Jumat, September 26, 2014

Perasaan dan Waktu

Untuk seorang wanita yang ku cinta. Pahamilah bahwa di sini aku benar-benar ada. pahamilah bahwa aku menghantarkan rasa yang amat tulus, pahamilah bahwa ragaku ingin bertemu denganmu. Kau terlalu angkuh untuk menjadi seorang yang ku puja. Tapi apa boleh dikata, rasa itu telah muncul dan aku tak dapat berdalih. Kadang terasa sangat menyiksa ketika hampir setiap saat kau melangkah menjauh saat aku coba mendekat. Seolah rasa yang tertambat tidak pernah ada. Atau memang kau yang tak mau menganggapnya ada? 


Aku berpikir terlalu buruk. Mungkin hanya waktu saja yang belum berpihak pada kita. Tetapi apakah kita akan terus-menerus seperti ini? Terus menerus dikendalikan waktu yang bahkan mengucap sepatah kata pun tak sanggup. Aku merasa menjadi seorang yang bodoh, seorang yang idiot, seorang yang tak menggunakan otak untuk berpikir. Mungkin saja benar. Dan itu dirimulah penyebabnya. Hatimu yang membuatku kehilangan kecerdasan berpikir, hatimu yang membuatku tak lagi waras, juga hatimulah yang membuat waktu menjadi seenaknya mengendalikan perasaan

Kamis, September 18, 2014

Cinta Adalah Nafsu

Cinta Terlahir Sebagai Pemuas Nafsu Belaka. Begitu kata salah satu lirik lagu RAP negeri ini. Dan memang benar adanya bahwa cinta sangat berkaitan erat dengan nafsu. Tidak perlu melihat orang lain karena aku sendiri adalah saksi dari kalimat itu. Pesona dunia dengan dijubahi cinta membuatku salah kaprah akan apa itu wanita. Dengan permainan kata dan goyangan lidah yang sedemikian rupa aku berhasil menaklukkan hati seorang hawa yang pada akhirnya kutinggalkan setelah aku mendapat kepuasan. Sangat bejat, dan itulah aku ketika itu. Sejenak dia menangis, lalu berangsur kembali menemukan senyumnya setelah waktu terus berputar. Aku kini hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Banyak yang tidak mengetahui, bahwa sidik jariku sudah ada hampir di semua bagian tubuhnya.

Aku memutuskan untuk pergi menjauh. Terakhir kali aku melihatnya sedang berjalan bersama seorang laki-laki dan mereka terlihat begitu mesra. Aku tidak pamit padanya dan hanya bisa tersenyum menyaksikan pemandangan sore itu dari jauh. Dalam perjalananku, aku berharap setiap butir kesalahan dan penyesalanku akan tercecer hingga akhirnya benar-benar habis dan aku menjadi seorang yang bersih ketika tiba di tempat baru nanti. Sangat mudah tampaknya, namun dalam hatiku terus berkecamuk sesal yang teramat dalam. Nikmat yang kudapat dari tubuhnya sangat tak sebanding dengan perasaan tidak nyaman yang terus membuntuti. Cinta adalah nafsu, dan kata-kata itu terus menyerangku hingga tengah malam saat mataku berusaha untuk terpejam.

Cerita masa lalu itu membuatku sedikit takut untuk kembali jatuh cinta. Betapa aku terus diserang rasa gelisah akibat ulahku yang terlalu mengagungkan nafsu dan duniawi. Dimanapun tubuhku berada selalu rasa itu menakut-nakuti hingga aku tak leluasa untuk melangkah dan bergaul.

Cerita terus berlanjut. Setelah sekian lama rasa sesal dan bersalah yang tak kunjung memudar aku kembali merasakan cinta. Kata-kata ‘Cinta adalah Nafsu’ terus membuntutiku. Pernah aku mencoba untuk menghindar, namun tak dapat mendustai jiwaku yang sedang kesepian. Dengan sangat berhati-hati aku mencoba kembali membuka hati untuk dirasuki cinta. Cinta baru yang sebisa mungkin tidak lagi membonceng nafsu bejat setan dibelakangnya.




Senin, September 15, 2014

Skenario Tuhan

Kita kini akhirnya benar-benar bersama. Tidak seperti pikiran awalku yang mengira bahwa kita hanya sedang melangkah di jalan yang sama, bertemu, kemudian saling mengenal dan sangat mungkin akan berpisah lagi setelah menemukan persimpangan. Tidak ada getaran di hatiku saat kita mengikrarkan untuk mencoba untuk saling menggenggam tangan. Hanya senyum tulus saat memandangmu yang malam itu menjadikan suasana sedikit lebih mesra. Tiada seorangpun yang tahu akan seperti apa langkah yang akan coba kita jalani. Satu-satunya yang mampu menjawab adalah waktu dan secara perlahan beliau telah memberikannya. Aku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kenyamanan. Itulah dia. Aku memandangmu dalam tatap ketulusan saat kita bertemu. Tak pernah terpikir bahwa akan ada hati lain yang menarikku keluar dari lamunan indah bersamamu. Sungguh nyaman terasa saat aku berbaring manja dipangkuanmu. Kau membelai halus dan mesra rambutku yang mulai tumbuh memanjang. Kau menggenggam tanganku dengan kehangatan. Ku tatap wajahmu yang sedang menunduk menatapku. Adalah Mahakarya dan Skenario Tuhan yang sungguh luar biasa mendekatkan aku dengan dirimu.

Jumat, September 05, 2014

Prasangka -

Entah apa yang kini berada dalam pikiranmu, entah apa pula yang tengah kau lakukan di sana. Aku mencoba untuk menerka sebisa dan semampu otakku berpikir. Hanya saja harus kukatakan dengan jujur bahwa segala terkaanku semuanya menuju kearah yang negatif. Mohon maaf tetapi begitulah adanya aku yang kini sangat mencintaimu. Tanpa kabar darimu adalah suatu penyiksaan. Ulahmu membuatku berprasangka buruk terhadap dirimu yang ku sayang. Bagaimanapun aku mencoba untuk percaya bahwa kau menjaga apa yang seharusnya kau jaga, tetap saja aku tak bisa membelokkan prasangkaku ke arah yang baik. Aku hanya butuh kabar dalam setiap kegiatanmu, itu saja. Mengertilah bahwa sesungguhnya aku menghawatirkanmu.

Rabu, September 03, 2014

Almamater

apakah ini sebuah keseriusan? entahlah, yang jelas aku tidak pernah berpikir untuk suatu perpisahan. terlalu dini memang untuk berbicara akan hal yang akan terjadi beberapa tahun lagi saat kita melepas almamater kesayangan dan menggantungnya sebagai sebuah kenangan. tetapi juga tidak ada salahnya mulai merencanakan sesuatu. suatu saat jika nantinya kita berada di jalan yang berbeda, selalu pandanglah almamater itu sebagai cerita yang membawamu kembali ke masa lalu. saat kita berpisah, ingatlah bahwa almamater itulah yang membuat kita pernah bertemu dan menjalin cinta.


Jumat, Agustus 08, 2014

Berlalulah




Tak usah sapa jika tiada niat dari lubuk hati yang paling dalam. Tak usah menatap jika hati tak menginginkannya. Aku berdiri di sini bukan untuk menunggu sapaan, juga bukan untuk menunggu sebuah tatapan. Tetapi hanya ingin melihat senyum yang menjadi penghias bibirmu. Tak perlu kau layangkan untukku karena aku bukanlah siapa-siapa. Kita hanya pernah dibersamakan oleh keadaan selama beberapa saat. Lebih dari cukup untuk menyengsarakan bathin yang telah terpengaruh cinta. Teruslah melangkah menuju kebahagiaan yang kau ingin. Selalulah tersenyum karena itu adalah semangat untuk diriku. Kenyataan bahwa kita tak lagi bersama memang membuat sakit, dan cukup sampai di situ saja karena perjalanan masih terlalu jauh. Temukanlah malaikatmu dan akan kutemukan malaikatku. Kelak kita akan bertemu kembali dan memperkenalkan malaikat kita masing-masing. 

Pohon



Di bawah pohon kita tersenyum, menatap dengan sorot mata yang begitu dalam. Kunyatakan apa yang seharusanya kukatakan dan kau katakan apa yang memang seharusnya kau nyatakan. Ini adalah hari baru, saat dimana tangan kita saling menggenggam. Memberikan kehangatan didinginnya angin malam yang terus berhembus. Ada cinta yang merasuki jiwa dan pohon ini menjadi saksinya. Dia berbisik melalui ranting yang terus bergerak, mengucap sepenggal doa kebahagiaan untuk sepasang insan yang sedang berada dibawahnya.