Kamis, Desember 17, 2015

September End, November Rain

Dan ternyata saya melupakan sesuatu yang penting. Ini adalah Desember pertengahan, dan bulan lalu adalah November, lalu 2 bulan sebelumnya lagi adalah Oktober (ya iyalah, Bego). Tidak, ini bukan tentang mengurutkan bulan dari Januari hingga Desember. Ini tentang sebuah rencana. Ya, rencana yang terlupa oleh kesibukan.  

Tentang November yang dilanda hujan. Apa yang terjadi sama persis dengan salah satu judul lagu band terkenal asal Amerika Serikat bernama 'Bedil dan Kembang' (baca : Gun's N Roses). Judul lagunya November Rain. Tidak peduli maksud dan tujuan yang tergambar dalam lirik lagu yang mereka nyanyikan, yang jelas lagu itu bermakna besar untuk mengakhiri kemarau panjang tahun ini yang memang benar-benar berakhir di November. Tepatnya di akhir minggu pertama bulan 11 tersebut.

Dalam rencana yang saya rilis (ketika hujan pertama di November turun) saya berencana akan menulis prosa untuk kejadian itu. Meskipun mungkin dan hampir pasti kata-kata yang saya ciptakan tidak seanggun dan sementereng yang ditulis Axl Rose. Sayang sekali niat itu urung dilaksanakan karena saya teringat semuanya lagi setelah bulan November berakhir. Fix, rencana batal karena jika ditulis sekarang, momennya sudah tidak lagi mendukung.

3 bulan yang lalu juga momen (yang mirip) seperti ini pernah terjadi. Sebagian besar mungkin kenal dengan Wake Me Up When September End nya Green Day yang video clipnya diawali dengan penampakan sepasang kekasih di balik padang bunga yang tingginya kurang lebih 1 meter. Saat itu masih pertengahan bulan September dimana cuaca sedang panas-panasnya. Saya galau dan secara tidak sengaja mendengar lagu tersebut diputar oleh tetangga. Entah karena galau entah karena mendengar lagu, inspirasi tiba-tiba muncul dengan tema sekaligus pertanyaan seandainya ketika september ini nantinya benar berakhir. Saya berencana menulis postingan di blog pada tanggal 30 dan itu sudah saya tulis rencananya dan sudah ditempel (juga) di dinding kamar. Namun hingga September benar-benar berakhir, bahkan sudah menginjak pertengahan November saya tidak ingat sama sekali alias lupa. Pun begitu hingga detik ini saat memasuki pertengahan Desember baru saya ingat lagi bersamaan dengan teringatnya momen November Rain yang sudah terlewatkan.

Dua peristiwa yang seharusnya bisa saya jadikan momen untuk belajar merangkai kata lebih baik lagi. Saya kecewa karena melewatkannya begitu saja. Siapa yang salah dalam hal ini? Tidak ada orang yang mau menyalahkan dirinya sendiri, apalagi saat dia sedang kecewa. Harus ada kambing hitam. Dialah . . . . . . . . . . . . . . . . . .  

TUGAS KULIAH SEMESTER 5
Bangkeeee !!!!!!

Selasa, Desember 15, 2015

Di Balik Debat

Ada sedikit cerita tentang debat tertutup hari ini. Tentu saja yang pasti bukan cerita tentang adu argumen 8 calon Legislatif dan 2 calon Eksekutif yang maju menjadi perwakilan untuk setahun ke depan, hal ini sama sekali tidak menarik untuk dibahas. Karena siapapun yang nantinya terpilih, ya itulah suara terbanyak yang berasal dari votenya warga fakultas. Ini adalah tentang mata saya yang lagi-lagi menangkap sesuatu. Tentu saja tidak pernah jauh dari manusia tak pernah salah (katanya) yang juga disebut dalam beberapa istilah berbeda, wanita, perempuan, cewek, kaum hawa, dan sebagainya.

Sebelum membahasnya, sedikit kutipan manfaat dari debat tertutup yang dapat saya tangkap hari ini, perlu rasanya untuk dishare agar sedikit-banyaknya ada perubahan ke arah yang lebih baik dalam keseharian kita. Jangan pernah menilai orang hanya dari kebiasaannya, kenalilah terlebih dahulu dia lebih dalam sebelum memberikan penilaian yang sepihak. Saya dapatkan pelajaran ini dari salah seorang calon yang mendapat pertanyaan dari audiens. Mungkin kalian tidak begitu memahami maknanya jika belum merasakan. Tetapi perlu diingat, jangan lupakan kata-kata ini karena bisa saja suatu saat akan ada yang justru menyerang balik karena kalian melanggar nasehat ini.

Cukup !!! Kita kembali kemana seharusnya jalan cerita ini mengalur.

Dia sedang berdiri di belakang saat saya masuki ruangan yang hampir benar-benar steril dari dunia luar itu (maksudnya dari orang-orang yang tidak terlibat secara langsung). Pun saya sebenarnya bukan orang yang bisa ikut dalam acara tersebut. Saya bukan panitia, bukan pemilik proker (program kerja), bukan undangan, bukan tim sukses, bukan perwakilan organisasi, apalagi perwakilan jajaran Dekanat fakultas. Jelas saja bukan. Wong saya hanya mahasiswa biasa dan biasa-biasa saja. Tetapi karena sedikit berpandai-pandai saya akhirnya dapat satu kursi untuk bisa diduduki pada debat tersebut. Sekali lagi saya bisa masuk dan duduk sebagai audiens.

Debat ini tidak terlalu menarik karena mata saya lebih tertuju pada kesibukan seseorang yang memakai almamater dan menyandang kamera SLR di lehernya. Ini adalah ciri yang menandakan bahwa dia adalah panitia dan bertugas dalam hal dokumentasi. Harus diakui bahwa dalam sekali pandang dia adalah makhluk yang benar-benar sempurna. Di luar sikap dan kepribadiannya yang tidak saya ketahui, dia dengan sangat jelas ditempeli label kecantikan yang sangat istimewa. Bukan pertama kali memang saya melihatnya. Berkali-kali, bahkan sangat sering dia muncul di depan mata, entah ketika keluar kelas, sedang berjalan di lorong fakultas, sedang makan di kantin, bahkan ketika keluar dari kamar mandi (kamar mandi di kampus tentu saja, bukan kamar mandi di kost atau rumahnya, apalagi kamar mandi saya).

Kali ini saya agak susah merangkai kata, masih harus berpikir kata apa yang sekiranya pas dan pantas untuk mendeskripsikan orang ini. Dia terlalu cantik, dan terlalu jauh jika disandingkan dengan saya. Sejauh jarak bumi dan langit yang dibatasi atmosfer yang membuat bintang jatuh tidak jadi sampai menyentuh tanah karena telah terbakar dalam perjalanannya yang sangat panjang. (Owhhpps, sepertinya saya memilih perbandingan yang kurang pas). 

Ah, entahlah. Dia memang benar-benar sulit untuk dideskripsikan. Bahkan jauh lebih sulit daripada mendeskripsikan berbagai macam tanah seperti pada salah satu mata kuliah yang saya ambil. Oke !!! Saya cukupkan di sini saja karena tidak tahu lagi harus memakai rangkaian kata yang bagaimana untuk memujinya. Intinya dia cantik dan saya suka melihatnya.


Senin, Desember 14, 2015

Gerimis Manis

Mengapa ketika hujan (terutama ketika gerimis) dunia selalu saja tiba-tiba dipenuhi perempuan-perempuan cantik?  Bukan sekedar mengarang atau mengada-ada, tetapi ini memang sudah beberapa kali terjadi. Ketika gerimis menyerang tanah, lalu bergabung membentuk aliran kecil sungai yang lebarnya hanya beberapa centimeter, akan sering terlihat perempuan-perempuan berpayung berjalan di sepanjang jalan. Kadang mengikuti dan kadang berlawanan arahnya dengan aliran yang terbentuk. Juga tidak jarang mereka melangkah memotongnya. 

Apa karena hati yang sepi sehingga kaum hawa selalu tampak lebih cantik? Tidak juga. Setiap hari saya selalu berjalan di jalan yang sama, dalam waktu yang kerapkali juga sama. Anehnya, suasana yang ditampilkannya selalu saja berbeda. Untuk kesekian kalinya selama hujan gerimis yang saya tempuh, perempuan-perempuan berparas ayu selalu memanjakan mata dengan pesona wajahnya. Hanya saat gerimis, dan ketika mentari sedang berkuasa di siang yang menjadi miliknya, atau mendung sedang menampilkan pucatnya, hal itu tidak pernah terjadi. Kebetulan? Tidak mungkin kebetulan selalu terjadi berulangkali. 

Meski tidak menyapa, menoleh pada saya pun tidak, sebuah hiburan kecil tidak sengaja telah mereka hadirkan. Tanpa kesadaran yang melandasi, perempuan-perempuan nan manis kenampakannya itu telah memberikan aura gembira saat hati beku dan kepala sedang panas. Gerimis yang mengandung makna, kadang ada pertanyaan yang tidak terlontar saat merasakan sentuhanmu. Adakah satu diantara mereka yang akan berada di sini (tunjuk dada kiri) mengikuti jejak kemanapun melangkah? 

Sabtu, Desember 12, 2015

Senior

"Nitip sebentar ya, saya mau ke kamar mandi." Penjaga perpustakaan itu menitipkan pekerjaannya beberapa saat lalu hilang di balik lift. Sudah hal yang biasa karena hampir setiap hari saya keluar masuk ruangan berukuran 10 x 15 meter itu. Jadi penjaga perpustakaan sudah hafal wajah saya. Dan jika terjadi apa-apa sayalah orang pertama yang akan menjadi saran tendangannya.

Ya, lantai itu kamar mandinya tidak berfungsi sehingga mau tidak mau jika ingin buang air atau keperluan di kamar mandi harus turun ke lantai 3 atau naik ke lantai 5. sedikit merepotkan memang namun apa daya, kamar mandi di lantai tersebut sudah rusak sejak 8 bulan yang lalu dan belum diperbaiki hingga detik ini.

"Owh, iya Pak." Melihat sejenak, lalu saya lanjutkan mencari buku literatur yang berbahasa Indonesia (di rak lebih dominan terdapat buku berbahasa Inggris).

Cukup sulit ternyata, karena memang ilmuan-ilmuan terkenal selalu berasal dari luar negeri, sementara ilmuan dalam negeri seperti prosesor yang mengajar salah satu mata kuliah saya, juga bukunya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Belanda, adapaun bahasa Indonesianya telah raib entah kemana.

Satu-satunya buku berbahasa Indonesia yang saya temukan setelah hampir sepuluh menit, letaknya berada di rak paling atas, sekitar 2 meter tingginya sementara saya hanya 170 cm (kurang lebih). Jadi saya mesti berjinjit untuk menggapainya, alamat pasti dan tentu saja keseimbangan tubuh menjadi berkurang karenanya. Ditambah lagi buku yang akan saya raih ternyata cukup tebal dan beratnya mungkin hampir mendekati 5 Kg (berat di sampul). 

Setengah sampai, buku itu tidak tepat dalam genggaman saya ketika ditarik. Alhasil buku yang ternyata berdebu cukup tebal itu jatuh ke lantai dan debunya mengudara bebas hingga sekitar pinggang saya.

"Uhuk. . . Uhuk." Terdengar seorang bersuara sepersekian detik setelah buku jatuh.

Saya lihat ke samping bagian belakang, rak seberang yang hanya berjarak kurang dari 1,5 meter. Seseorang sedang jongkok dan tangan kirinya berada di antara mulut dan hidung saat saya menoleh. Sinar matahari yang masuk melalui jendela tidak bertirai menyoroti debu-debu yang sedang beterbangan. Cukup tebal sehingga wajar saja jika orang yang sedang jongkok itu terbatuk-batuk dibuatnya.

yang saya pikirkan saat itu hanya satu, apakah buku jatuh itu sempat mengenai tubuhnya sebelum mendarat di ubin? Rasanya tidak karena tidak ada bunyi lain selain gedubrak buku ketika tiba di ubin, namun posisi jatuhnya buku itu sangat memungkinkan jika sebelum mendarat sempat menyentuh badan orang tersebut terlebih dahulu. Ah, sudahlah, sudah terlanjur.

"Ups, maaf Mbak." Ternyata seorang perempuan. Kemungkinan lebih tua dari saya jika dilihat dari struktur wajahnya yang tidak lagi tertutup tangan.

Dia tidak menjawab, hanya tersenyum dengan wajah yang kurang enak. Ini yang membuat saya tambah yakin bahwa sebelum mendarat di ubin, buku itu sempat mengenai saah satu bagian tubuhnya. Atau mungkin karena efek senioritas. Ya, dia memang angkatan tua dan sebentar lagi akan lulus, sementara saya masih menikmati perkuliahan dalam waktu yang ditentukan jadwal. Di luar itu beberapa kali saya juga melihatnya sering membaca buku-buku tebal atau kumpulan jurnal di pojok perpustakaan yang lebih sepi dan sedikit tertutup oleh tumpukan skripsi.

Saya mengambil buku yang jatuh dan langsung melangkah ke salah satu bagian perpus yang masih kosong, tempat saya meninggalkan laptop tadinya. Ingin sebenarnya menanyakan sebelum saya minggat dari rak buku, apakah dia benar-benar tertimpa buku atau hanya terimbas karena debunya saja. Tetapi ekspresinya tidak memungkinkan untuk di ajak bicara, jadi saya putuskan untuk menjauh saja.

Kebetulan saya duduk di dekat kursi penjaga yang sedang keluar, dan kebetulan lagi saat itu perpus penuh sehingga sedikit ramai suaranya. satu-satunya kursi kosong selain penjaga adalah tepat di samping saya. Sudah pasti saya berpikir Mbak yang kejatuhan buku tadi akan duduk di dekat saya. Dengan sudut mata saya perhatikan, dia keluar dari rak buku, memandang segala penjuru mencari tempat kosong. Awalnya sudah melirik bangku kosong di samping saya, namun akibat insiden yang baru saja terjadi sepertinya dia mencari alternatif lain untuk duduk.

Penjaga masuk dan melihat seseorang masih berdiri kebingungan (penjaga sudah hafal tabiat orang-orang yang masuk perpustakaan).

"Iki lho Mbak, onok seng kosong." 

Tidak ada jawaban, perempuan itu akhirnya duduk di samping saya. Tau apa yang saya lakukan? Pura-pura serius membaca seolah tidak menyadari ada seseorang yang datang. Gaya sok cool yang gagal tentu saja, karena secara penampilan dan apapun, saya adalah orang yang sangat biasa.

Mata nakal saya tidak dapat dikendalikan, beberapa kali sudut mata menangkap gambar yang bisa dikatakan memanjakan mata. Mbak alias perempuan yang duduk di samping saya sekarang ternyata cantik (versi saya karena cantik itu kan relatif, katanya). Wajahnya putih dengan sedikit jerawat kecil di jidat dan pipi kanannya, matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan berwarna pink (pakai lipgloss tipis). Rambutnya sepunggung dan ikal dan sedikit warna di bagian bawahnya. Dan yang paling membuat mata manja adalah pakaiannya yang walaupun tidak terlalu terbuka tetapi sedikit kurang sopan jika boleh dikatakan seperti itu meskipun tidak menampakkan sesuatu yang terlalu sensititf.

Jadi bagaimana pakaiannya? Celana jins biru muda yang ketat dipadu dengan baju kemeja pink yang serba pendek. Pendek lengan dan pendek bagian bawahnya, dari lengannya dapat dilihat ketiaknya yang bersih dan jika dia terlalu menundukkan tubuhnya, maka dari belakang akan terlihat terbuka (mengerti yang saya maksud ?). Juga 3 kancing bagian atasnya dibuka (mungkin karena gerah) hingga dengan jelas menampakkan tantop hitamnya yang sangat ngeprees.

Setelah saya berpikir sejenak, saya ingat dengan wajah ini. Mbak inilah orang dulu memaki dan membentak saya ketika telat satu setengah jam datang ospek. ketika itu saya cukup takut karena masih maba (mahasiswa baru) ditambah kejudesan mulutnya yang judes minta ampun, sangat tidak cocok dengan struktur pembentuk wajahnya yang lebih terlihat bersifat keibuan (bukan ibu-ibu). 

Di suatu kesempatan, tiba-tiba mata saya dan perempuan itu beradu pandang, sebagai orang yang lebih muda tentu saya (paksakan) untuk menyapa terlebih dahulu. Walau hanya dengan senyum dan sedikit anggukan kecil. kali ini dia menanggapi dengan senyum dan menatap saya sedikit lebih lama.

"Kamu yang dulu telat lama banget itu bukan pas ospek?" Tanyanya.

Astaganaga. Nafasku berhenti beberapa detik lalu tersenyum masam. Dia masih ingat saja ternyata.

"Benerkan?" Tanyanya lagi.

"Iya mbak." Saya sangat menghemat jawaban ketika itu. Tapi rasa malu tetap jelas dapat dilihatnya dari wajah saya yang memerah.

Satu fakta yang membuat semuanya berubah, saya dan perempuan itu ternyata satu jurusan, sudah cukup terkenal bahwa dalam jurusan kami tidak mengenal batas antara senior junior. Keadaan seperti itu memang benar adanya. Hanya diwanti-wanti dengan kata-kata "Silahkan bully senior tapi jangan coba-coba untuk membentak". Silahkan terjemahkan sendiri bagaimana maknanya.

"Maaf ya, itu dulu emang udah tugas sesuai tata tertib. Jadi ya mau gak mau." Klarifikasi atas tindakannya dulu kepada saya yang kurang berperikemanusiaan baru dilakukan setelah Dua tahun kemudian -___-

Kok tiba-tiba berubah baik begini? Padahal baru beberapa menit yang lalu wajah masamnya dia tampilkan. Sudahlah saya tidak berani mengungkit lagi, takut merusak suasana yang sedang baik.

Hari itu akhirnya saya dan Mbak Anis meninggalkan perpustakaan bersama-sama setelah banyak cengkarama yang terjadi (bahkan sampai ditegur pembaca lain dan penjaga perpustakaan karena dinilai terlalu berisik).

Patinya tidak sampai berakhir di perpustakaan saja. Tidak ada istimewanya apa yang saya ceritakan jika hanya sampai di sana. Setelah hari itu, beberapa kali kami berangkat ke kampus bersama, makan berdua, dan tentu saja hampir setiap malam minggu adalah jadwal pasti kami bersua menghabiskan waktu bersama. Akhirulkalam, aku jatuh cinta pada senior, pada perempuan yang usianya lebih tua.

(Langsung klarifikasi : Ini adalah hoax, plesetan dari beberapa pengalaman yang dilebih-lebihkan)

Jumat, Desember 11, 2015

(Tidak Ada Judul)


Aku ingin curhat !!!

Diawali dari sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, Apakah kamu masih sering (setidaknya pernah) membaca tulisan-tulisan galau yang aku gores meski kadang bukan tentangmu?

Ya, itu pertanyaanku. Kita memang diakrabkan oleh rangkaian huruf dan kata yang menjadi kalimat kemudian terus meluas menjadi paragraf. Yang akhirnya bergabung menjadi postingan-pstingan yang tidak jelas ujung pangkalnya (termasuk postingan kali ini). Aku menulis bukan karena aku ingin menjadi penulis atau sastrawan, aku menulis bukan untuk penghasilan, juga bukan untuk mengusir galau. Hanya sekedar untuk mengungkapkan ekspresi jiwa karena aku (sepertinya) ditakdirkan  untuk tidak menjadi seorang yang pandai bersuara. Diam selalu lebih perkasa dalam tubuhku membuat nyali untuk bersuara menjadi ciut dan kisut. Seandainya ingin sedikit merubah dunia (seperti selogan di profileku) namun tidak bergerak, bagaimana mungkin dunia bisa berubah?

Uups, bukan, bukan ini curhatan yang aku maksud.

Aku ingin curhat tentang wanita, tentang perempuan, tentang cewek dan sejenisnya. (Merubah dunia melalui mereka?). Ah, tentu saja tidak. Aku tidak berpikir sampai ke sana, lagipula aku tidak mengerti caranya, bahkan untuk memahami mereka saja butuh waktu, pengalaman, dan mungkin juga study literatur yang cukup, serta perlu belajar langsung dari ilmuwan yang khusus mempelajari makhluk yang katanya selalu benar itu. Jujur saja aku tidak sanggup melakukannya.

Ekhm, back to first question (yang paling atas). Kata 'kamu' yang dimaksud dalam pertanyaan di atas adalah seorang (tentunya, karena 'seekor' adalah untuk binatang) 'makhluk tidak pernah salah' yang lama tidak berjumpa dan hilang kontak denganku. Aku sedang merindukannya. Ya, aku sedang rindu. Sedang merindukannya.

Sekian dan terima kasih !!!

Selasa, Desember 08, 2015

Bahagia Menyapa (?)


Jangan padamkan cahaya sebab aku tak bisa melihatmu dalam gelap. Tersenyumlah ketika berdiri di sampingku, kamu akan terlihat lebih sempurna. Gapai lenganku agar aliran hangat tubuhmu dapat mengalir menyentuhku. Dan tatap aku dengan ekspresi terbahagia yang tidak pernah kamu tampilkan sebelumnya

Semoga hatimu riang, semoga jiwamu terjebak dalam keindahan saat kita berdiri berdampingan. Semoga kamu merindukan (lagi) suasana saat kita bersama. Semoga, semoga dan terus semoga. Yang dari waktu ke waktu hanya terus berupa harap, yang entah akan menjadi nyata entah tidak.

Izinkan aku sedikit bercerita. Mengungkap kesah dan rasa bersalah, menuliskan kisah yang sebenarnya tidak indah, menyampaikan pesan hati yang lama tak bersuara.

Diawali dengan sebuah tanya. Apakah sebenarnya ada bahagia yang pernah menyapa? Maksudku bahagia saat kita sedang bersama seperti aku merasakannya. Mungkin kamu cukup kesulitan menjawabnya. Bimbang akan membuatmu terpaku dulu beberapa saat sebelum berkata. Lalu kamu bisukan diri seraya berpikir bagaimana cara yang tepat untuk menjawabnya. Memilih kata tengah yang seperti tidak bermaksud apa-apa.

Antara menghormati dan menjaga. Itukah dia yang membuat kamu sebenarnya lambat bersuara? Tidak perlu kamu jawab 'Ya', mengangguk pun sebenarnya juga tidak berguna karena hanya itulah satu-satunya pilihan jawaban yang kamu punya. Bahagia itu memang tidak nyata adanya.

Lalu untuk apa aku bertanya jika jawabnya bisa diterka? Semata hanya untuk menghibur hatiku yang sedang resah. Aku terbenam ketakutan karena tidak bisa menjadi sosok sempurna untuk berada di sampingmu.

Jumat, Desember 04, 2015

Kawan Lama

Bagi kalian yang berasal dari pelosok nusantara sepertiku, apa yang kalian pikirkan tentang Jakarta? Sebuah kota yang hebat dengan glamour tingkat tinggi dan kejahatan yang juga meraja-lela bukan? Jika demikian halnya, kita memiliki pandangan yang relatif sama. Namun jika tidak, berarti kalian lebih mengenal Jakarta daripada aku. Pejabat tinggi, pengusaha kaya, rakyat menengah hingga pengemis bertebaran di sana. Beberapa tempat telah aku kunjungi dan tinggal di di kota metropolitan itu selama beberapa hari.

Pertama kalinya, aku menempati perumahan mewah seharga ratusan juta Rupiah di daerah Bekasi Barat (Bekasi sering kali di sebut bagian dari Jakarta walaupun sudah berada di provinsi yang berbeda). Itu 3 tahun yang lalu. Aku menginap di sana selama 3 hari. Belum lama ini aku juga singgah beberapa hari di kawasan elit Jakarta Selatan sekedar numpang tinggal sebelum melanjutkan perjalanan 3 hari kemudian menuju Malang. Lalu di bulan lain, aku juga pernah mampir ke rumah seorang Khatolik yang berbaik hati kepadaku. 2 hari aku tinggal di rumahnya yang terletak tidak jauh dari LP Cipinang. Rumah tipe menengah miliknya terletak di kawasan yang terbilang padat. Selanjutnya di kesempatan lain aku juga pernah tinggal di kawasan padat penduduk di Jakarta Timur. Tidak jauh dari kelurahan yang sempat menjadi trending topik di tv swasta dan nasional karena relokasi warga yang tinggal di sana oleh gubernurnya.

Di sini dan saat ini, aku tidak bercerita atau menjelaskan detailnya Jakarta karena aku sama sekali bukan penduduk asli atau pernah tinggal lama di sana. Salah-salah kata aku bisa di demo dan di bacok warga Jakarta dengan golok mereka. Ada seseorang yang ingin aku ceritakan dan dia kini tinggal di Jakarta. Dia adalah kawan SD ku dan semenjak pindah sekolah saat naik ke kelas 4 dulu, aku tidak pernah lagi melihatnya.

9 tahun kemudian, tepatnya di liburan kemaren dia kembali pulang. Sembilan tahun di Jakarta membuat lidahnya kini tidak bisa lagi menggunakan bahasa ibu yang dulu kami gunakan untuk berkomunikasi. Dan kalian tau? Ternyata dia tidak mengenaliku saat kami bertemu (sepertinya).

Sebut saja namanya Lina (aku ambil dari salah satu kata dalam nama panjangnya). Rumah kami berjarak sekitar 200 meter. Dan satu hal yang pasti tentunya rumah dia (baca : rumah orangtuanya) jauh lebih bagus dari rumahku karena ayahnya adalah pengusaha di Jakarta. Sementara ayahku hanyalah orang biasa yang menggantungkan penghasilan utama dari panen buah kakao.

Yah, meskipun aku sudah tidak lagi dia kenali (sebenarnya masih ingat, namun karena lama tak bertemu membuat aku perlahan hilang dalam memorinya) tetapi aku masih ingat sangat jelas tentang dia. Yang berbeda sekarang tubuhnya lebih melar dibandingkan 9 tahun lalu. Sekali waktu ketika itu, aku dan Lina tidak sengaja bertemu di warung nenek Sari yang dulu menjadi favorit anak SD untuk menghabiskan jatah uang jajan sehari.

Aku melihatnya dan dia tentu saja juga melihatku. Beberapa detik. Dia tidak tersenyum sama sekali (sepertinya sedang berpikir keras untuk mengenali wajahku yang semakin abstrak) tentu aku juga tidak tersenyum. Aku berlalu ketika urusanku selesai di warung itu. Pagi itu adalah pertama kali kami bertemu setelah sembilan tahun.

3 hari kemudian ibuku yang saat itu baru saja pulang dari sebuah acara kampung membawa kabar yang penting-tidak penting untuk di dengar.

"Masih kenal Lina?" Tanya Ibu sore itu.

"Masih, tapi kemaren ketemu di warung gak nyapa." Jawabku sejujurnya (aku memang bukan tukang bohong).

"Iya, waktu ditanya dia juga bilang, masih inget tapi rada-rada lupa wajahnya." Ibu meniru ucapan Lina.

Jadi aku mengerti sekarang mengapa Lina ketika itu hanya menatap tanpa senyum, padahal dia terkenal seorang yang ramah.

Aku pikir di beberapa hari berikutnya aku dengan mudah dapat berpapasan lagi di jalan dengan Lina karena memang jarak rumah kami cukup dekat. Ternyata tidak bahkan sampai dia terbang lagi ke Jakarta.

Seminggu setelah dia balik ke Jakarta, aku menyusul. Bukan menyusul Lina, tetapi menyusul ke Jakarta sebagai transit pertamaku menuju Malang. Selama beberapa hari aku menginap di rumah temanku di Jakarta. Selama beberapa hari itu pula aku di service (kecuali satu hari) dan di ajak keliling ibukota yang sumpek, macet dan panas namun penuh kemewahan yang tak pernah kulihat di pelosok Sumatera.

Lagsung saja pada inti pembicaraannya. Aku bertemu Lina di sebuah Mall di Jakarta (Sepengetahuanku, yang namanya jalan-jalan di Jakarta adalah mampir ke mall). Kebetulan sekali ketika itu aku sedang bersama teman perempuanku (sebut saja pacar, namanya Dinda). Karena saat itu kawan yang rumahnya aku pakai untuk menginap sedang terjebak macet sehabis mengurus bisnis kecilnya, jadilah aku mengajak orang spesialku saat itu (Ekhm).

Seperti yang bisa ditebak dengan sangat mudah, aku bertemu Lina di sana. Saat itu ketika sehabis nonton bioskop dan aku menunggu di depan toilet perempuan (Biasa gengs, nungguin si Dinda yang sedang meng-upgrade dandanannya).

Aku tahu itu Lina, tapi tidak berani menyapanya duluan, apa lagi di Jakarta (Memang ada hubungannya?). Jadilah selama beberapa belas detik aku melihat Lina tanpa kedip. Ingin menyapa takut di bilang sok kenal, tidak disapa nanti di bilang sombong. Otakku berpikir keras saat itu apa yang harus aku lakukan.

Seseorang dari kamar mandi kemudian menegur Lina, lalu tiba-tiba saja mereka mereka perbelukan, tertawa bersama (lumayan kencang, membuat beberapa orang yang keluar-masuk toilet menoleh sejenak). Kalian tebak gengs, Lina ternyata sedang bicara dengan Dinda. Mereka terlihat sangat akrab. Sempat ku dengar beberapa pertanyaan yang membuat kami bertiga akhirnya makan bersama. (Berempat lebih tepatnya bersama satu teman Lina yang saat itu masih di toilet).

"Sama siapa Din?" Itu pertanyaan dari Lina kepada Dinda.

Dinda menunjukku dan aku beradu pandang (lagi) dengan Lina. Kami bersalaman dan kemudian saling menyebutkan nama. reflek kami tersenyum lebar yang kemudian berubah menjadi tawa.

"Masih inget aku?" Tanya Lina.

"Kan kita pernah ketemu di warung nenek Sari." Jawabku.

Tawa kami semakin kencang hingga membuat teman Lina yang tidak mengerti apa-apa langsung berekspresi bingung ketika muncul dari pintu toilet. Begitu juga dengan Dinda yang sama bingungnya. Ketika kami makan barulah aku mulai mengerti apa yang sedang terjadi, begitu juga dengan Dinda. Lina apalagi, dia jauh lebih mengerti. Hanya temannya saja yang masih melongo melihat kami bertiga yang tiba-tiba saja akrab padahal baru bertemu. sepertinya dia masih bingung.

Untuk lebih jelasnya mari kupaparkan. Aku dan Lina adalah teman SD. Lina dan Dinda adalah teman dekat ketika mereka SMP. Aku dan Dinda, tentu tidak perlu ditanya lagi bukan? (SEPASANG KEKASIH !!! Jika kalian masih terlalu idiot untuk mengerti).

Lalu bagaimana dengan teman Lina yang masih bingung itu? Dia orang baru dan tidak terlibat sama sekali dalam hal ini.