Kamis, Mei 15, 2014

Kuisioner, Flashback Masa Kedekilan

Ucapan suwun yang keluar dari bibirnya sambil menatap dengan muka yang jelas menunjukkan itu keluar dari hati yang benar-benar tulus. bahkan seorang anak kecil pun mengerti, betapa mereka sangat menghargai seseorang yang telah membantu (dalam hal ini membuat hatinya senang). 

terlihat dia terus berjalan mengikuti kami dari belakang yang sedang menuju ke arah pak Subanan. Dia berjalan degan sangat lincah di pematang sawah yang padinya sudah mengeluarkan bulir-bulir yang masih kosong. Sesaat terlihat dia berbelok dan tidak lagi mengikuti kami. Kakinya yang mungil terus melangkah dengan sangat lincah. Di bawah pohon kersen di tengah sawah itu, dia berhenti. duduk di bangku kecil yang ada di sebelahnya. sementara kami terus mengikuti langkah kai pak Subanan yang juga sepertinya mengerah ke sana, satu-satunya tempat yang teduh di tengah sawah yang luas itu. Beberapa mahasiswa terlihat cantik dan gagah dengan Almamater kebesaran kampus mereka. Kampus yang katanya merupakan salah satu yang terbaik di negeri ini. Bisa dikatakan sangat modis pakaian yang mereka kenakan, termasuk aku mungkin saja. Dan itu sangatlah kontras dengan seorang yang kami ikuti. Dia dengan senantiasa menerima kami dengan pakaian sehari-harinya ketika berada di sawah. Dia menerima dengan tangan terbuka dan bersiap akan ke kepoan beberapa saat lagi. 

Dua orang perempuan dari kami mulai membuka percakapan dengan bahasa jawa yang sangat tidak familiar bagiku. Sudah 8 bulan aku berada di tanah jawa. Entah sudah berapa banyak ragam dan macam mahasiswa dan mahasiswi Jawa yang aku temui, beragam pula cocotan yang mereka keluarkan. Namun tak pernah sekalipun bahasa yang dua orang perempuan itu gunakan saat berinteraksi dengan pak Subanan aku dengar. Bahasa yang sama sekali tidak aku pahami maknanya. Kromo halus kata mereka. Bahkan beberapa yang lain yang juga jawa asli tidak bisa berbicara seperti itu. Mereka sedikit paham, namun tidak bisa melakukan interaksi. Ruweet daaahhh..

Beberapa saat aku mendengarkan interaksi dan pertanyaan teman kelompokku yang di landasi kuisioner setebal 28 halaman. Awalnya sedikit aku mengerti karena mereka berbahasa setengah Indonesia. Namun lambat laun, seiring semakin klopnya percakapan mereka, bahasa-bahasa yang tak aku mengertipun keluar. Dan sudahlaahhh.

Aku kemudian pindah memperhatikan sekitar karena semakin pusing dengan bahasa antah barantah yang mereka gunakan. Tanpa satu pertanyaan pun dari kertas kuisioner itu yang keluar dari mulutku. Aku kini lebih tertarik bertanya pada serorang bocah yang tadi duduk di bawah pohon kersen. Bocah yang masih SD yang ketika aku bertanya dia menjawab dengan bahasa Jawa. 

Aku melihat di tangannya, pancingan tanpa pemegang yang panjang talinya sekitar 1 meter. dan di lihat dari mata pancingnya, itu bukanlah mata pancing untuk memancing ikan. Aku sangat familiar dengan benda itu. Dulu ketika seumuran dia, ketika ingusku juga masih belum terhapus, persis seperti Tono (nama si bocah) aku melakukan hal-hal yang sama dengan yang kini menjadi kegiatan sehari-harinya kal libur sekolah. 

jelas saja, tanpa menghiraukan mereka yang sedang sibuk dengan kuisioner, aku mengajak Tono mencari cacing sebagai umpan. Kami berjalan menyusuri pematang sawah mencari cacing. TAk susah, dan cacing itupun kini tewas di tanganku yang tertusuk mata pancing. langsung saja, pancing itu masuk ke lubang yang ada di pinggir sawah. Sangat jarang dilihat, seorang mahasiswa dengan almamater kebanggaannya memancing belut di tengah sawah bersama seorang bocah dekil, kurus dan juga hitam, yang sebenarnya menggambarkan bagaimana ketika aku kecil dulu. Sama persis !! Hitam, dekil, kurus, ingusan. Hanya daerah dan bahasa yang menunjukkan perbedaan masa kecilku dan Tono. Sangat-sangat tidak terawat, namun itulah masa kecil, bukan karena tidak ada perhatian dari orang tua, tetapi itu adalah masa-masa bandel dimana kata-kata orang tua seolah adalah penghalang keceriaan.

Sempat beberapa orang temanku tertawa di tengah Pertanyaan bertubi-tubi yang menyerang pak Subanan. Begitupun beliau, yang tersenyum melihat aku jongkok, menungging dan berjalan di pematang sawah bersama Tono. Satu jam lebih aku berkeliling sawah mencari lubang belut bersama Tono. Beberapa teriakan akhirnya memanggilku untuk segera kembali ke pohon kersen. Kami melakukan foto bersama petani, namun sayang sekali Tono lebih tertarik memainkan game yang ada di hapeku dari pada ikut mengabadikan momen bersama kami. 

Tono, sibocah kecil menyadari bahwa kami telah selesai dengan tugas yang kami lakukan. Dia mengembalikan hapeku dan berjalan lebih dulu meninggalkan kami. Ketika di panggil (sambil memperlihatkan pancingannya yang masih di tanganku), dia menoleh sebentar dan berbalik lagi sambil berkata, "ambil saja untukmu mas" dalam bahasa Jawa yang tidak terdengar jelas. 

Aku kembali memanggil dan dia berhenti lagi, kali ini aku menyusulnya. Beberapa orang telah mulai berjalan meninggalkan persawahan bersama Pak subanan melalui jalan lain. Aku mengembalikan pancingnya yang baru saja menjerat beberapa mulut belut. Kemudian aku merogoh saku dan memasukkan selembar uang dalam saku bajunya yang terlihat kotor (lagi-lagi menggambarkan aku masa lalu). Dan ketika itulah ucapan Suwun keluar dari bibirnya dengan wajah polos yang sangat tulus. Sungguh menggambarkan seorang anak-anak yang membuatku teringat akan masa laluku yang persis sama dengan nya, Juga mengingatkan ku akan adikku yang sedikit lebih tua dari Tono, yang kini aku tinggalkan di Pulau seberang sana. 

Sebelum berpisah, aku menepuk pundak Tono dan memegang kepalanya dengan rambut yang juga persis sama dengan rambutku dulu, sebelum mengenal berbagai macam gaya rambut yang kini menggerayangi kawula muda. kakunya yang kecil dan lincah kemudian meninggalkan ku. dia berlari-lari kecil di pematang sawah yang kecil dan licin. sedikit kesalahan, maka sudah dipastikan air sawah sudah siap membasahi. Tapi Tono tampak sangat hafal dan tidak gamang melintasi jalan yang sangat kecil tersebut. 

Sebuah pengalaman yang mengantarkan ku kembali balik ke pulau sumatera. tempat dimana aku meninggalkan kenangan-kenangan masa kecil yang dulu begitu melekat dalam ingatan hingga kini. Aku merasa ada sesuatu yang di titipkan Tuhan melalui seorang bocah kecil dari desa Ngenep, Karangploso, Malang itu

Rabu, Mei 14, 2014

Datang lagi?

Pernahkah kalian sedikit meluangkan waktu untuk sejenak berfikir tentang kata-kata yang lumrah dan tidak asing di telinga? Mereka sebagian berpendapat, Ketika seorang laki-laki berpikir tentang suatu hal secara logika, sebaliknya dengan kaum hawa. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa mereka berpikir, bertindak, dan melakukan sesuatu dengan berlandaskan isi hati dan perasaa. Perasaan wanita yang amat lembut dan begitu lunak (katanya). Benar begitu? Mungkin dalam beberapa hal. Tetapi juga ada saat dimana wanita jauh lebih egois dan tidak memiliki perasaan (pendapat berdasarkan pengalaman). 

Aku mengingat kembali masa dikala seragam putih abu-abu sangat akrab dengan tubuh yang dulu begitu kurus seperti pemakai narkoba, pipi yang cekung seperti penghisap ganja, dan mata yang hampir setiap saat merah seperti orang kurang tidur. Jangan dibayangkan karena aku begitu dekil saat itu (sampai sekarang pun masih sama). Hanya saja, disini aku sedikit lebih berisi, sedikit lebih gemuk walaupun susahnya minta ampun mengajak perut berkompromi menyesuaikan dengan makanan yang ada.

Kembali ke masa SMA dulu, ketika aku merasakan cinta monyet (katanya). Seorang siswi berkaca mata menjadi favoritku untuk objek pandang. Itu dulu, dua tahun lalu ketika aku melalui masa yang sebagian orang menganggap masa paling indah yang di lalui dalam hidup. 

2 tahun lamanya, hingga masa SMA berakhir tak ada satupun kalimat positif yang disambutnya dari semua caraku mendekatinya. Selalu sinis, selalu jutek, dan tampang yang sangat tidak menyenangkan ketika dia berhadapan denganku. Entah kenapa, aku sama sekali tidak pernah mendapat perlakuan baik. Sedikit sedih rasanya ketika melihat 2 orang temanku sedang duduk berdua di pojok, tertawa bersama, dan belajar bersama. sementara aku masih menatap dalam diam dan berharap dalam gelap kepada seseorang yang jelas-jelas tidak memberi respon posititif. Ah, sungguh kebodohan benar-benar menggerayangi ketika itu. Dan kini, 2 tahun lebih sejak peristiwa-peristiwa dimana aku memulai kisah itu, dan hampir setahun ketika aku melihatnya terakhir kali di gerbang sekolah kami.

Aku menatap sebuah foto yang kutempel di pintu lemari sejak aku berada di sini. Memang tidak ada wajahnya disana, tetapi foto itu mengingatkan kisah panjang yang aku rajut selama menajdi seorang remaja yang beranjak dewasa. Foto itu sudah cukup mengingatkan dan membawaku ke lamunan masa SMA yang dulu penuh bumbu. Pernah dulu aku hampir menyatakan perasaan, namun taka ada sama sekali kesempatan ia beri. Tanpa respon begitu menyakitkan. Dan itu perlahan membuatku mundur setelah berharap hampir 2 tahun lamanya. 

Lalu, itukah yang namanya perasaan? Dua tahun bukan waktu yang sebentar, dan tak pernah sekalipun aku mendapat tanggapan baik. paling tidak ada hal yang dia katakan untuk menyatakan penolakan. tetapi yang terjadi adalah... ah sudahlah. Tidak baik mengingatnya. 

foto itu aku cabut dari double tip penempelnya, kemudian aku berbaring di kamar yang malam ini begitu sepi, lingkungan yang sangat pas untuk flash back masa-masa kedekilanku dulu. Aku menatap seorang yang ada dalam foto itu. Laki-laki itu berpengaruh besar dalam perjalanan hidup (bukan homo).

Tiba-tiba pantatku bergetar karena handphone yang tak sengaja aku tiduri. Malas rasanya untuk melihat karena sedang dalam keadaan klimaks mengenang kisah zaman dahulu. namun getaran yang membuat tidak nyaman itu membuat aku mau tidak mau harus mengambil dan membuka sms dari hp bututku.

Tertulis nama yang sangat familiar bagiku, namun sangat tidak familiar bagi kotak masuk di hape bututku yang sampai sekarang masih menemani. Aku sangat mengenal nama itu, dan adalah sesuatu yang sangat langka ketika sms itu masuk. Jangankan untuk memulai duluan, bahkan selama 2 tahun sms ku yang di balasnya masih bisa dihitung dengan jari. sungguh miris sekali. Dan kini apa yang terjadi? di bajak kah? sangat tidak mungkin hal itu terjadi jika di lihat dari bunyi sms dan susunan huruf yang tertera. 

Seperti suatu keajaiban ketika sms itu datang. Hanya saja, sangat sayang sekali, sangat-sangat terlambat semua itu datang.Aku bahkan hampir lupa ketika aku menjadi seorang pecundang selama 2 tahun. Dan kali ini, apakah dia akan datang dengan harapan palsu lagi atau dia baru saja menyadari kehadiranku yang selama ini sebenarnya adalah penghias dan warna warni hidupnya? 

Handphone bututku ini kan menjadi saksi apa yang akan terjadi antara kami, adakh hal baru yang akan menyusun hidupku, entahlah. Yang selas handphone butut ini akan mengetahui semuanya, paling tidak hingga dua bulan lagi ketika nanti aku kembali berada di kampung halaman, berada di tempat yang menjadi latar pertemuan dan perkenalan kami dahulu.

Selasa, Mei 13, 2014

Sadarilah

Tidak sadarkah dirimu kini apa yang sedang terjadi, apa yang sedang kau perbuat, apa yang sedang kini kau lakukan, di hadapanku. Tidak kau sadari bahwa yang kau lakukan kini adalah kesenangan semu bersamanya yang akan segera hilang. Dia memang tidak sekedar membuatmu tersenyum, tetapi dia membuatmu nyaman, membuatmu bahagia dan membuatmu tertawa. Seolah sudah yakin dan sudah pasti, bahwa kau akan melangkah bersamanya. Semua yang kau miliki sudah tercurah padanya. Sudah fokus pada satu titik yang kini membuatmu melayang.

Tetapi kau lupa satu hal, kau melupakan hal penting yang kini sama sekali tidak kau ketahui. Kau melupakan sesuatu yang begitu penting. Kau masih belum menyadari siapa kelak yang akan memberikan itu semua padamu. memberikan dengan segala ketulusan yang akan membuatmu melayang dalam sebuah kesadaran.
Sayang sekali, hal terpenting yang kau lupakan begitu mengiris hati. Kau tidak menyadari, seharusnya kau tidak melakukan itu semua tepat di hadapanku. Tidak seharusnya kau mengumbar kemesraan di depan seorang yang kelak akan menghapus deraian air matamu. Dia dengan setengah kebahagiaan denganmu akan mengantarkanmu pada kenyataan kehidupan. Tidak menjanjikanmu kemewahan seperti yang kini ia berikan, tidak juga mengumbar cinta semu seperti dirinya yang sebentar lagi akan sirna.

Memang tidak ada janji kemewahan yang akan kau dapat jika bersamaku, tetapi juga tidak akan ada cinta semu yang aku hadirkan untukmu. Semua akan bertolak belakang dengan yang kini kau hadapi, semua akan berbanding terbalik dengan kenyataan yang sedang terjadi kini.

Begitu mesranya kau bersamanya kini, tidak kah kini kau sadari, bahwa orang yang sebenarnya tempat kau bersandar adalah orang yang kini bukan siapa-siapa bagimu. Dia hanya menatapmu dalam diam. Tidak ada sesuatu yang ia tunjukkan, ia tidak memberikan kode dan sinyal tentang kesalahan yang kau perbuat. Dia hanya duduk manis menunggu kesadaranmu datang. Tetap dalam diam meski kau sempat memperhatikannya. Dia memandangmu tanpa ekspresi, dan juga kau balas dalam ekspresi kosong ketika menatapnya. Satu hal yang tidak kau yakini adalah bahwa suatu saat nanti ketika waktunya tiba, 2 tatapan itu akan bersatu dan berubah menjadi wajah penuh keceriaan. Kau hanya belum menyadari bahwa itu aku.

Sadarlah lebih cepat agar aku tidak menunggumu terlalu lama. Agar aku tidak merasakan luka lebih dalam. Dan agar kau bisa merasakan indah yang sebenarnya. Pada akhirnya kita akan melangkah bersama dalam sebuah kisah hidup yang nantinya akan kita ceritakan kepada keturunan kita kelak.

Senin, Mei 12, 2014

Merah Muda di Pintu Keluar

sangat cukup kemesraannya membuat bulir-bulir mutiara ini jatuh. Tepat di depan mata, hanya berjarak kurang dari 1 meter, kemesraan mereka umbar di depanku. Sungguh hal yang sangat tidak indah terjadi sore ini. Sore yang mendung di langit Malang Utara yang sudah sangat gelap. Kini ditambah suasana hati yang juga mendung akibat 2 insan yang sedang duduk berdua tepat di depan mata. Mengumbar kemesraan mereka yang semakin hari semakin intim

Sejenak terlihat sangat indah dia dengan kerudung merah mudanya ketika keluar dari ruangan di lantai 2. Selaras dengan wajahnya yang putih berseri, sungguh cantik dan itulah keindahan dunia. Sempat aku lihat dengan jelas wajah itu ketika aku berdiri di depan pintu. Dalam jarak yang sangat dekat, tampak lebih cantik dia dari sebelumnya. terlihat jelas kelembutan di raut wajah itu. Mata ku tak berpaling sedikitpun dari apa yang kini aku lihat, sampai di sebuah kursi dia duduk bersama seorang yang sehari-hari selalu terlihat bersamanya. Langsung saja tanpa aba-aba, tanpa kode, dalam cuaca mendung di dada ketika itu, petir mulai sambar menyambar semakin menggelegar seirama dengan semakin mesranya mereka kini.

Tak kuasa berlama-lama melihat kejadian ini, aku berusaha melangkahkan kaki menuju keruangan sesegera mungkin di tengah padatnya pintu ketika itu. Jadilah aku berdesak-desakan dengan mereka yang keluar ruangan dan juga yang masuk ke ruangan, tersendat di lubang penghubung yang hanya kurang lebih 1,5 meter.

Entah apa yang kini mereka perbuat, tidak lagi leher ini mau berpaling, tidak lagi mata ini menjadi ingin menatap, dan tidak lagi hati ini menyruh otak untuk membayangkan keindahan bersama sang pujaan. Hanya saja tak terelakkan bahwa rasa suka itu tidak hilang begitu saja hanya karena sebuah kemesraan yang dia perbuat dengan orang lain.

tidak ada hak sama sekali untuk aku melakukan apapun. Aku bukan siapa-siapa. Dia juga kini tidak ada hubungannya denganku. Pun begitu juga dengan pacarnya itu. Bahkan sama sekali kami belum pernah berinteraksi sekalipun, walau sudah memasuki tahun bulan ke 8 sejak pertemuan pertama dulu, kecuali tatapan mata dari jarak yang jauh yang dulu sering terjadi. Selebihnya sama sekali tidak ada dan tidak pernah.

pernah beberapa kali dulu, dulu ketika dia belum memiliki pacar, aku berselisih dengannya. sangat jelas, sangat jelas ketika itu, mata kami beradu pandang lebih dari 5 detik, waktu yang tergolong lama untuk sebuah tatapan mata dengan seorang yang membuat dada berdebar. Namun ketika jarak semakin mendekat, semua berubah, mata berusaha mencari objek yang lebih menarik (meski sebenarnya tidak ada) dan tepat ketika jarak semakin dekat........................ Tidak ada sama sekali sesuatu yang spesial. Layaknya dua orang manusia yang tidak mengenal satu sama lain sedang berselisih di jalan umum.

Begitulah, ketika tidak ada keberanian untuk mengungkap dari awal dulu, ketika puncak rasa itu sedang mendidih di dada. Paling tidak, akan ada interaksi dan aku menjadi saksi dalam kebahagiaannya. Setidaknya ucapan selamat akan keluar dari bibirku dengan keikhlasan dari hati ketika dirinya menemukan seorang yang bisa membuatnya tersenyum setiap waktu

Minggu, Mei 11, 2014

Malam Minggu di Gazebo

Langkah 4 orang mahasiswa terdengar tidak beraturan di jalan raya yang sedang sesak dan penuh putaran roda kendaraan bermotor. Diam sejenak di pinggir jalan, menunggu jalanan sedikit sepi kemudian bergerak cepat melintas agar tidak di sambar sang penguasa jalan. Tampak keramaian mulai terlihat. Parkiran gazebo sudah dipenuhi kendaraan begitu juga halaman depan laboratorium pengolah kompos. Penuh sesak oleh motor yang terparkir tanpa pemilik.

Tepat di depan kami ada sebuah pagar sekitar 2,5 meter yang menghubungkan jalanan dengan gazebo utama kampus. Sudah pasti gerbang tersebut ditutup karena memang belum diresmikan penggunaannnya. Tidak ada plihan lain bagi selain memanjat pagar agar lebih cepat sampai ke tujuan. Memang sebenarnya gerbang utama yang siap sedia buka 24 jam tidak terlalu jauh, tetapi kalah dekat dibandingkan gerbang kecil yang masih tersegel ini. 

Tidak sampai menghabiskan waaktu 20 detik untuk memanjatnya hingga sampai ke seberang. Kalah jauh dibandingkan melewati gerbang utama yang harus memakan waktu paling cepat 2 menit lagi. Ketika sampai di balik gerbang, pemandangan yang terlihat jauh lebih menarik dari ketika masih di jalan tadi. Tampak dari belakang panggung, beberapa warna menghiasi area gazebo malam ini. Cahaya lampu sorot yang dibentuk dan bergerak sedemikian rupa, sangat jelas menggambarkan acara seni yang tengah berlangsung. Puncak acara yang berlangsung pada ULTAH UKM SENI KE 34 ini berjalan cukup meriah. Gazebo memang tidak disesaki pengunjung, tapi keramaian dapat terlihat dari stan-stan yang ada yang mengatakan dagangan mereka laris manis. 

Beberapa orang terlihat sedang menikmati acara ketika kami berjalan di trotoar kampus. Mencari pintu masuk sambil menikmati udara gazebo yang tergolong asri dibandingkan fakultasku yang sedikit lebih panas. Ada banyak orang yang tidak aku kenal disana. Wajah wajah aneh menghiasi malam minggu yang bagiku biasanya selalu suram. Yoga berjalan ke sisi kanan panggung dan menemukan tempat sepi yang sangat bagus untuk menikmati acara. Tanpa diajak pun aku, Reza dan Adi mengikuti langkah kaki Yoga ke sudut yang ternyata dekat dengan pintu keluar. 

Beberapa saat lamanya 4 orang kumbang yang malam ini tidak menemukan kembangnya menikmati acara seni yang disuguhi puisi, tarian kuda lumping, dan mendengarkan nada-nada tak jelas dari Rektor yang baru saja berakhir masa jabatannya. Kemudian ditutup dengan alunan indah paduan suara yang baru saja terbang ke Italia untuk mengikuti lomba tingkat internasional. 

Kami pindah bertepatan dengan lagu pertama dari paduan suara berakhir. Mencari tempat yang view nya lebih baik untuk melihat wajah-wajah bening yang kebanyakan tanpa kerudung ada di atas panggung. Beberapa wajah di sana sudah tidak asing lagi ternyata, karena berasal dari fakultas yang sama. Alunan-alunan indah terus melantun dari anugerah tuhan yang diberikan pada mereka. Suara indah itu menghibur banyak orang yang membuat penikmat khidmat mengikuti satu kesatuan suara di atas panggung. Terdengar hening beberapa saat dibuai oleh indahnya suara yang telah melalang buana ke berbagai negeri. Yang menjadi salah satu andalan kampus untuk berbicara dalam dunia internasional.

Begitu sang dirigen menutup penampilan mereka, tepuk tangan terdengar riuh berirama dari para penonton, dan baru berhenti ketika mereka mulai menghilang di balik panggung. Suasana kembali heboh seketika setelah beberapa saat lamanya terdiam, ternganga dan terlena oleh buaian indah suara lembut yang bersatu padu menjadi satu. Acara pun terus berlanjut.

Tak sengaja ketika menghadap ke belakang, sebuah banner sebagai latar belakang foto tampak bergerak tertiup angin malam. Aku mengajak 3 orang kawanku yang masih menatap ke panggung untuk mengabadikan momen malam ini. Bertepatan dengan itu, kepala ku di jitak oleh seseorang yang langsung saja menghilang. Dalam kaget aku berusaha mencari tangan jahil siapa yang menyentuh kepalaku. Rasanya feellingku tidaklah salah, dan ternyata memang benar. Tubuh agak gemuk dengan rambut kusut tak kuasa menahan tawa melihat kebingunganku mencari sang pelaku. Dialah Wahid, salah satu teman akrab dan teman pertamaku semenjak resmi menjadi mahasiswa di tanah jawa ini. 

Dan sangat kebetulan sekali karena dia saat itu sedang menenteng Kamera SLR bermerk Cannon, tepat disaat aku baru saja mengajak mereka berfoto di depan banner. Kami berjalan menuju banner dan bersiap dalam antrian. Hanya beberapa detik saja setelah itu kami mendapat kesempatan. Beberapa jepretan diabadikan wahid. Dan sesi foto pun selesai dengan gaya pose yang sangat amburadul. Sangat tidak ada bakat menjadi seorang model. 

Ketika aku hendak kembali menikmati acara, tampak disamping banner duduk orang yang aku kenal. Ternyata masih ada beberapa yang aku kenal setelah di awal tadi aku berasumsi tidak ada yang aku kenal di sini. Aku menyapanya, perempuan berkerudung yang kali ini memakai kacamata bingkai putih. dan dia membalasnya dengan senyuman. Senyuman indah yang disinari lampu sorot warna warni yang bergerak kesana kemari. Manis sekali dia tampak malam itu. Ingin aku memujinya, tapi tidak jadi. Tidak ada alasan penting bagiku ketika itu. Aku hanya teman biasa yang ketika bertemu hanya saling senyum. Lebih tepatnya teman satu program studi yang aku kenal lewat kepanitiaan dalam penutupan ospek jurusan beberapa bulan yang lalu. 

Beberapa kali aku melirik ketempat dia duduk. Bukan apa-apa, ini diluar kesadaran, mata seolah dengan sendirinya selalu berada di luar kendali. Ingin melihat lagi senyum manisnya yang indah yang dibayangi sinar lampu temaram warna warni yang menyorot wajahnya dari atas panggung. 

Rabu, Mei 07, 2014

Pandangan itu Tidak Berubah

Aku berjalan menuju tangga setelah keluar dari laboratorium pemuliaan tanaman setengah jam setelah azan zuhur berkumandang. Masih dengan menggunakan jas lab sambil menyandang tas, aku melangkah bersama erwin. teman sekelas ku yang juga berasal dari sumatera. Dia menenteng laptopku yang masih dalam keadaan terbuka. Mencari tempat untuk meletakkan laptop karena ada beberapa data yang akan dia pindahkan dari laptopku.   Di lorong sekitar 4 meter itu, dia berhenti dekat sebuah tangga.Tepat di depan tong sampah kecil dan meletakkan laptopku di sana. Di dekat tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua dan juga menjadi jembatan antara 2 laboratorium, yaitu pemuliaan tanaman dan fisiologi tumbuhan di gedung megah berlantai tiga ini. Tampak beberapa orang keluar dari lab fisiologi juga dengan mengenakan jas lab yang sama denganku.

Beberapa saat aku memperhatikan Erwin yang tengah asik dengan laptopku. Memindahkan data tugas kelompok yang harus segera di kirim untuk diolah kembali. Dijadikan makalah dan di jadikan power point untuk bahan  presentasi. Beberapa orang terlihat berdiri dan berfokus pada satu titik di tengah-tengah mereka. tampak ada sesuatu ayng sedang mereka bahas. sejenak pandangan ku terdiam di sana. 4 orang perempuan dan satu laki-laki sedikit gemuk dan tinggi dengan kacamata berbingkai hitam. di samping laki-laki yang tidak kuketahui namanya ini, berdiri seorang wanita berhijab dengan warna ungu tua dan baju ungu serta jeans panjang sedikit ketat yang menutupi lekuk-lekuk tubuhnya. sesaat aku sangat hafal body seperti itu. Postur tubuh yang sangat aku kenali karena dulu selalu menjadi perhatianku saat masih semester awal. Aku memandang dengan terkadang sedikit mengelak ketika dia memandang lurus kepadaku. Aku kenal betul orang itu. tapi apakah dia juga mengenal aku, entahlah. Yang jelas matanya yang liar selalu akan menjadi saksi apakah memang benar dia mengenalku atau tidak. 

pandangan itu ternyata masih ada. Masih tidak berubah bahwa mata itu masih tetap terus ingin memandang seorang yang sedang tengah di dera kegalauan ini. dia tidak berubah. sama sekali ia tak berubah meski sekarang ada orang lain yang telah memilikinya. Ada tempat kemana dia seharusnya memandang. Bukan kepadaku yang jelas-jelas sampai saat ini belum pernah berinteraksi dengannya. Ada seseorang kini yang seharusnya menjadi perhatian utama, ada yang telah memilikinya dan membimbingnya, telah ada orang yang selalu berada di sisinya kini. Jujur itu sungguh membuat aku sedikit kecewa dan merasa bodoh. Seandainya di kesempatan dulu, ketika melakukan fieldtrip di Jatikerto, ada kesempatan untuk aku bisa berbicara, namun ketiadaan keberaniaan membuat hanya diam yang menguasai tubuh ketika itu. sangat menyesal hingga kini atas apa yang aku lakukan ketika kesempatan yang datang ternyata memang hanya satu kali. di tambah kedekatannya yang semakin menjadi-jadi dengan laki-laki tinggi berkacamata dan agak gemuk itu. 

Laki-laki itu tidak mengetahui bahwa pandangan mata anggit ketika itu adalah aku. Tepat berada di samping sang kekasih, Anggit tetap memasukkan bayanganku dalam bola matanya yang hitam. Seolah hidung mancungnya menghembuskan napas dengan namaku mengalir di dalamnya. Tidak ada senyum ketika itu, hanya sabuah pandangan yang terus berusaha untuk memperhatikan gerak gerikku.

Aku adalah laki-laki. Aku tahu apa yang sedang diperbuatnya. aku sangat paham bahwa pandangan ini adalah pandangan awal saat pertama kali bertemu. Pandangan awal ketika masih menjalani masa ospek. Sama sekali tidak berubah. Ada ketertarikan lebih dari sorot mata yang anggun itu. Ada keinginan untuk dapat melihatnya setiap hari. Ada keinginan  untuk dapat memilikinya. Dan itu sangat sulit. Tidak ada keberanian adalah penghalang dari semuanya. Posisi sebagai anak rantau yang hidup jauh dari kecukupan, membuat anggit terlalu tinggi untuk di gapai. Seolah dia berada di eklas yang jauh lebih atas dibandingkan posisi ku saat ini.

Niat untuk menyatakan aku menyukainya, tidak pernah terealisasi akibat tertimbun oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Terkubur jauh di dasar dan belum saatnya untuk di bangkitkan. Waktu terus berlalu dan terus berputar meninggalkan ketidakberanianku. Aku mulai mencoba untuk lupa dan berusaha memainkan peranku sebagaimana posisiku yang ada di bawah. Jauh di atas sana sesosok anggit brdiri dengan anggun siap menanti sang pembimbingnya.

Beberapa bulan berlalu tanpa ada pertemuan karena jadwal yang berbeda. Lalu tiba-tiba hari ini, ketika aku yang seharusnya berada di lab genetika dipindah ke lab pemuliaan, memberikan kesempatan ku untuk melihat sang pujaan yang kini telah merajut kemesraan dengan orang lain. Sakit memang, ketika sentuhan-sentuhan hangat terjadi diantara mereka, tapi tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain suatu harapan agar senyumnya selalu mengembang, bersama siapapun dan siapapun yang ada di sisinya. Itu sudah membuat getaran hati ini mengalun indah.

Aku berjalan dan memandang ke depan dan dia tertangkap jelas sedang melihat wajahku yang sedikit mengantuk. Mungkin memang kalah jauh dibanding kekasihnya yang berkonstruksi wajah dan layak disebut ganteng. tapi ketulusan yang aku pancarkan lewat mata juga kalah jauh dari yang diberikan pacarnya. seolah dia mengetahui semua itu. Mata anggit berulang kali tertangkap sedang memandangku. PAndangan dan sorot mata yang tetap tidak berubah sejak 8 bulan yang lalu, sejak ketika dia belum memiliki 'peliharaan' yang akan membuatnya berderai air mata beberapa saat lagi. Aku sangat meyakini itu, karena ketulusan yang sebenarnya untuk seorang anggit ada dalam diriku. Hanya ada 1 ketulusan yang benar-benar sejati dan itu adalah aku. Mungkin hanya waktu yang belum memberikan jawaban kepada Anggit secara utuh. Hanya sorot mata yang seolah meyakinkanku bahwa sedikitnya anggit menyadari keberadaanku. Meski tiada satu kali pun interaksi pernah terjadi di antara kami. Tatapan matanya seolah masih mengatakan keraguan yang tengah berkecamuk. Dia menyadari akan kehadiranku, namun belum  ada keyakinan yang utuh untuk benar-benar meyakinkan. Dia menyadari kehadiranku yang ingin bersamanya, namun dia belum meyakini sepenuhnya, ketulusan dan kesungguhan kah yang akan aku hantarkan???

Dulu aku hanya butuh keberanian jika seandainya kesungguhan benar-benar aku miliki. NAmun sayang sekali kesungguhan yang hampir matang itu harus terkubur oleh perbedaan kasta antara kami. Lalu kini? Ketika seorang telah mendapatkan hatinya, aku juga malah ingin berharap lagi dengan rasa yang lebih menggebu-gebu. bersiap menjadi orang ketiga atas kesalahnku sendiri di masa lalu. jika dulu aku berani mengungkap yang ada di hati, meski tidak ada jawaban pasti, paling tidak aku telah menyatakan apa yang aku yakini. Apapun yang terjadi kemudian tergantung dari keputusannya. Sayang sekali itu sudah terlambat. Jikapun kini tertaklukkan, akan ada yang menghalangiku terlebih dahulu sebelum hati itu benar-benar bisa ku gapai. Anggit tidak akan lepas genggaman begitu saja dari sang pacar. Masih ada secuil cinta yang akan mempertahankannya. Tergantung penilaian anggit selanjutnya dan langkah yang akan dia lakukan setelah itu. Apakah ia memilih secuil cinta lewat nafsu, atau memilih ketulusan nyata yang aku bawa jauh dari seberang laut sana hanya untuk seorang agdis jawa yang begitu elok. 

terlepas dari semua itu, sedikit syukur tetap terucap di hatiku yang kini teriris melihat kemesraan yang mereka umbar. Aku sedikit senang karena mata itu tidak berubah. tetap memilih aku sebagai objek pandangnya. tetap dengan cara yang sama seperti awal dulu. ketika belum ada peliharaan yang selalu mengawalnya. Aku hanya bisa berdoa semoga kini ia tengah tersasar mennuju hatiku yang sebenarnya jauh lebih indah. keindahan nyata yang ada dariku untuknya, tidak seperti keindahan semu dalam masa pencariannya yang kini masih terus berlanjut. Selamat berjuang anggit. teruslah tersenyum dan teruslah mencari jalan, karena hatiku telah menunggumu di sini. Jangan sampai menyerah hingga kau benar-benar jatuh di pelukanku. Aku juga akan berjuang untuk persiapan masa depan indah yang akan kita rajut bersama. teruslah melangkah hingga hati ini bisa kau lihat dengan jelas cahaya ketulusan yang akan kuberi.

Minggu, Mei 04, 2014

[Bab 1] Dia

                Tidak lagi bisa menyalahkan siapa-siapa jika seandainya rasa ini benar-benar muncul. Pertemuan yang sering meski tanpa komunikasi dan kontak melahirkan sesuatu yang terasa aneh dalam jiwa. Ada sedikit hal yang tidak biasa namun juga sulit dijelaskan. Terlalu sulit untuk diterjemahkan bagaimana rasanya kini ketika rasa aneh itu hadir. Kata-kata seolah kini menjadi pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa menerjemahkannya. Dan juga dia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Kata-kata seolah tidak lagi penting ketika semuanya sudah menjurus pada masalah hati dan perasaan. Ada keadaan dimana keindahan menghiasi hati saat konstruksi wajahnya itu ada di pelupuk mata. Dan apabila tersenyum, sungguhlah sangat indah bentuknya. Paras sempurna yang diberikan tuhan, Keindahan nyata yang membuat hati bergetar dan darah berdesir saat berada di hadapannya.
                Aku tidak bisa berbohong pada siapapun bahwa sebenarnya kaum hawa yang satu ini begitu mengguga hati. Ada rasa saat dia hadir, dan ada rindu ketika dia tak menampakkan diri. Kadang rasa yang tidak terungkap itu sedikit menyiksa karena hanya berani berbicara di dalam, namun keberanian juga tak kunjung segera datang untuk menuntaskannya. Mata ini begitu ingin memandang selama mungkin. Melihat corak wajah, dan bahkan memperhatikan dengan seksama pori-pori wajah mulus yang sama sekali tidak di tumbuhi jerawat itu. Waktu yang berjalan mulai menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Perlahan aku ulai mengerti. Aku mulai memahami kehidupan yang sebenarnya kini terjadi. Keadaan dan lingkungan kini membuat aku tahu apa yang sebenarnya di inginkan bathin yang Selama ini menjadi petanyaan tak terjawab dan sedikit menyiksa.
                Mereka pada hari tertentu selalu terlihat berdua. Saling bermanja dan menampakkan kemesraan. Kadang terlihat menangis atau raut wajah sedih. Namun mereka tak pernah sendiri. Setiap kondisi, senang, sedih, kacau selalu ada satu wajah lain yang menunjukkan ekspresi sama. Beberapa kawan ku tak pernah merasa sendiri. Rasa hati yang mereka rasakan selalu dirasakan oleh dia yang selalu ada di sisinya. Seolah masing-masing dari mereka tidak pernah merasa sendiri karena selalu ada belahan yang menemani mereka setiap saat di setiap hal.
                Aku pernah merasakan hal yang sama beberapa waktu yang lalu. Dulu, ketika seorang kaum hawa bernama vivi menjadi bagian daari hari-hariku. Dulu, dulu sekali ketika semua itu sangat jauh dari yang terjadi sekarang, aku pernah merasakannya. Aku sangat paham dan mengerti, begitu nyaman ketika semua itu dijalani bersama. Sangat indah hari yang dilalui meski di iringi masalah. Selalu ada senyum dan semangat yang hadir ketika sebuah masalah datang menghampiri. Badai masalah yang datang, adalah  bumbu penyedap dalam menghadapi hari-hari indah bersamanya. Tapi itu dulu. Sudah menjadi masa lalu kini. Dia telah punya jalan lain untuk menuju kebhagiaannya, dan aku pun kini memiliki ajlan lain untuk menemukan kebahagianku. Kebahagiaan yang nyata bersama seseorang di sini yang masih dalam pencarian. MAsih belum berjumpa sang bidadari yang akan membawa aku dalam kehidupan penuh lika-liku yang bahagia. Mengahnyutkan aku dalam masalah-masalah yang akan dihadapi bersamnya kelak. Menumbukan pohon bernama keluarga bersamanya.
                Siapa? Entahlah, yang jelas aku akan menemukannya di sini. Langkah kaki meninggalkan kampung halaman dan pergi jauh ke tempat antah berantah ini akan menuai hasil yang aku yakini sesuai dengan harapanku. Aku sudah bertemu berbagai macam orang di sini, bertemu berbagai macam sifat, dan juga bertemu berbagai macam karakter. Latar belakang kultural yang berbeda, dan kini aku berada di tempat yang sama sekali budayanya berbeda, menunjukkan kayanya negeri ini. aDalah sebuah kewajaran saat menyatukan berbagai perbedaan itu terasa sangat sulit.

                Kini, memasuki bulan ke 4 aku berada di sini, seorang perempuan tidak berjilbab mulai menjadi perhatianku. Ada kenyamanan saat memandangnya. Tubuh semoknya menghadirkan keindahan sendiri. Sorot matanya yang lembut jelas terlihat di balik kaca mata minus dengan bingkai hitam yang ia kenakan setiiap hari. Sebuah acara puncak di fakultas mengenalkanku pada wajah itu. Beberapa orang yang aku kenal juga mengenalnya. Sempat kami mengabadikan momen secara bersama-sama dengan latar belakang ny banner acara tersebut. Entah apa yang terjadi sebelum-sebelumnya, yang jelas tiba-tiba saja beberapa saat sebelum jepretan pertama, aku berdiri tepat di sampingnya. Bahu kanannya menyentuh bahu kananku. Dengan jelas aku lihat dengan sudut mata, ujung kepalanya sama dengan leher bagian atasku. Jadi jika aku berpikir sedikit nakal, seandainya aku mengecupnya, kecupan itu akan mendarat tepat di keningnya yang cukup lebar.
                Cahaya flash dari jepretan pertama sedikit mengagetkan lamunanku tentang kecupan yang tengah berlangsung. Sontak aku terkaget dan reflex melihat dia yang berada di sisiku ketika itu. Baju pink mengkilat yang menutupi tubuh bagian atasnya terlihat sedikit memantulkan lampu temaram panggung yang berada tidak jauh dari sisi kami melakukan pemotretan. Juga wajahnya yang sedikit mengkilat karena minyak ikut memantulkan kerlap kerlip lampu malam itu. Beberapa jepretan selesai ketika lagu mars aribisnis berkumandang. Kami menikmati acara beberapa saat dan mulai berangsur meninggalkan kampus beberapa waktu kemudian ketika acara mulai tampak membosankan. Tepat di sebuah jalan besar di tengah kampus, kami mulai berpisah, beberapa orang berbelok ke kiri, beberapa lainnya, tetap lurus melewati gedung bertingkat di kedua sisinya, sementara aku dan juga beberapa yang lain berbelok ke kiri.

                Di perjalanan pulang, aku memandangi sebuah smartphone yang di dalamnya ada beberapa foto yang baru saja di abadikan. Seorang diri aku memandanginya sementara mereka sangat rebut di depanku. Fokusku tertuju pada bagian kiri, dimana aku berada paling sudut kemudian perempuan yang tadi berbaju ping, berada tepat di sebelahku. Memang benar prediksi dalam khayalanku tadi, memang jika aku mengecupnya, maka kecupan itu tepat jatuh di jidatnya. Terlihat cantik ia dengan tubuh semoknya. Dan tampak sangat dewasa denan kacamata yang ia pakai. Sorotan matanya menunjukkan dia tidak lagi seorang anak manja yang terus bergantung pada orang tua. Ada sosok kedewasaan dalam dirinya. Hanya saja, aku tidak tahu namanya. Ingin aku bertanya kepada mereka yang kini ribut di depanku. Tetapi untung saja niat itu segera terurung karena pikiran ku tiba-tiba saja melintas, bahwa akan terjadi sesuatu jika aku menanyakannya. Akan ada bullyan besar seandainya keinginanku barusan  tak tertahan. Aku membatalkannya dan terus berjalan dengan membawa sebuah rasa penasaran dan ingin tahu yang sedikit menyesak hati.