Kamis, Juli 28, 2016

Jatuh Rindu

Masih kau biarkan aku terus mengejar? Terima kasih, itu adalah kuas pewarna dalam hidupku. Membiarkanku terus berharap adalah alasan kenapa aku tidak akan pernah bisa berhenti melirikmu. Mungkin mulai terasa jauh, atau seiring waktu yang terus berjalan, kita seolah tampak semakin tidak dekat. Barangkali kamu tidak perlu tahu, bahwa suasana hati justru sekarang ini semakin menggebu. Aku sedang merindu.

Untuk kamu yang tengah berlagak angkuh, sikapmu itu adalah cambukan. Sampai kapan kamu akan terus begitu? Boleh jadi sebentar lagi malah kamu yang akan merasa, kamu akan jatuh rindu saat aku sudah tidak dapat kau sentuh. Nikmati saja selama itu masih mewarnai perjalananmu. Kau tahu kan, bahwa rindu akan selalu tiba saat apa yang kamu rindukan itu tidak lagi dapat kau raih. Itulah hukum kehidupan. 

Selasa, Juli 26, 2016

Melunak, Membuka Diri

Mungkin saja terus berharap akan jauh lebih baik
Kamu biarkan aku terus berjuang dan berusaha dengan ketidakpedulianmu
Kamu abaikan tatap tulus yang terpancar dari bola mataku
Terus mengejar seperti jauh lebih menyenangkan
Daripada cepat mendapatkan, lalu datang jenuh yang tidak mengenakkan
Sejauh ini, aku setuju dengan sikapmu
Tetaplah begitu dalam menjalani hari-harimu
Karena kadang aku juga ingin merasakan susahnya berjuang
Hanya satu saja pinta yang semoga kamu dengar dan mahfumkan

            Kau mengenalku. . . . . . . .
            Kamu tahu bahwa aku pernah melintas di depan matamu
            Juga ada aku yang pernah muncul dalam fikirmu
            Maka nanti, akan tiba saat dimana kamu lelah untuk terus mengabaikan
            Dan kamu mulai berpikir untuk melunak
            Membuka diri. . . . . . . .


"Jatuh Cinta di Ujung Senja"

"Get Well Son, Dear"

Jika ada orang yang detik ini bertanya tentang apa yang ingin kulakukan, maka jawabnya adalah "Get Well Son, Dear." Itu saja yang ingin kuperbuat, membisikkan kata-kata itu ditelingamu, yang sedang terbaring lemah dengan jarum infus menusuk pembuluh vena. Tangan kirimu lemah terkulai, pasrah pada tusukan menyakitkan yang sebenarnya membantumu untuk tetap kuat.

Sampai detik ini aku tidak tahu, gerangan apa yang sedang menimpamu. Terakhir kulihat senyummu yang manis menyapa taman-taman kampus yang bersih dan terawat, 3 minggu yang lalu. Kini, ingin sekali aku bertanya, bahkan ingin juga aku ikut menungguimu, menemani kamu yang terkulai lemah di pembaringan yang bukan milikmu.

Aku masih di sini, masih setia mendiami kotamu, seperti rasa rinduku yang juga masih setia untuk menanti tibanya waktu bertemu. Ingin kuberanikan diri mengunjungimu, menyaksikan dari dekat kejadian apa yang sebenarnya membuatmu tak berdaya, menghiburmu, dan mengajakmu kembali tersenyum. Akankah aku diterima? Olehmu, oleh keluargamu, oleh orang-orang dekatmu.


Selasa, Juni 21, 2016

Gaduh

Kamu adalah jauh yang dengan sedikit usaha coba untuk aku dekatkan. Menunggang harap sembari menyelipkan beberapa doa kusebut tentang inginku untuk menghabiskan waktu di depan tatapmu. Aku bukan seorang yang menarik, jelas. Juga bukan seorang yang dengan kepiawaiannya mampu membuat orang-orang tertarik, itu bukan aku. Aku hanyalah secuil sosok, melangkah gontai dengan tatap lesu, adalah aku, laki-laki yang termakan lelah dalam langkah.

Aku, sesosok laki-laki yang tergolek lemah dan tak berkelebihan, menatapmu saban hari dengan ribuan khayal. Dari jauh tentu saja. Jangan kamu tanyakan tentang keberanian, karena aku tidaklah punya. Yang ada di genggamku hanya ribuan cinta, dan jutaan setia yang tidak akan pernah membuat kecewa. Aku sebatangkara, terserang terik yang membuat peluh, dan dengan menatapmu aku merasa teduh. Kegaduhan dunia menyiksa pendengaranku, lalu dengan melihatmu aku seolah mendengar suara merdu, mensenyapkan gaduh-gaduh yang tidak berguna.


Senin, Juni 20, 2016

Tidak Menyapa

Jika aku menulis, maka ada sesuatu yang terjadi denganku. Rangkaian-rangkaian huruf dan kata yang kususun tidak berasal dari keadaan hati yang biasa-biasa saja. Termasuk hari ini. Kini hatiku sedang tidak biasa karena kamu muncul, berjalan di depanku. Dari jauh sudah kulihat, kamu pun sudah mengetahui ada aku yang sedang duduk di tempat yang tidak lama lagi akan kamu lewati. Ada beberapa detik yang menjadi saksi bahwa kita berada di area yang mensyaratkan untuk saling tersenyum, dekat sekali jaraknya. Namun aku dan kamu memilih untuk diam, seolah tidak tahu kalau kita hanya terpisah jarak yang tidak begitu jauhnya. Seolah baik aku ataupun kamu sama-sama enggan untuk menyapa, memilih untuk beranggapan tidak melihat saja. Padahal sebelumnya, beberapa detik lampau mataku dan matamu beradu pandang, kita saling menatap.

Bagaimana sebenarnya kita? Dari jauh aku melihatmu, kamu pun sadar bahwa ada aku saat itu. Lalu kenapa di jarak yang semakin dekat kita justru saling berlomba untuk tidak menyadari keberadaan masing-masing? Kita terlalu angkuh dalam bersikap. Selayak kita tidak saling peduli dan tidak pernah mau berkomunikasi.

Detik itu aku ingin menyapa, sekaligus melayangkan pujian, bahwa kamu terlihat ayu hari ini. Bukan maksud untuk berkata bahwa kamu tidak ayu di hari lain, hari ini kamu berbeda. Aku menyukai gaya sederhanamu hari ini. Jeans hitam berteman sepatu casual, kemeja biru tua lengan panjang yang berpadu jilbab pink yang dibentuk biasa dan sederhana tanpa banyak gaya, mengukuhkanmu untuk tetap berada di hatiku.


Sabtu, Juni 11, 2016

Ayah, Simbol Perjuangan untuk Pendidikan

Latar tempat dan saksi bisu perjuangan Ayah

Tanyakan saja, siapa saat ini orang yang berada dalam daftar kemarahanku. Aku tidak akan berbohong, bahwa keluarga ayah adalah yang paling sulit untuk dijamahi kata maaf. Bukan aku tidak menghormati mereka, tetapi kemiskinan yang Ayah terima sebagai takdir hidup, yang bertolak belakang dengan kehidupan mereka yang berada, telah menimbulkan cerita yang tidak harusnya terjadi. Bahwasanya harta telah berpengaruh begitu besar, mengucilkan ayah dari kehidupan. Lagi pula mereka semua hidup di perantauan yang disadari ataupun tidak, tingkatnya sedikit lebih tinggi. Hanya ayah yang bersedia tinggal di rumah, menjadi petani kecil dan menggarap beberapa petak lahan untuk memenuhi kebutuhan.

Aku tidak mengerti bagaimana kisah masa lalu ayah dengan saudaranya, hanya saja apa yang akhir-akhir ini terjadi, membuat aku merasa iba akan keadaan ayah. Mereka tidak tahu bagaimana ayah kini berjuang, kalau saja mereka yang kini berada di posisi ayah, aku yakin tidak satu pun dari mereka yang sanggup.

Ayah tak begitu tinggi pendidikannya, tetapi beliau sadar betul betapa pendidikan itu teramat penting. Beliau juga tahu bahwa pendidikan itu mahal, namun tetap yakin bahwa untuk pendidikan, apapun kesulitannya pasti ada jalan. Termasuk saat saudara-saudaranya sendiri mematahkan semangat ayah untuk membiayai kuliahku di Jawa.

"Ayah tidak bisa menjanjikan bahwa kamu akan hidup nyaman dan berkecukupan selama di sana, tetapi ayah janji selama kamu kuliah, ayah tidak akan berhenti mencari biaya, ayah akan berusaha."

Kata-kata itu yang membuat aku teramat kagum pada ayah, pasalnya kehidupan kami saat itu adalah kehidupan yang sangat susah dari segi ekonomi. Tanpa beasiswa, ayah berani memberangkatkanku ke Jawa guna melanjutkan pendidikan ke tingkat Universitas. 

"Kita sama-sama berjuang, kamu berjuang di sana untuk kuliah, kami di sini berjuang untuk biaya kuliahmu."

Selama 3 tahun terakhir, ayah menunjukkan powernya yang luar biasa. Di tengah tanggungan ekonomi yang menghimpit, diantara cemoohan, dan penjatuhan yang dilakukan saudara-saudaranya, ayah ternyata mampu bertahan dengan tetap tersenyum, meski dengan keadaan yang dapat kubilang mengenaskan. Dari subuh hingga malam ayah bekerja, lelah yang beliau rasa tidak pernah terloncat diucapnya saat menelfon, beliau selalu menunjukkan nada ceria dalam setiap katanya. 

"Muhammad saja menyuruh ke Cina untuk menuntut ilmu, dan itu dari Arab, tidak tahu berapa lama baru sampai di sana dengan keadaan yang ada di zaman itu, ini kamu hanya dari Sumatera ke Jawa, belum ada apa-apanya. Setengahnya saja belum."

Semangat Ayah yang begitu keras, namun dengan cemoohan saudaranya yang tak kalah kuat, serta cara licik mereka menjatuhkan Ayah dengan mengucilkan bahkan memiskinkan, telah melahirkan sedikit butiran kecewa yang berlanjut menjadi benci kepada mereka. Mereka mencemooh dan menjatuhkan Ayah ketika mengambil keputusan untuk menyekolahkanku ke Jawa (saat itu aku lulus SBMPTN di salah satu Universitas Negeri di Jawa). Tentu saja cemooh karena Ayah miskin. Mereka takut jika ditengah jalan Ayah akan mengadu dan meminjam uang. Tetapi tidak, untuk 3 tahun ini, sekalipun ayah ternyata tidak pernah menghubungi mereka untuk meminjam uang, Ayah lebih memilih mencari biaya dari tangan orang lain yang tidak menyakitkan sikapnya.

"Siapa bilang murah, pendidikan itu memang mahal, tetapi pasti selalu ada jalan buat orang-orang yang mau terus berusaha." Begitu kata Ayah, dikutipnya dari pidato sambutan Bupati pada hari pendidikan beberapa tahun lalu.

Ayah kemaren sore bercerita melelalui telfon. Ayah menceritakan pengalamannya selama membiayai kuliahku dari minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. 

"Untuk alasan pendidikan, ayah tidak begitu kesulitan mencarikan biaya. Entah kenapa untuk alasan pendidikan Ayah selalu bisa mendapatkan pinjaman, bahkan tidak hanya kita yang minta dilapangkan, kita juga sudah beberapa kali dapat melapangkan beban pendidikan orang lain walaupun hidup susah."

Satupun tidak terdengar kata keluhan yang nyata muncul. Ayah bercerita dengan nada gembira. Yang terdengar adalah intonasi ceria, curhatan dan semangat dari pengalaman ayah yang berhubungan dengan sesama orang miskin peduli pendidikan.

Untuk saudara ayah yang sukses di perantauan, yang hidup nyaman sebagai pengusaha, yang memiliki jabatan sebagai direktur perusahaan di ibukota, yang duduk elegan di birokrasi pemerintahan, dan yang berprofesi sebagai dosen bergelar doktor (yang seharusnya lebih tahu tentang pendidikan), aku hanya ingin menitip satu pesan sekaligus permintaan yang semoga sampai kepada kalian. Satu saja dan aku rasa itu tidak berat untuk melaksanakannya. 

"Mohon maaf atas semua laku Ayah jika pernah menyinggung kalian. Ayah kini menderita beban moral karena selalu dianggap salah tetapi kalian sendiri tidak dapat menunjukkan kesalahannya. Dan jika saat ini tidak sudi membantu Ayahku dari segi materi, setidaknya tolong jangan sakiti Ayah dengan cara kalian berprilaku dalam keluarga."


"Ayah, Simbol Perjuangan untuk Pendidikan"

Jumat, Juni 10, 2016

4 Tahun Lagi


Jika kau tanya tentang takutku, maka pikiranku akan berlari menuju 4 tahun yang akan datang. 4 tahun lagi, itulah batas terakhir dimana kau katakan sanggup untuk menungguku, atau mungkin lebih cepat. Saat semua orang takut dengan nilai yang katanya semester ini akan anjlok, ketika semua orang takut karena belum menemukan tempat magang yang cocok, dan ketika semua orang takut menemui dosen karena judul skripsi yang belum jelas, aku justru tidak peduli. Yang kutakutkan hanyalah jika keadaanku tidak berubah hingga 4 tahun lagi.

Aku tahu, kita adalah manusia dari dua latar belakang berbeda. Kamu dengan kehidupan elitmu tidaklah seharusnya duduk berdua dengan aku yang berasal dari pedalaman di rimba sumatera. Bagiku hidup hanyalah sekedar mencukupi kebutuhan, tetapi bagimu? Jelas hidup tidak sesederhana itu bagi manusia metropolitan bukan.