Hembus nafas yang menyentuh wajah. Membuat diam seketika menguasai keadaan kala nafas itu membelai lembut pipi dengan kehangatannya. Muncul senyum diantara debar jantung yang tiba-tiba bergerak cepat tak tertatur. Ingin kudaratkan bibir di keningmu, menceritakan setiap butir bahagiaku saat kita tengah bersama. Ingin kuceritakan lewat kecupan, bahwa senangku tiada tara saat kita sedang berada dalam satu tatap yang sangat dalam
Minggu, April 19, 2015
Senin, April 13, 2015
Debu Masa Lalu
Lama kita tak berjumpa wahai masa lalu. Ingin kusapa dan menanyakan kabarmu jika nanti kita bertemu. Adakah ingatanmu masih menyimpan memori kecil tentang seorang yang dulu pernah kau ajak menatap rembulan? Ah, mungkin kau sudah lupa, begitu banyak manusia yang hadir dalam harimu, dan aku hanya secuil wujut yang barang kali jika diibaratkan tanah, adalah debu ringan yang mudah hilang terbawa angin.
Lama waktu berlalu semakin memperkokoh yakinku bahwa kau tidak ingat sama sekali. Aku terima itu, karena memang sudah sewajarnya kau berbuat demikian. Aku pergi tanpa serangkai kabar untuk memberitahumu. Dan aku terima jika kini kau sudah lupa dengan bocah yang dulu menulis beberapa surat padamu untuk menyatakan cinta. Sudahlah, semua adalah masa lalu dan kini kita mempunyai jalan masing-masing menuju bahagia.
Lama waktu berlalu semakin memperkokoh yakinku bahwa kau tidak ingat sama sekali. Aku terima itu, karena memang sudah sewajarnya kau berbuat demikian. Aku pergi tanpa serangkai kabar untuk memberitahumu. Dan aku terima jika kini kau sudah lupa dengan bocah yang dulu menulis beberapa surat padamu untuk menyatakan cinta. Sudahlah, semua adalah masa lalu dan kini kita mempunyai jalan masing-masing menuju bahagia.
Kamis, Maret 26, 2015
Ekspresi Rahasia
"Kepada hujan, barangkali kita memang perlu mengucapkan terima kasih yang dalam. Hadirnya telah membuat apa-apa yang tak terungkap tetap rahasia"
(azharologia)
Lelaki pujangga itu mengekspresikan untaian kata dengan sentuhan yang sangat sempurna. Tiada disadarinya apa yang ia tulis telah merambah ruang perasaan dua anak manusia yang sama sekali tidak ia kenal. Bait katanya mengawang menyatukan dua hati yang sedang mengangkuh di antara rintik air yang jatuh menyentuh tanah. Tak sengaja rangkaian katanya menjelma menjadi sindiran untuk dua hati yang sama-sama tidak pernah mau mengungkap akan apa yang mereka rasa. Untuk seorang wanita, sadarilah bahwa setiap kata yang ia lukis adalah umpama dari kita yang hatinya masih terselubung dalam dusta perasaan.
Rabu, Maret 25, 2015
Penghias Kagum
Tiada pernah untaian kagum itu berhenti mengalir untukmu. Jiwamu bisa berbaur dengan setiap lapisan yang kadang sebenarnya tak setara denganmu. Kau tinggi, dirimu berada di atas, tetapi sikapmu adalah sebuah kesederhanaan yang mencerminkan kehidupan bawah. Selalu aku merindu dibuatnya, keramahanmu membuat bathin merasa jauh lebih sempurna. Hadirmu di sini membuat cinta yang sedang mekar merasa jauh lebih terhargai. Satu harap semoga kagum ini selalu menjadi penghias di setiap sudut kelembutan hatimu, saat bersamaku atau pun dengan seorang yang nantinya menjadi pemilik ragamu.
Jumat, Maret 20, 2015
Lancang
Cinta, aku menyatakannya. Dan kini muncul rasa bersalah yang teramat sangat menghujam diri sesaat setelah menjalaninya. Terpikir akhir-akhir ini, betapa beraninya hal itu terlakukan di balik ketidaksempurnaan dan segala kekurangan yang ada. Jujur saja ada malu yang membuat getar jiwa menjadi sangat lemah, juga malu pada dirimu yang jauh lebih baik dalam segala hal. Hingga kini sesal itu masih menghantui, mengapa perasaan itu dulu datang dan aku membiarkannya. Seandainya saja ada akal sehat yang sedikit tahu dari waktu itu, mungkin hal lain akan terjadi. Namun tak terbantahkan bahwa kini benar adanya sayang itu telah hadir. Maaf jika kurang dan tidak sempurnaku telah lancang untuk menyatakan cinta dan akhirnya mencintaimu.
Rabu, Maret 18, 2015
Suatu Saat di Ketinggian
Menggapai matahari dan setara dengan awan. Suatu saat nanti, dua pasang kaki akan terus melangkah dan mendaki. Perlahan, bahkan mungkin dengan susah payah, kaki-kaki itu akan berdiri di atas dataran tertinggi. Rasa penat akan lenyap kala memandang ke bawah sana. Tersenyum sambil menghirup segarnya udara dari ketinggian. Barisan keindahan dunia akan menyejukkan kembali mata yang sayu. Ada rumah yang terlihat sangat kecil berjejer rapat, hamparan sawah menguning bersusun rapi, jalan berkelok mengelilingi kota. Indah bukan main, adalah balasan setimpal untuk lelahnya kaki menuju setiap inchi tanah yang lebih tinggi, obat mujarab bagi cucuran keringat yang terus menetes seperti anak sungai. Suatu saat nanti, itulah yang akan kita lakukan. Di sana kita akan berdiri, menyaksikan indahnya alam dalam sebuah ikrar kesungguhan.
Selasa, Maret 17, 2015
Tercecer
Bolekah mulut berkata bahwa yang kini terjadi mungkin adalah sebuah balasan atas penyia-nyiaan yang dulu sempat membayangi langkahmu. Ketulusan yang nyata hanya menjadi angin lalu, kau injak dengan angkuh dan kau biarkan dalam kesendirian di sudut kelas penuh debu. Sedikitpun tiada niat untuk sekedar menghibur hati yang terluka. Bahkan menatap kebelakang untuk sekedar melihat apa yang terjadi saja tidak. Kau terus melangkah dengan kesombongan, meninggalkan tatap yang masih menyimpan harap dari seorang yang hatinya menyukaimu. Itulah hatiku yang dulu kau biarkan tercecer dalam sedih dan kecewa.
Langganan:
Postingan (Atom)






