Selasa, Oktober 13, 2015

Publikasi Dalam Cerita

Aku menunggu namun bukan menunggumu untuk menjawab ungkapan sayangku karena itu sudah sering kamu lakukan. Aku sedang menunggu sesuatu hal yang mungkin sangat sepele jika kita angkat sebagai topik dalam pembicaraan yang lagi pula nantinya dapat dipastikan akan kembali bermuara pada pertengkaran. Aku menunggu yang akhirnya terpaksa ku ungkap dalam bentuk tanya yang mungkin tidak akan pernah aku tayangkan secara gamblang di hadapanmu. Kapan kamu akan mempublikasikannya? Tahulah dirimu apa yang sebenarnya aku maksud dan ke arah mana aku menuju. Dan aku juga tidak perlu membahas ini jika nanti bertemu denganmu.

Dalam keadaan begini aku masih berusaha untuk membuat jiwa bersikap setenang mungkin meski hati sedikit bergejolak karenanya. Aku mempercayaimu tetapi dalam beberapa keadaan aku juga memerlukan beberapa bukti kuat untuk menyempurnakan yakin dan percayaku.

Entahlah. Ini sejatinya bukan masalah besar namun justru hal ini telah sedikit menggoreskan keraguan yang membuatku yakin bahwa ada hati yang masih kamu jaga nun jauh di sana, di suatu tempat yang tidak aku ketahui dan tidak aku kenali. Aku hanya berharap bahwa ini adalah kesalahan besar dalam prasangkaku terhadap sikapmu. Perlu diketahui dan diingat lagi bahwa perihal tempo hari bisa saja terulang kembali karena banyak yang tidak memahami siapa kita. 


Rabu, Oktober 07, 2015

Komitmen di Jalan Berlubang

Sudah kita khatamkan jalan ini berikut dengan sebagian besar lubang penyandung yang ada di dalamnya. Kita pahami setiap sisinya yang rusak, lalu kita tawarkan cerita untuk memperbaikinya. Kita langkahkan kaki terus ke sana hingga melihat lubang-lubang baru yang bersiap menjadi penyandung untuk kesekian kali. Apakah ada yang salah?

Tidak. Tidak ada yang salah kecuali hal apa yang tengah kita pikirkan. Jalan berlubang tiada memiliki salah sama sekali. Kita berjalan berdampingan melewati setiap lubang penyandung namun kita tidak punya tujuan untuk apa hal itu kita lakukan. Kita hanya melewati hari seperti mereka melewati hari tanpa ada goal nyata di suatu hari. Untuk apa saling berbagi dan mengerti, menghabiskan waktu di jalanan berlubang, jikapun nantinya di persimpangan kita akan berpisah mencari jalan masing-masing karena komitmen yang tidak pernah kita bangun. Itulah bentuk kesalahan yang terjadi dan tidak kita sadari.

Mari kita luangkan waktu untuk bicara akan hal ini. Kita koyak habis kulit-kulit perjalanan cinta yang selama ini telah kita lewati, lalu kita temukan satu tujuan kecil di dalamnya. Bukan bermaksud mendahului takdir, namun usia yang kini mengalung sudah mulai meronta. Memaksa kita memiliki tujuan yang memang seharusnya sudah kita tetapkan. Daripada membuang banyak waktu dan kenangan dalam kebersamaan yang fana, ada baiknya kita rumuskan sebuah masa depan yang serius dan cemerlang, melewati beberapa detik kesusahan sebelum akhirnya kita berada di istana kehidupan yang nyaman dan menyenangkan bernama keluarga.



Senin, Oktober 05, 2015

Cinta dalam Panitia


Kamera SLR yang disandangnya masih mengalung di leher yang tampak jenjang strukturnya meskipun ditutupi kerudung. Almamater kesayangan juga membalut bagian atas tubuhnya dengan 2 buah kancing yang dibiarkan lepas. Kadang dia terlihat memakai kacamata dan kadang kala kacamatanya itu hanya tergeletak tidak jauh dari ubun-ubunnya.

Ini bukan kepanitian pertama tempat kami dibersamakan. Pernah juga beberapa bulan yang lalu, namun saat itu masih terlalu polos dan masih terlalu kaku untuk bicara mengenai cinta dalam kepanitiaan.  Hanya sekedar saling mengetahui, bahkan untuk saling kenal pun tidak. Dia adik tingkatku dan kami sering bertemu di kantin namun tidak pernah saling menyapa sebelumnya. Dia beberapa kali tertangkap menatapku dan aku beberapa kali tertangkap menatapnya, sehingga beberapa kali pula tatapan kami sempat beradu pandang. Sayangnya tidak ada reaksi yang terjadi. Tidak ada senyum ataupun sapa yang menjembatani perkenalan. Hingga akhirnya kepanitiaan kali ini memulai rangkaian pertama acaranya. 

Dia sedang berjalan di lorong antara dua ruangan panjang di lantai 3 menuju tangga. Jalannya yang khas  dengan mudah dapat dikenali plus dengan kamera yang saat itu dipegangnya. Di pertengahan lorong, dimana tempat tersebut sedikit lebih gelap dari yang lainnya kami berpapasan. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak saling bereaksi. Satu kepanitiaan dan kini berjalan ke arah yang berlawanan di antara lorong yang hanya memiliki lebar tidak lebih dari 2 meter. Dan kami berbalas senyum.

Dari senyum itu semua mulai terbuka. Alasan-alasan yang terkesan memaksa kini sudah sangat memaksa untuk akhirnya kami saling bicara. Entah tentang acara ataupun hanya sekedar agar bibir tak terlalu lama bertaut. Terlihat sangat anggun kala dia bicara meskipun hanya beberapa kata. Suara berat dengan pita nada perempuan sangat cocok untuknya. Membawa kesan wanita singgah dalam kepribadiannya. Membuat hati bergetar dan tiba-tiba ingin memangkas jarak dengannya.  Lalu dengan sangat mudah pula tiba-tiba aku telah terlanjur menyukainya.

Sabtu, September 26, 2015

&^&

Amarah kadang berjalan dengan seenaknya. Perlu evaluasi diri untuk mengkonversinya menjadi buah-buah ranum bernama pengertian. Juga perlu sabar untuk membuatnya menjadi buah dengan keranuman yang sempurna. Ah entahlah. Amarah memang bisa datang kapan saja bahkan terhadap hal yang sebenarnya sangat sepele. Ah entahlah. Amarah adalah bagian dari kehidupan yang hingga kini aku belum menemukan solusi untuk menjinakkannya

Rabu, September 16, 2015

Aroma

Benarkah sudah berubah yang tidak terlihat itu? Bukan. Ini bukan bicara soal fisik yang memang telah berubah. Ini tak bisa disambungkan dengan fisik, tidak juga bisa dihubungkan dengan penampilan atau dengan apapun yang menyangkut kekongkritan. Ini tentang sebuah rasa, yang dulu menggebu dan kini telah terlelap termakan kejenuhan dan bosan. Ah, entahlah. Itu tidak bisa terjamah dan hanya ada dalam hati tanpa bisa terlihat wujudnya.
Adakah seseorang yang kini telah menyentuhnya? Yang telah membuatnya luluh dan melupakan masa lalunya yang panjang. Yang telah merasuki hatinya sehingga dia tidak lagi sama seperti tempo hari.
Aku diam dalam keramaian saat semua orang memujinya. Dia adalah bagian yang kini membawa setengah hatiku. Kini semua orang memujanya, menyanjungnya dengan tampilan baru yang membuat dirinya terlihat lebih indah. Dia tersenyum menyambut setiap senyum yang mengarah padanya. Entah senyum yang sekedar bermakna terimakasih atau senyum bermakna lain seperti keterbukaan hati untuk dimiliki. Semua itu cukup untuk membuat darah menjadi panas, hati bergetar, dan menciptakan sebuah aroma yang tak diinginkan. Itulah aroma cemburu yang menyiksa tubuh.
           


Selasa, September 15, 2015

Latar Belakang yang Bertolak Belakang



                Saya putuskan untuk bicara di sini saja setelah tidak tahu lagi kepada siapa harus bercerita. Orang tua bukan hal yang tepat untuk tempat mengadu tentang hal ini. Juga tidak ada kawan yang sepertinya mau mendengar ocehan keluhan dan cerita kegalauan saya dalam beberapa hari terkahir. Saya seolah telah lama menikmati hari seorang diri, berlagak berada di tempat baru yang tiada seorangpun mengenali.
                Saya ceritakan sekarang
                Saat itu saya sedang rindu kepada seseorang dan kami telah lama tidak bertemu. Beberapa bulan yang lalu dia pergi ke luar kota dan saya juga. Ya, kami adalah pendatang di kota ini dan sedang sama-sama meretas jalan menuju pintu sukses. Kami dipertemukan di sini dengan beberapa cerita. Lalu cerita-cerita itu merangkai rasa dan getaran yang muncul setiap kali kami bertemu. Perlahan kami menerjemahkannya dengan cara masing-masing, sendirian. Hingga akhirnya sesuatu hal membuat kami bersatu, menjalin cinta dan melangkah bersama.
                Bulan-bulan dimana kami tidak bisa berjumpa sebenarnya sudah berlalu sejak dua minggu yang lalu. Kami telah sama-sama menginjak kota ini lagi, memulai kembali aktifitas dalam perjalanan menuju sukses yang kami damba. Tetapi kini ada gelagat yang tidak biasa dan rasanya sedikit aneh. Dia tidak lagi antusias ketika saya ajak bertemu. Bahkan dalam beberapa waktu dia menolak dengan caranya yang sangat halus dan terterima oleh logika.
                Tetapi kenapa? Apakah dia sudah tidak merindukan saya lagi? Entahlah. Sebenarnya ini adalah sebuah prediksi (yang sama sekali tidak diharapkan menjadi kenyataan) yang dari lama telah tumbuh dalam benak bahkan sejak hari pertama kami memulai hari. Dia hanya menganggap biasa semua hal yang berkaitan dengan saya, berbeda jauh dengan saya yang menganggapnya lebih dari sekedar seorang perempuan baik yang lemah lembut.
                Saya coba untuk melihat beberapa hal yang mungkin bertanggung jawab atas kejadian ini. Saya sangat paham bahwasanya kami berasal dari latar belakang yang bertolak belakang. Saya hanya seorang mahasiswa biasa dari pelosok yang berjalan kaki merambah hutan dan membuat jalan sendiri menuju cita-cita. Sementara dia adalah pengendara yang menuju cita-cita menggunakan mobil pribadi di jalur cepat tanpa hambatan. Apakah hal itu memang berlaku sehingga saya tidak layak untuk mewujudkan kebersamaan dengannya?
                Namun setiap hal yang mengatasnamakan cinta bisa membuat semua orang keluar dari orbit edarannya, membuat mereka lupa akan asal dan tujuan awalnya, membuat mereka menempuh jalur yang bukan miliknya. Itulah saya saat itu, saat cinta menusuk relung hati yang tidak mampu saya kendalikan. Dan saya tersadar setelah terhempas oleh sikap dia yang tidak lagi biasa. Mata saya terbuka untuk bisa melihat apa yang sebenarnya telah berubah.
                Apakah ini hanya sebuah halusinasi dari bentuk kelelahan hati atau juga mungkin ini yang disebut dengan kejenuhan? Ah, saya terlalu pusing untuk memikirkannya. Saya hanya ingin terus dan terus bersamanya hingga nanti kami mendapat sebutan ayah-ibu dari anak-anak kami, dipanggil kakek-nenek oleh cucu-cucu kami, disebut pasangan lansia atau manula oleh orang-orang yang terjun ke dunia masyarakat, dan disebut almarhum/ah oleh orang-orang yang kelak kami tinggalkan.

Sabtu, September 12, 2015

Terabaikan

‘Suatu senja dalam sebuah percakapan di tepi danau dengan seorang perempuan yang merupakan sahabat lama’

Kadang aku memikirkan beberapa kondisi tentang jalinan hubungan sebagai sepasang kekasih namun tak pernah berjumpa. Tidak ada alasan kuat yang meyakinkan bahwa pertemuan tidak bisa terlaksana. Dua insan yang tidak berada di dua tempat berbeda dengan jarak yang jauh, juga tidak dirundung kesibukan yang teramat sangat sehingga tidak ada waktu untuk bertemu. Mungkin salah satu dari mereka terlalu asyik dengan dunianya, melupakan seseorang juga ingin memiliki hari sejenak bersamanya.
Sejatinya dia memiliki hak untuk bisa berjalan di sampingmu, menikmati senyummu, dan mendengarkan kesahmu. Dia hanya tidak ingin mengusik, itu saja. Baginya bahagia adalah hal utama yang harus diwujudkan dalam hidup. Dan sepertinya tanpa kehadiran dia kamu sudah tersenyum dan tertawa. Dari sudut tak terlihat dia menyaksikanmu, saat kamu tak menyadari kehadirannya yang berdiri tepat disampingmu. Dilihatnya kamu tersenyum dengan mereka, kalian tertawa bersama, tiada rona sedih dan muram yang dia saksikan di rautmu.
                Hatinya tergetar melihat kejadian yang hampir setiap hari disaksikannya. Tanpa kehadirannya kamu terlihat cukup bahagia. Lalu dia berpikir untuk tetap bertahan saja pada posisi dimana dia terabaikan untuk waktu yang tidak tahu sampai kapan. Dia tersenyum sambil menahan tumpahan air mata saat melihat kamu bersama mereka. Cinta dia padamu menguatkannya, dia meyakinkan dirinya bahwa ini tidak lagi akan berjalan lama. Malam-malamnya selalu dia isi dengan memikirkanmu, memajang potret senyummu di dinding kamarnya. Sambil berharap ada sedikit saja waktu yang dia bisa habiskan bersamamu, seperti mereka menghabiskan waktu bersamamu dibanyak waktu.
                Dia cemburu, namun tak pernah dikataknnya. Dia tidak ingin mengusik bahagia yang sedang menghampirimu. Dia tidak ingin menyulut api permasalahan yang dapat merusak bahagiamu. Dengan caranya sendiri, dia berusaha menikmati bahagiamu meski hatinya sedikit teriris oleh sikapmu yang sering mengabaikannya. Di suatu malam dia bertemu dan berbicara kepadaku, wajahnya merah, nafasnya memburu, beberapa kali kepalan dibuatnya, lalu dia menunduk, menutupi wajah agar tak terlihat air matanya yang akan segera tumpah mengaliri kedua pipinya.
                “Aku menyayanginya, aku hanya ingin sedikit waktu dia sediakan untukku. Aku ingin ada di sampingnya, menikmati hari bersamanya, mendengarkan canda tawa dan menikamti senyum bahagianya, aku mau mendengarkan ceritanya ketika dia bersedih dan banyak hal yang ingin aku lakukan bersamanya. Tapi dia?”
                Wajahnya mengiba bercerita. Aku terdiam. Ini adalah posisi dimana dulu aku pernah mengalaminya. Jalinan cinta tanpa pertemuan selama beberapa saat lamanya. Hanya bisa melihat, menyaksikan dan memandangi orang tersayang dari jauh, tanpa bisa menyentuh dan mengucap sepatah kata padanya. Dan berusaha ikut bahagia saat melihatnya tersenyum, meski hati harus memaksa sekeras-kerasnya. Yang bahkan hingga kini dia sama sekali tidak menyadarinya.
Mungkin kamu bertanya, apa yang aku lakukan? Sama seperti yang dia lakukan, aku kemudian mencari bahagiaku seorang diri, melupakannya secara perlahan hingga akhirnya aku ‘bertemu’ lagi denganmu. Selama ini aku telah terabaikan oleh orang yang dicinta. Dan tahukah kamu bahwa itulah kesedihan yang rasanya melebihi dari segala kesedihan yang pernah ada.