Sabtu, Juni 21, 2014

Untuk Sebuah Nama


Teruntuk pagi yang dinginnya menusuk tulang
Kepada embun yang menetes saat kabut masih bersemayam
Bagi gelap yang mulai menampakkan cahaya
Dengarkanlah bisikan hati yang terus berucap
Yang berusaha meredam siksaan kerinduan

Wahai sang pangeran siang 
Yang mulai naik tahta dari ufuk timur
Yang mulai benderang dari sudut bumi
Sampaikanlah pesan rinduku  untuknya
Untuk sebuah nama di ujung sana





Jumat, Juni 20, 2014

Kita

Banyak hal yang menggantung dipikiran. Jawaban sedikit berbeda mungkin akan lahir dari pribadi yang tengah diselimuti cinta dan rindu. terbayangkan 2 pasang kaki sedang melangkah seirama di sepanjang trotoar berbau kerajaan, menikmati hembusan angin sore membelai tubuh dengan kelembutan, mulut yang terkunci tanpa mengeluarkan kata di sepanjang teduhan pohon, sudut mata yang selalu berusaha untuk memandang ke samping, hingga senyum indah saat langkah kaki tak lagi seirama sebagai tanda perpisahan. Itulah kita.






Kamis, Juni 19, 2014

Bersama Sebuah Pesan

Pernah sebuah pesan itu sampai telingaku. Pesan menusuk yang membuatku terdiam sejenak. Sedikit lunglai tubuh saat untaian dari suara lembut itu berbisik di telinga. Satu pesan canda yang maknanya jauh lebih dalam dari sebuah keseriusan. hanya pesan untuk seorang remaja. Bukan pesan kedewasaan yang beliau sampaikan, bukan pula pesan dunia dan akhirat. 

beliau berbicara tentang wanita. Untuk pertama kalinya, beliau berkicau untuk hal semacam ini. tetap dalam kebebasan, namun satu hal yang sangat beliau tekankan malam itu. Tidak ada yang tahu selain kami. Sebelum langkah ini dimulai, dia berbisik. Dalam bisikan itu, yang disaksikan sepasang cicak yang tengah perpadu mesra di langit-langit dekat indahnya cahaya lampu, beberapa kata keluar dari bibirnya yang masih terbalut lipstik merah. Sejenak aku terdiam. Tidak lebih dari 15 detik beliau bicara. Dan itu cukup untuk membuat ku terdiam dan berpikir. Menerawang lebih jauh di sebuh yang masih sangat pagi. Aku terdiam dan terus terdiam, memikirkan pesan yang terus terngiang. Aku akan pergi jauh, tetapi seolah pesan itu menjadi sedikit pemberat untuk kaki segera melangkah. Ingin rasanya untuk lebih lama pantat ini menyentuh kursi tua di ruang tamu yang mulai rusak. Ingin rasanya keadaan seperti ini berhenti sejenak. menguatkan diri untuk melangkah, membawa sebuah pesan dalam kelabilan emosi adalah sebuah terjangan kepada jiwa yang masih berusaha untuk mencari jati diri.

Bukan tiada kesanggupan, bukan tidak mau, dan bukan pula telah direncanakan, hanya saja sangat berat rasanya hati menerima, bagaimana seandainya pesan itu tidak terlaksana? Tak adakah sedikit kelonggaran karena sejatinya semua itu sudah tertulis sejak sebelum aku mengeluarkan tangis pertama? bukankah sudah ada nama yang tersanding di samping namaku untuk sebuah hari yang begitu panjang? Lalu apa makna pesan ini?

Sedikit berat hati akhirnya aku pun melangkah. Waktu terus berganti dan berputar. Metamarfosis detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan mulai terlihat dalam nyata. Pesan itu masih terdiam dan tidak bereaksi. Saat ingatan terbang ke pohon kelapa bercabang tiga dibelakang rumah pun, beberapa kata yang dulu terbisik masih diam dan nyaman di posisinya.

Dan kini, beberapa saat sebelum kaki kembali melangkah untuk pulang. Pesan itu baru mulai menggeliat. Dia mulai tergelitik oleh keadaan. Sesaat dia bereaksi, lalu diam lagi. Dan nama itu? Nama yang sudah ditakdirkan sebelum tangisan pertamaku terdengar, sepertinya sudah mulai muncul. Dia telah datang dengan langkah gemulai dan menawan. Hati berkata bahwa itulah dia, itulah nama yang telah tertambat bersama namaku, itulah pesan yang dimaksud yang dulu membuat aku sangat berat untuk melangkah.

Benarkah Dia ??????????????

Selasa, Juni 17, 2014

Mahadewi

Menggema sebuah lagu lama dari Padi berjudul Mahadewi di sebuah ruangan. Ada cinta yang terlintas saat alunan-alunan nada itu menyentuh daun telinga. Meresap ke hati dan menerawangkan pikiran menuju seorang wanita yang tengah tersenyum di sana. Teringat senyum indahnya ketika pertama kali bertemu. Sorotan lembut matanya menyentuh jiwa-jiwa kering yang baru saja kehilangan seorang permaisuri hati. Dan kini dia datang sebagai penyejuk. Melepas dahaga hati yang sungguh menyiksa. Menyentuh nurani lewat untaian rambut yang bergerak bebas. Membutakan mata dengan langkah kaki yang elegan. 


Seperti yang diucapkan Piyu, Hanya hati yang mampu menjawab nilai-nilai yang diresapkan sang mahadewi Saat jiwa tertunduk akibat pancaran sinarnya yang menyentuh wajah.

Senin, Juni 16, 2014

Mozaik Harapan


Apa maknanya dan mengapa dipotong? Ketika pertanyaan seperti ini muncul, rasanya sudah banyak yang terlukiskan. Satu pertanyaan yang menjawab rentetan pertanyaan berikutnya yang akan segera menyusul. Mengapa harus sedikit diblur dan menghilangkan warna? Dan mengapa gambar yang ditampilkan sangat tidak jelas? banyak makna yang ada di dalamnya. Banyak rasa di hati yang terwakilkan oleh gambar hitam putih yang kelihatannya hanya berpola garis-garis. Warna abu-abu yang sangat dominan seolah merupakan ekspresi hati yang juga tidak jauh berbeda. Ada gelap dibalik terangnya sang mentari. Ada mendung dibalik cerahnya langit biru. Ada harapan di sebuah ketidakmungkinan. Itulah, mengapa gambar yang seharusnya jelas menjadi kabur. Warna yang seharusnya bercahaya berubah menjadi hitam dan putih. Pola rumit nan indah kini hanya berupa garis-garis sederhana.

Lalu? Aku berlabuh di sebuah teluk bernama Hudson. Mengumpulkan mozaik-mozaik harapan yang siap untuk di susun dan diberikan. 

Kepada siapa? Kepada seorang yang  menunggu dalam diam saat hatinya tersenyum

Sabtu, Juni 14, 2014

Melayang Bersama Kabut

Sebenarnya jemari ingin menari-nari di atas tuts keyboard. mengungkapkan ekspresi hati yang belum terjamah siapapun. Memberitahu bahwa sedang ada kebahagiaan di dalamnya. tetapi sayang sekali. Ribuan saraf otak belum mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Belum mampu untuk menerjemahkan isi hati yang begitu sulit. Membuat jemari juga tak mampu berbuat banyak dan hanya terdiam di atas rangkaian Q W E R T Y dan kolega.

Ada beberapa hal yang menyumbat aliran antara hati dan otak. Dalam diri sangat meyakini bahwa ini adalah suatu kebahagiaan. kebahagiaan yang masih belum terungkap karena masih ada penyumbat dalam alirannya menuju otak. kebahagiaan yang belum terekspresikan. Membuat semua masih berada dalam keadaan diam, kalu, dan kesah. 

Kabut tebal adalah saksi dari semua itu, berikut dengan rintikan gerimis dan hawa dingin perbukitan yang menyaksikan dengan sangat jelas. Ada cerita di balik semua yang mereka ketahui. Wajah merah merona seolah sedikit membuka cerita sore itu. Namun tetap tak terungkap apa yang sebenarnya ada di hati.

Angin berhembus menggerakkan rambut yang mulai tumbuh memanjang. Beberapa orang tengah berteduh menghindari kekuatan hujan. Putih nya kabut terlihat begitu anggun. bergerak sesuka hati mengantarkan udara dingin yang begitu menusuk.


Sedikit momen terabadikan di sini. mata memandang jauh kedepan, dalam diam menikmati indahnya gerakan kabut yang berkolaborasi dengan tetesan gerimis yang semakin mengecil. Menghilangkan kejenuhan mata dari jejeran huruf-huruf yang bersatu membentuk beberapa kata ilmiah yang sulit dipahami. Menikmati dari sudut lain akan kemolekan kota Malang. Entah kota ini yang pada dasarnya sudah indah atau memang ada sebab lain yang memolesnya sehingga terlihat lebih baik dari yang seharusnya. atau bahkan mungkin saja hadirnya seorang kaum hawa dengan hati yang penuh kelembutan mengubah penampakan dan image terhadap kota ini.  Berbagai teori dan prasangka tak terjawab pun bermunculan. Pikiran dibuat melayang saat dengan sengaja momen ini diabadikan. Melayang bersama kabut tebal membentuk sepasang hati yang saling tertaut.



Jumat, Juni 13, 2014

Daun Maple

Jauh menerawang dalam heningnya malam ketika semua berpisah. Kesepian kembali melanda. Kesunyian kembali datang. terbayang uraian rambut panjang yang baru saja hilang. Hitam pekat terkena cahaya lampu dan memantulkan sinar. Melangkah, menjauh dan hilang dalam gelap malam yang ditemani angin. 

Sudahlah. Aku mencoba menikmati ini. Meski untaian kata tak pernah terucap. Kata-kata 'hai' pun tak muncul. Karena pandangan sudah mewakilkan semuanya. Rona merah di wajah sudah menunjukkan. Bukti yang selama ini diminta sudah ada. Tanya yang selama ini membuat penasaran (sebenarnya) sudah terjawab. Tetapi, tetap saja semua terasa kurang ketika telinga belum melaksanakan fungsi untuk mendengar untaian kata-kata itu keluar. 

Dan lamunanku segera beranjak menuju Kanada