Sabtu, September 26, 2015

&^&

Amarah kadang berjalan dengan seenaknya. Perlu evaluasi diri untuk mengkonversinya menjadi buah-buah ranum bernama pengertian. Juga perlu sabar untuk membuatnya menjadi buah dengan keranuman yang sempurna. Ah entahlah. Amarah memang bisa datang kapan saja bahkan terhadap hal yang sebenarnya sangat sepele. Ah entahlah. Amarah adalah bagian dari kehidupan yang hingga kini aku belum menemukan solusi untuk menjinakkannya

Rabu, September 16, 2015

Aroma

Benarkah sudah berubah yang tidak terlihat itu? Bukan. Ini bukan bicara soal fisik yang memang telah berubah. Ini tak bisa disambungkan dengan fisik, tidak juga bisa dihubungkan dengan penampilan atau dengan apapun yang menyangkut kekongkritan. Ini tentang sebuah rasa, yang dulu menggebu dan kini telah terlelap termakan kejenuhan dan bosan. Ah, entahlah. Itu tidak bisa terjamah dan hanya ada dalam hati tanpa bisa terlihat wujudnya.
Adakah seseorang yang kini telah menyentuhnya? Yang telah membuatnya luluh dan melupakan masa lalunya yang panjang. Yang telah merasuki hatinya sehingga dia tidak lagi sama seperti tempo hari.
Aku diam dalam keramaian saat semua orang memujinya. Dia adalah bagian yang kini membawa setengah hatiku. Kini semua orang memujanya, menyanjungnya dengan tampilan baru yang membuat dirinya terlihat lebih indah. Dia tersenyum menyambut setiap senyum yang mengarah padanya. Entah senyum yang sekedar bermakna terimakasih atau senyum bermakna lain seperti keterbukaan hati untuk dimiliki. Semua itu cukup untuk membuat darah menjadi panas, hati bergetar, dan menciptakan sebuah aroma yang tak diinginkan. Itulah aroma cemburu yang menyiksa tubuh.
           


Selasa, September 15, 2015

Latar Belakang yang Bertolak Belakang



                Saya putuskan untuk bicara di sini saja setelah tidak tahu lagi kepada siapa harus bercerita. Orang tua bukan hal yang tepat untuk tempat mengadu tentang hal ini. Juga tidak ada kawan yang sepertinya mau mendengar ocehan keluhan dan cerita kegalauan saya dalam beberapa hari terkahir. Saya seolah telah lama menikmati hari seorang diri, berlagak berada di tempat baru yang tiada seorangpun mengenali.
                Saya ceritakan sekarang
                Saat itu saya sedang rindu kepada seseorang dan kami telah lama tidak bertemu. Beberapa bulan yang lalu dia pergi ke luar kota dan saya juga. Ya, kami adalah pendatang di kota ini dan sedang sama-sama meretas jalan menuju pintu sukses. Kami dipertemukan di sini dengan beberapa cerita. Lalu cerita-cerita itu merangkai rasa dan getaran yang muncul setiap kali kami bertemu. Perlahan kami menerjemahkannya dengan cara masing-masing, sendirian. Hingga akhirnya sesuatu hal membuat kami bersatu, menjalin cinta dan melangkah bersama.
                Bulan-bulan dimana kami tidak bisa berjumpa sebenarnya sudah berlalu sejak dua minggu yang lalu. Kami telah sama-sama menginjak kota ini lagi, memulai kembali aktifitas dalam perjalanan menuju sukses yang kami damba. Tetapi kini ada gelagat yang tidak biasa dan rasanya sedikit aneh. Dia tidak lagi antusias ketika saya ajak bertemu. Bahkan dalam beberapa waktu dia menolak dengan caranya yang sangat halus dan terterima oleh logika.
                Tetapi kenapa? Apakah dia sudah tidak merindukan saya lagi? Entahlah. Sebenarnya ini adalah sebuah prediksi (yang sama sekali tidak diharapkan menjadi kenyataan) yang dari lama telah tumbuh dalam benak bahkan sejak hari pertama kami memulai hari. Dia hanya menganggap biasa semua hal yang berkaitan dengan saya, berbeda jauh dengan saya yang menganggapnya lebih dari sekedar seorang perempuan baik yang lemah lembut.
                Saya coba untuk melihat beberapa hal yang mungkin bertanggung jawab atas kejadian ini. Saya sangat paham bahwasanya kami berasal dari latar belakang yang bertolak belakang. Saya hanya seorang mahasiswa biasa dari pelosok yang berjalan kaki merambah hutan dan membuat jalan sendiri menuju cita-cita. Sementara dia adalah pengendara yang menuju cita-cita menggunakan mobil pribadi di jalur cepat tanpa hambatan. Apakah hal itu memang berlaku sehingga saya tidak layak untuk mewujudkan kebersamaan dengannya?
                Namun setiap hal yang mengatasnamakan cinta bisa membuat semua orang keluar dari orbit edarannya, membuat mereka lupa akan asal dan tujuan awalnya, membuat mereka menempuh jalur yang bukan miliknya. Itulah saya saat itu, saat cinta menusuk relung hati yang tidak mampu saya kendalikan. Dan saya tersadar setelah terhempas oleh sikap dia yang tidak lagi biasa. Mata saya terbuka untuk bisa melihat apa yang sebenarnya telah berubah.
                Apakah ini hanya sebuah halusinasi dari bentuk kelelahan hati atau juga mungkin ini yang disebut dengan kejenuhan? Ah, saya terlalu pusing untuk memikirkannya. Saya hanya ingin terus dan terus bersamanya hingga nanti kami mendapat sebutan ayah-ibu dari anak-anak kami, dipanggil kakek-nenek oleh cucu-cucu kami, disebut pasangan lansia atau manula oleh orang-orang yang terjun ke dunia masyarakat, dan disebut almarhum/ah oleh orang-orang yang kelak kami tinggalkan.

Sabtu, September 12, 2015

Terabaikan

‘Suatu senja dalam sebuah percakapan di tepi danau dengan seorang perempuan yang merupakan sahabat lama’

Kadang aku memikirkan beberapa kondisi tentang jalinan hubungan sebagai sepasang kekasih namun tak pernah berjumpa. Tidak ada alasan kuat yang meyakinkan bahwa pertemuan tidak bisa terlaksana. Dua insan yang tidak berada di dua tempat berbeda dengan jarak yang jauh, juga tidak dirundung kesibukan yang teramat sangat sehingga tidak ada waktu untuk bertemu. Mungkin salah satu dari mereka terlalu asyik dengan dunianya, melupakan seseorang juga ingin memiliki hari sejenak bersamanya.
Sejatinya dia memiliki hak untuk bisa berjalan di sampingmu, menikmati senyummu, dan mendengarkan kesahmu. Dia hanya tidak ingin mengusik, itu saja. Baginya bahagia adalah hal utama yang harus diwujudkan dalam hidup. Dan sepertinya tanpa kehadiran dia kamu sudah tersenyum dan tertawa. Dari sudut tak terlihat dia menyaksikanmu, saat kamu tak menyadari kehadirannya yang berdiri tepat disampingmu. Dilihatnya kamu tersenyum dengan mereka, kalian tertawa bersama, tiada rona sedih dan muram yang dia saksikan di rautmu.
                Hatinya tergetar melihat kejadian yang hampir setiap hari disaksikannya. Tanpa kehadirannya kamu terlihat cukup bahagia. Lalu dia berpikir untuk tetap bertahan saja pada posisi dimana dia terabaikan untuk waktu yang tidak tahu sampai kapan. Dia tersenyum sambil menahan tumpahan air mata saat melihat kamu bersama mereka. Cinta dia padamu menguatkannya, dia meyakinkan dirinya bahwa ini tidak lagi akan berjalan lama. Malam-malamnya selalu dia isi dengan memikirkanmu, memajang potret senyummu di dinding kamarnya. Sambil berharap ada sedikit saja waktu yang dia bisa habiskan bersamamu, seperti mereka menghabiskan waktu bersamamu dibanyak waktu.
                Dia cemburu, namun tak pernah dikataknnya. Dia tidak ingin mengusik bahagia yang sedang menghampirimu. Dia tidak ingin menyulut api permasalahan yang dapat merusak bahagiamu. Dengan caranya sendiri, dia berusaha menikmati bahagiamu meski hatinya sedikit teriris oleh sikapmu yang sering mengabaikannya. Di suatu malam dia bertemu dan berbicara kepadaku, wajahnya merah, nafasnya memburu, beberapa kali kepalan dibuatnya, lalu dia menunduk, menutupi wajah agar tak terlihat air matanya yang akan segera tumpah mengaliri kedua pipinya.
                “Aku menyayanginya, aku hanya ingin sedikit waktu dia sediakan untukku. Aku ingin ada di sampingnya, menikmati hari bersamanya, mendengarkan canda tawa dan menikamti senyum bahagianya, aku mau mendengarkan ceritanya ketika dia bersedih dan banyak hal yang ingin aku lakukan bersamanya. Tapi dia?”
                Wajahnya mengiba bercerita. Aku terdiam. Ini adalah posisi dimana dulu aku pernah mengalaminya. Jalinan cinta tanpa pertemuan selama beberapa saat lamanya. Hanya bisa melihat, menyaksikan dan memandangi orang tersayang dari jauh, tanpa bisa menyentuh dan mengucap sepatah kata padanya. Dan berusaha ikut bahagia saat melihatnya tersenyum, meski hati harus memaksa sekeras-kerasnya. Yang bahkan hingga kini dia sama sekali tidak menyadarinya.
Mungkin kamu bertanya, apa yang aku lakukan? Sama seperti yang dia lakukan, aku kemudian mencari bahagiaku seorang diri, melupakannya secara perlahan hingga akhirnya aku ‘bertemu’ lagi denganmu. Selama ini aku telah terabaikan oleh orang yang dicinta. Dan tahukah kamu bahwa itulah kesedihan yang rasanya melebihi dari segala kesedihan yang pernah ada.

Kamis, Juni 18, 2015

Melancongi Surabaya

Hanya terlintas sebentar saja dalam kepala ketika saya sedang menatapnya saat kami duduk berhadapan di dekat perpustakaan. Saya pikirkan sejenak lalu saya tanyakan kepada dia yang saat itu sedang tersenyum menatap layar laptopnya. Saya tidak yakin dan juga tidak terlalu berharap, kecil kemungkinan apa yang saya pikirkan menjadi daya tarik baginya. tetapi waktu itu tidak apalah, daripada kami bingung mau membahas apa, maka saya ajukan saja sebuah topik yang mungkin membawa pembicaraan kami ke arah yang lebih dalam. Dan ternyata benar.

Saya tanyakan bagaimana seandainya sekali waktu kita (saya dan dia) menghabiskan waktu dengan keluar kota seharian penuh, tentunya kota-kota terdekat yang bisa diakses dengan kendaraan umum. Dia tersenyum, menatap saya sebentar lalu menyetujui ajakan saya yang sebenarnya hanya berupa pendapat dan saran pengisi diam saja. Dari itu mulailah kami merencanakan perjalanan kecil yang akan kami tempuh sebelum ujian nanti.  Berdua menjelajahi kota tetangga. Masing-masing dari kami mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama. Dan uang itu disatukan lalu digunakan untuk keperluan selama perjalanan, mulai dari tiket, makan dan sebagainya.

Beberapa kota masuk dalam seleksi lancongan kami. Paling utama adalah Kediri, kota di kaki gunung kelud yang berjarak sekitar 3 jam dari Malang. Tempat wisata bukan tujuan utama yang ingin kami kunjungi. Simpang Lima Gumul lah yang menjadi daya tarik untuk menginjakkan kaki di sana. Bangunannya mirip dengan monumen Arc De Triomphe Paris dan menjadi ikon bagi Kediri. Sudah bulat tekat awalnya, tinggal menunggu hari yang pas. 

Beberapa hari sebelum berangkat ketika mengecek harga tiket lewat internet, ternyata tidak sesuai ekspektasi. Terlalu mahal untuk jarak 3 jam jika menggunakan kereta. Kami sempat berencana pindah armada menggunakan Bus. Tetapi daya tarik kereta api akhirnya membatalkan niat kami mengunjungi Kediri. 

Blitar menjadi pilihan selanjutnya. Adalah Makam mantan RI 1 Ir. Soekarno magnetnya. Setelah berpikir dan berdebat sedikit, kami putuskan untuk tidak jadi saja. Blitar adalah kota kecil, belum ada diantara kami yang pernah ke sana. Karena menggunakan kendaraan umum, tentunya akan menyulitkan kami untuk bertualang di sana.

How about Surabaya? Kota metropolitan ini memang sudah ada dalam benak semenjak sebelum-sebelumnya. Hanya saja kota ini terlalu maenstream untuk dikunjungi. Saya dan dia sudah pernah menginjak tanah ibukota Jawa Timur itu. Saya pernah menggunakan kereta api dan sepeda motor ke sana. Dia juga sudah beberapa kali ke Kota Pahlawan itu menggunakan kendaraan pribadi. 

Beberapa hari kami sempat berpikir. Dan memang satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk dikunjungi agar kami bisa pulang hari itu juga adalah Surabaya. Ketika melihat tiket kereta api (lagi-lagi lewat internet) ternyata hanya ada kereta yang berangkat pukul Duabelas siang dan pukul Dua siang. Kendala lagi-lagi di kendaraan yang akan mengangkut kami. Akhirnya kami putuskan saja untuk naik bus dari terminal Arjosari karena setiap jam dipastikan ada bus yang berangkat atau tiba dari Surabaya. Fix. Besok berangkat ke Surabaya menggunakan bus.

Beberapa jam sebelum berangkat, entah saya atau dia yang memulai. Kereta sepertinya lebih menarik untuk dinaiki daripada bus. Debat sejenak kembali terjadi hingga jam sudah menunjukkan pukul Sepuluh lewat sedikit. Diputuskan akhirnya untuk naik Kereta saja -entah ilhamnya dari mana-.

Kami akhirnya berubah haluan dan bergerak menuju Stasiun Malang. Sampai di sana sekitar pukul Sebelas dan melihat antrian panjang pemesanan tiket hari ini. Beruntung ada satpam yang bertanya kepada kami, dan dengan bantuannya kami dapat memperoleh tiket lebih cepat. Akhirnya ke Surabaya tinggal di depan mata.

Setengah jam sebelum kereta berangkat kami masuk ke gerbong 6 kereta bernama Jayabaya. Keretanya saat itu sepi. Setiap gerbong hanya diisi tidak lebih dari Sepuluh orang. Dan sedikit sial, tepat di depan kami adalah seorang pemilik tiket jadi-jadian. Dia laki-laki bernama Thomas Becket Angga -nama yang keren menurut saya-. Sayang tidak sekeren penampilannya. Semua yang melekat di badannya adalah atribut wanita, mulai dari tas, celana, kalung hingga sepatu semuanya adalah milik kaum hawa. Sampai gaya bicaranya juga lebih anggun daripada wanita normal kebanyakan.

Kami putuskan untuk pindah saja ke kursi yang lain. Antara geli, takut dan geregetan melihat wujut yang duduk di depan kami. Barulah setelah itu kami dapat bernapas lega. Setengah jam setelah kereta berjalan, kami membuka bekal yang dimasak tadi pagi oleh seorang yang spesial dan tentu saja spesial untuk bekal selama perjalanan -Terimakasih untuk masakannya, kapan-kapan mau lagi-. Ada ikan asin, sayur kangkung dan tempe goreng yang dimasaknya. Juga sebotol sambal pedas yang dia bawa untuk tambahan bekal agar makan terasa lebih nikmat.

Saya makan dengan lahap. kami makan dengan iringan canda tawa dan cerita-cerita seputar masak memasak. Seandainya dia jadi istri saya nanti :D :D :D Selesai makan, kami lanjutkan dengan bercerita tentang apa saja yang akan dilakukan di Surabaya nanti. Beberapa tempat telah saya cek lokasinya, terutama yang dekat dengan stasiun pemberhentian.  Sekitar pukul setengah Dua kereta berhenti. Kami turun dari kereta dan berjalan menyusuri stasiun mencari musholla. Beberapa saat kami tunaikan kewajiban.
Tiket Keberangkatan Malang-Surabaya

Stasiun Surabaya Gubeng. Saya berteriak dalam hati, mungkin dia juga. Kami putuskan untuk langsung saja membeli tiket pulang. Ada dua pilihan. Pukul delapan malam atau pukul setengah Dua belas. Agar tidak terburu-buru tentu saja kami putuskan megambil yang jam setengah Duabelas saja. 

Tujuan selanjutnya setelah mendapatkan tiket pulang adalah Monumen kapal selam. Tidak ada pilihan lain karena inilah tempat wisata paling dekat dengan stasiun Gubeng. hanya sekitar 200 meter sebelah baratnya atau berjalan sekitar sepuluh menit. Disana yang saya dan dia lihat adalah bagian dan alat-alat yang ada dalam kapal selam yang kini telah direnovasi dan dijadikan tempat wisata. kemudian dilanjutkan dengan menonton film tentang kapal tersebut.



Setelah itu -karena tidak tahu jalan- saya bertanya kepada beberapa orang jalan menuju Kebun Binatang Surabaya (KBS). Bukan untuk melihat harimau ompong, mamalia uzur, ataupun Unta lansia, ini hanya untuk mempermudah saja karena tujuan kami sebenarnya adalah Patung ikan hiu Sura dan Buaya yang menjadi simbol kota Surabaya, kebetulan letaknya tepat di depan KBS. 

Kami terus berjalan ke arah barat. Karena mulai bingung, kami mampir sebentar ke Plaza Surabaya. Beberapa menit saja karena hanya hanya untuk numpang ke toilet. Kepada petugas toilet saya tanyakan jalan menuju KBS. Mendengar jawabannya, kami sedikit kecewa karena jaraknya masih terlalu jauh. Dan angkutan Damri yang katanya bisa mengantar kami ke sana sangat jarang muncul, jika pun ada selalu sesak dan tidak bisa di isi penumpang lagi, bahkan untuk berdiri.

Kami terus melangkah sampai bertemu patung air mancur dan kemudian berbelok ke arah Utara. Setengah jam berikutnya kami bertemu tugu pahawan berupa 3 bambu runcing yang berada di tengah jalan. Di pinggirnya ada penjual bakso, kami mampir sebentar, saya memesan es degan dan dia memesan bakso. Dari keterangan tukang bakso, kami dapat menunggu bus Damri di halte tidak jauh dari situ. Ternyata benar saja. Akhirnya Damri mengantarkan kami bertemu dengan Patung Sura dan Buaya.

Setelah turun dari Damri, untuk sampai ke sana kami harus menyeberang dulu melalui jembatan penyeberangan. Ini adalah yang paling saya takutkan. karena biasanya selalu ada preman yang mangkal di sana dan siap memalak setiap orang yang lewat. 

Benar saja, baru sampai di anak tangga ke 6, seseorang terlihat memandang kami dengan wajah tidak menyenangkan. Dia sedikit kumal, bertato dan seperti penjahat gayanya. Preman itu terus memandang kami. Kaki saya gemetar, tetapi karena saat itu sedang berjalan bersama seorang perempuan saya usahakan untuk biasa saja -biar kelihatan gentle :D- Begitu tepat berada di depan sang preman, saya tersenyum sedikit dan menundukkan kepala sambil menyapa. Preman itu tersenyum. Gigi bagian kirinya ompong. Kami berlalu dengan tatapan sang preman yang tetap saja menakutkan meski sudah disapa dengan sangat ramah.

Tiga menit setelahnya, kami benar-benar sampai di tempat yang sangat-sangat sayang jika tidak dikunjungi seandainya mampir ke Surabaya. Tidak ada apa-apanya memang. tetapi inilah Surabaya dengan Sejarah Ikan Hiu Sura dan Buaya yang sedang berkelahi. Beberapa foto kami abadikan di sana. berlatar patung simbol asal mula nama Surabaya itu, kami mengambil beberapa gambar, baik sendiri ataupun berdua. Saat itu sudah sore dan kami belum sholat Ashar. Kami putuskan untuk ke Masjid dulu, dalam rencana akan kembali ke patung jika hari sudah gelap. karena cahaya lampu yag ditembakkan ke arah patung membuat gambar yang diambil akan lebih baik. 
Halo Surabaya

Satu-satunya mesjid adalah di seberang jalan dekat kami turun dari Damri tadi. dan berarti ahrus melewati jembatan penyeberangan lagi, bertemu dengan preman lagi. yang tadi aman, apakah sekarang juga aman?

Kejadian yang sama terulang ketika kami melewatinya. Buru-buru kami melangkah setelah melewati preman yang masih berdiri di atas jembatan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak di Mesjid sambil menunggu Magrib tiba. Sambil mengecas hape juga. 

Setelah itu kami sebenarnya berniat untuk kembali ke patung, tetapi berpikir tentang keamanan dan lagipula kami hanya berdua di tambah tidak ada yang kenal kami di kota ini, akhirnya diputuskan saja untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Bungkul, taman yang (kalau tidak salah) memperoleh predikat taman terbaik di Asia Tenggara pada 2013 lalu. Kami ke sana dengan berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh. Di taman Bungkul kami duduk di pinggir batas taman, melihat lalu lalang orang yang mampir sekalian melepas lelah. Saat itu sudah pukul Tujuh malam. Kurang dari 5 jam lagi kami akan angkat kaki dari Surabaya.

Sekitar satu jam kami menikmati malam Surabaya di taman Bungkul. Pukul 8 malam kami sudah angkat kaki karena mengingat begitu sulitnya angkutan di sini. Di halte sekitar 200 meter dari Taman bungkul kami menunggu. Hingga hampir satu jam, tidak satupun Damri yang muncul. Hanya ada beberapa angkot dan tidak tahu tujuannya kemana. Ketika jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam sementara Damri tidak juga muncul, akhirnya tidak ada jalan lain. Kami harus berjalan kaki dari sana menuju stasiun Gubeng Baru tempat kami menunggu kereta ke Malang -letaknya juga tidak kami ketahui. kata petugas di pembelian tiket letaknya tidak jauh dari Stasiun Gubeng lama tapi entah dimananya-

Kami terus berjalan ke arah selatan, setelah berjalan ke arah selatan selama satu jam penuh, kami tiba di persimpangan besar yang membingungkan. rasanya tadi bus Damri tidak melewati jalur ini. Bingung beberapa saat, kami bertanya ke seorang satpam yang kebetulan sedang berjaga malam. Jawabannya lagi-lagi mengecewakan. kami sudah berjalan selama satu jam, dan diakatakannya jarak ke stasiun Gubeng Baru masih cukup jauh. Disarankannya untuk naik becak yang ada di seberang jalan saja karena sudah tidak ada lagi angkutan bermotor.

Kami menyeberang jalan dan tidak menghampiri becak. Kami terus melangkah ke arah yang di tunjuk satpam untuk menuju stasiun. Setengah jam lamanya, terlihat dari kejauhan cahaya terang di tengah jalan. semakin dekat semakin jelas bahwa itu adalah tugu pahlawan dekat kami makan bakso tadi siang. Nafas sedikit lega, karena dari sini saya sudah tahu kemana kaki akan dibelokkan untuk menuju stasiun. Tinggal mencari Stasiun Gubeng baru saja. Pedagang bakso yang tadi mangkal sudah tidak ada lagi. Sudah pulang sepertinya, atau sudah pindah ke tempat lain.

Singkat cerita kami meneruskan perjalanan dan berhenti sebentar tepat di dekat stasiun Gubeng -saat itu keringat sudah mengucur deras dan membasahi pakaian kami masing-masing- Kami membeli beberapa perbekalan untuk di kereta dan selama menunggu ketika sampai di Stasiun Malang nanti malam. Bertanya kepada ptugas supermarket kami dapati petunjuk menuju stasiun Gubeng Baru tempat kereta menaikkan penumpang. Sekitar setengah jam kami berjalan dan akhirnya menemukannya. Senang sekali rasanya, tiket sudah di tangan, Stasiun sudah di depan mata, tinggal menunggu kereta datang dari arah Jakarta. Saat itu pukul Sepuluh lewat sedikit. Kurang lebih satu setengah Jam lagi. Di sana kami menunggu bersama beberapa orang.
Penampakan Stasiun Gubeng Baru bersama tiket kepulangan


Lagi-lagi kami melihat tante Thomas juga ada di sana. Artinya dia akan kembali naik kereta yang sama dengan yang kami naiki. Beberapa kali kami berdoa bersama agar tidak satu gerbong lagi dengan dia, setidaknya tidak satu tempat duduk lagi. Bukan bermaksud merendahkan atau melecehkan, tetapi aneh saja rasanya dan kami sangat tidak biasa bertemu orang seperti itu.

Doa kami terkabul, kami tidak satu gerbong dengannya, tapi kali ini keretanya sedikit lebih ramai. Kami tiba di Stasiun Malang pukul Setengah Dua malam. Tiak ada angkot yang membawa kami ke kost jam segitu. Kami berniat menunggu sampai pagi saja sampai ada angkot yang beroperasi sambil makan nasi goreng yang kami beli dekat stasiun Gubeng sebelum berangkat tadi. 

Malang sangat dingin karena bertepatan dengan memasuki awal tahun ajaran baru. Badan menggigil dalam balutan jaket tipis yang kami kenakan. Untung di dalam tas saya ada kartu Uno. Kami mainkan sebagai pengusir jenuh. Kemudian juga ikut seorang petugas Stasiun bermain bersama kami hingga subuh. Dengannya kami bercerita beberapa hal tentang stasiun dan kampus karena dia tidak sempat merasakan suka duka dunia perkuliahan. Pukul 6 pagi kami meninggalkan stasiun. belum ada angkot sepagi itu. lalu kami berjalan ke pasar besar. Melewati balai kota, pasar burung dan alun-alun yang sedang direnovasi. kami duduk di sebuah halte di depan alun-alun. Bodohnya kami duduk di tempat yang salah. Angkot yang akan kami tumpangi tidak melewati halte itu. Wajar saja sampai matahari terang tidak satupun angkot yang lewat. Lagi-lagi kami harus berjalan kaki lagi beberapa menit menuju jalan yang benar -tempat angkot lewat-.

Pukul 7 kami baru duduk dalam angkot. Dari angkot kami berpisah, turun di kediaman masing-masing dan langsung menuju kasur karena seharian tidak tidur. Kepada seseorang terima kasih atas liburan seharinya di Kota orang, terima kasih telah membuatkan masakan yang enak selama perjalanan. Semoga ada liburan kita yang lebih menyenangkan setelah ini. Uang yang kami kumpulkan khusus untuk jalan-jalan ternyata bersisa cukup banyak. Perlahan uang itu kami habiskan di Malang untuk makan dan jalan-jalan