada banyak pertanyaan yang memantul di kepalaku. Dan tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Perlu memilih kata yang tepat agar sesuai dengan intonasi pertanyaan, agar tidak memalukan betul jawabanku.

"Dia menemukan yang pas, Kang."

Si empunya pertanyaan mengangguk mahfum. Seakan mengerti rasa hati yang ditanyainya. Padahal tidak, seorang pun tidak ada yang bisa memahami. Lukanya dalam sangat, sedihnya tak terkira, dan irisan di hati perih luar biasa, sungguh.

Lusa, aku disuruh datang. Menyaksikan hari bahagianya.

"Jadi bagaimana sebaiknya, Kang?"

"Itu terserahmu. Pertimbanganmu untuk datang atau tidak, tidak termasuk ke dalam urusanku. Baik buruknya kamulah yang lebih paham. Tapi anak muda, menjaga silaturahmi adalah penting"

Aku mengangguk.

"Kau perlu menambah besar irisan luka untuk membersihkan kotoran yang masuk, agar dapat kamu sembuhi luka itu secara utuh." Lanjutnya.

Sabtu, November 19, 2016

Menghadirkan Diri

Aku menghadirkan diri di depan rumahmu, di malam minggu pekan awal kita berjumpa. Sambutanmu sederhana, seuntai senyum dengan penampilan seadanya. Ini bukan mauku saja. Ini janji kita tempo hari. Mana berani aku datang sendiri tanpa persetujuan dan ajakan darimu. Memangnya siapa aku?

Katamu di sini sepi. Tidak seperti saat kamu hidup di kota dulu, yang mana waktumu lebih banyak terhabiskan di luar rumah.

"Yah, di sini ada apa, Gi? Tidak ada. Hanya perumahan karyawan perusahaan yang orang-orangnya bersembunyi di dalam rumah setelah senja selesai."

Keluhmu tampaknya cukup serius. Dan kamu tidak punya jalan keluar untuk menghilangkannya -selain mendatangkan aku di malam minggu ini

Untuk apa? Memangnya kita seirama dalam beberapa hal sehingga yakin kedatanganku dapat menghilangkan jenuhmu?

"Tidak juga, tapi setidaknya aku punya seorang yang dapat digunakan untuk sedikit merubah suasana."

Digunakan?

"Ya, ada yang salah?" Tanyamu.

Senyummu muncul tipis di ujung bibir, sepertinya paham tentang kemana makna kata 'digunakan' yang aku pertanyakan.

Tidak, kalau begitu aku juga akan 'memakaimu' untuk menghabiskan hari selama di sini.

"Boleh saja selagi kamu merasa betah dan nyaman."

Aku tersenyum mendengarnya.

"Kadang aku agak sedikit menjengkelkan." Lanjutmu.

Minggu, November 13, 2016

Sastra Dan Kamu

Alasannya sederhana, karena lewat sastra kutemukan sebuah kata bernama prestasi. Itu tahun 2000, hanya sekali dan semenjak itu sastra rasanya semakin jauh saja, terlupakan oleh perjalan waktu. Hingga akhirnya setelah belasan tahun aku dibuat berkenalan lagi setelah berjumpa dengan seorang mahasiswi Sastra Jepang Asal Ibukota. Ya, dengan kamu saat kita tidak sengaja hadir dalam sebuah acara Unit Kegiatan Kampus.

Antara badung dan tidak, itu pribadiku yang pernah dijelaskan saat pengambilan rapor semasa taman kanak-kanak. Suka berteriak, dan banyak bicara. Kurasa itu karena kegirangan kelewat batas atas hari sekolah yang sudah lama aku memimpikannya. Aku menikmati dan mengekspresikan hari-hari bersama seragam, bersama waktu masuk dan bersama waktu pulang.

Menjadi siswa setengah badung bukan berarti tak bisa diandalkan. Dari itu agaknya aku merasakan yang namanya juara. Melalui puisi, kubuat sebuah momentum baru, bahwasanya piala yang akan memenuhi lemari reot di ruang tamu itu tidak hanya 1, akan ada piala-piala selanjutnya yang akan kubawa pulang. Pertama kali (sebut saja bakat, bair aku tampak keren) bakatku ditemukan kepala sekolah, aku diminta ikut latihan membaca puisi untuk dilombakan. Kabupaten awalnya, dan jika lolos maka levelnya akan naik satu tingkat, provinsi. 

Tidak akan kubahas jika aku hanya sebagai peserta biasa. Tidak ada yang menyangka bahwa aku dapat nilai terbaik hari itu, dengan senang hati dan bangga (saat itu aku belum tahu arti kata bangga), kunaiki podium tertinggi yang dibuat dari bangku panjang. Sederhana dan seadanya sekali. Aku juga tidak mengerti dengan kata juara yang saat itu disebutkan panitia. Yang  kudengar, tepat 2 minggu dari hari itu, aku dan peraih juara 2 akan diberangkatkan ke Padang mewakili kabupaten untuk lomba tingkat provinsi. 

Aku diam saja sementara di bawah sana Ibu dan Kepala Sekolah berteriak girang, disaksikan banyak mata yang mengarah kepada mereka. Aku menyadari satu hal tepat sehari setelah hari pengumuman. Kata-kata juara itu menyebalkan. Waktu mainku berkurang sangat banyak, dan aku harus pulang lebih lama dari yang lain, di rumah aku tidak bisa nonton tv seperti biasa, dijadwalkan waktunya, hanya beberapa jam saja.

"Ayo latihan dulu, sebentar lagi kamu lomba."

Latihan dan persiapan. Itulah alasannya. Aku tidak begitu menikmati hari selama 2 minggu sebelum keberangkatan. Bahkan seminggu terakhir aku sama sekali tidak boleh keluar rumah, meski di rumah pun aku tidak sering latihan. Untuk menjaga suara saja agar tidak paraw ketika nanti tiba di panggung. Aku harus memakan panggangan tebu, meminum jahe yang baunya membuat muntah, dan banyak lagi.

Dan bukankah tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan? Waktu main yang hilang dan waktu nonton tv yang semakin sedikit adalah bagian kecil dari banyak yang kukorbankan untuk lomba yang saat itu aku tidak begitu suka kecuali tepuk tangan yang mengiringi saat aku berjalan menuruni panggung. Singkat cerita, raihan juaraku tidak berubah, aku tetap berada di podium nomor wahid, berfoto dengan memegang piala setinggi 80 cm, sementara tinggiku hanya 120 cm. Jadilah ketika melihat hasil cetakan, lebih dari setengah mukaku tertutup piala. 

Dari sana aku mulai mengenal apa itu sastra. Sayang, keluargaku tidak begitu kuat menerjunkanku ke sana karena tidak ada biaya sisa dari kehidupan sehari-hari kami. Aku tidak pernah membeli buku-buku sastra, bahkan buku pelajaran wajib saat SD, SMP, dan SMA saja, hanya kubeli saat itu memang diwajibkan.

Aku dialihkan untuk berpidato, yang tidak begitu mentereng prestasinya. Menjadi juara kedua ternyata tidak prestisius. Lalu aku diterjunkan lagi untuk menjadi seorang hafiz penghafal Al-Quran. Malas-malasan. Dalam sebulan bahkan aku hanya dapat menghafal 4 halaman surat Al-Baqarah tanpa terjemahan. SD, SMP, dan SMA ku agak membosankan jadinya. Aku menjadi seorang yang agak terkekang, yang susah keluar rumah dalam jadwal yang tidak biasa. 

Ternyata itu adalah penyesalan. Saat menjadi seorang mahasiswa, aku tidak punya keahlian apa-apa untuk dapat ditonjolkan. Kemapuan hafiz dan hafalan Al-Quran turun drastis, prestasi akademik dari dulu tidak pernah mentereng, tidak juga piawai dalam bergaul. Puisi? Sastra? Ah, aku bahkan pernah lupa dengan kata-kata itu. Selama bertahun-tahun aku tidak menyentuh bidang yang membawaku 'meraih nama' diusia yang baru menginjak 5 tahun lebih sedikit. 

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba aku ingin menjadi seorang penulis. Bukan untuk diterbitkan, hanya sebagai pengisi waktu saja. Kamu agaknya yang pertama kali menginspirasi tulisan-tulisanku. Ketika berkenalan dan kamu sebutkan jurusan, aku merasa ada yang menarik. entah karena kamu good looking dan ramah, atau memang karena ada kata 'sastra' yang kamu sebutkan saat perkenalan. Pastinya semenjak itu aku mulai menghabiskan waktu dan menempatkan diri di perpustakaan mahasiswa Sastra dan Ilmu budaya, membaca novel-novel karangan perangkai kata handal. Jujur saja, aku buta sekali dengan nama-nama penulis sastra, rata-rata setiap nama yang terpampang adalah baru bagiku.

Detik ini, tidak banyak keapikan sastra yang menarikku, hanya karena berkenalan denganmu saja, lalu itu membawaku ke cerita lama tentang prestasi pertama yang kuraih. Aku ingin merasakan lagi prestisiusnya pengumuman juara pertama. Catatan penting yang harus digaris bawahi, kamu melakukan satu hal berarti, membuatku jatuh cinta pada 2 hal sekaligus, kepada sastra dan kepadamu.

Sabtu, November 12, 2016

Senja Kita

Tupak, Agroforestri dan Agrowisata Bukit Asam

Kutulis senja dalam karangan-karangan kecilku, kamu lukiskan juga pengharapan di waktu yang sama. Seberapa magis sebenarnya senja memikatmu sehingga kamu agungkan begitu? Kutuliskan bahwa aku menaruh harap pada senja. Dan kamu, apa maksudmu melibatkan senja juga dalam postinganmu? Sebentar, aku tidak sedang mengadilimu, hanya pertanyaan yang didalamnya terselubung sedikit kesemogaan, apakah itu balasan untuk tulisan kecilku tempo hari?

Kamu, mahasiswi sastra yang tidak begitu kukenal, sedikit saja pernahkah merasa tersanjung pada karangan-karangan tentangmu? Memang tidak terpampang namamu diantara kata-kata yang kurangkai, tetapi pahamilah, bahwasanya kamu adalah maksud dari susunan kata yang kuhampar di berbagai media sosial.

Dan tentang senja yang kamu tulis, mengapa rasanya itu tersambung dengan senjaku kemarin lusa? Aku mahfum betul jika saat ini terlalu cepat untuk menuduh. Lagipula aku tengah dirundung harap, yang barangkali setiap apa yang tak pasti selalu terhubung dengan inginku, tidak objektif jadinya. Boleh jadi kenyataannya kamu sedang menghabiskan waktu bersama seseorang, yang membuat kamu selalu teringat akan kemenawanan senja yang kalian habiskan bersama. Apapun mungkin sekali terjadi.


Karena kita sudah terlanjur berada dalam pembahasan senja, membuat aku jadi ingin menyamakan. Bagaimana langit senja kita hari ini? Sekitar 2000 kilometer jaraknya. Masih samakah rona jingga sore di kotamu sekarang dengan rona jingga sore di desa tempat aku berada? Di ujung timur pulau Jawa kamu berdiri, dan di ujung selatan Sumatera aku disaat yang sama, dapatkah kita bertukar kisah tentang sama dan beda senja yang hari ini kita nikmati?