Minggu, April 10, 2016
Tiada Balas
Sabtu, April 09, 2016
Cakrawala U K
Bendera kebesaran milik Negeri Ratu Elizabeth menari-nari lagi di dalam mimpi. Penolakan untuk melakukan riset secara gratis di sana telah melumat senyum dan keceriaanku. Faktanya, ribuan orang berlomba untuk satu tempat di sana, sementara aku enteng sekali dan seolah tanpa sedikitpun rasa bersalah menolaknya dengan alasan klasik nan sederhana, tidak bisa berbahasa Inggris -walaupun pasif-. Merasa tidak sanggup bahkan sebenarnya belum pernah mencoba. Dalam sekali ini, harus kuakui bahwa label 'bodoh' memang layak untuk disematkan, ditempel di keningku dan digiring oleh hujatan banyak mulut.
Apakah aku tidak menyesal?
Jelas aku menyesal. Tetapi sesalku bukan karena penolakan tawaran riset. Lebih karena di kampungku di lembah bukit barisan sana ketika itu bahasa Inggris dalam kurikulum sekolah -terutama SD- masih terbilang baru dan aku tak begitu tertarik. Padahal banyak kawan-kawanku dari sana yang punyai kemampuan baik dalam bahasa Inggris, bahkan ada yang dalam waktu dekat ini akan berangkat ke Korea.
Bukan bermaksud menyalahkan kurikulum, juga tidak sedikitpun menyalahkan kenapa lahir dan besar di sana. Aku hanya merasa sulit memaafkan diri sendiri yang dulu lalai, yang dulu terlalu malas untuk membuka cakrawala. Aku terlalu terpaku pada sistem dan aturan, hanya mengekor pada apa-apa yang tertulis dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya.
Istimewakan
Wahai Malang yang Ijo Royo-Royo, sedikit aku berpinta kepadamu yang punya kuasa penuh atas tanah ini. Pertama, ramahkanlah dirimu jikalau kelak aku menjadi wargamu. Kedua, hangatkanlah keseharianku di setiap cerita-cerita indah dalam layanan santunmu. Sambutanmu saat kedatanganku dulu sudah cukup istimewa, maka istimewakan pulalah aku saat benar-benar menetap di bumimu. Bahwasanya aku telah jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Tidak hanya kepadamu, melainkan juga kepada seorang yang setia bermanja di dalam dekapmu.
Kamis, April 07, 2016
Diam
Memejamkan mata sungguh tidak akan menghilangkan masalah. Waktu tidak Berhenti ataupun berjalan lebih cepat saat mata tak menatap. Sungguh angkuh, egois dan seenaknya. begitulah waktu berprilaku dengan kejam tanpa punyai rasa belas kasih. Waktu tak pernah peduli dengan beratnya masalah yang tengah dihadapi. Dia terus berjalan tanpa mau menunggu, bahkan memperlambat pun tidak. Kita hanya perlu sedikit berlapang hati dan mengikuti aturan mainnya.
Barangkali setiap yang berkaitan dengan waktu adalah masalah yang sulit terselesaikan, namun bilamana diam juga ikut-ikutan membela dan hadir di tengah-tengah waktu, maka tamatlah. Diam dalam sebuah masalah, mengendapkan kebisuan tanpa ada kata, maka tiada ada hal yang dapat diperbaiki. Mungkin saja banyak pikir yang menyetujui satu kalimat sederhana sarat makna, bahwasanya 'diam adalah emas', namun itu dalam konteks yang bagaimana?
Rabu, April 06, 2016
Penghapus Sepi (Part 2)
Malam mulai menyambangi kota dan dingin mulai menusuk secara perlahan. Dua pasang kaki baru saja melangkah meninggalkan gedung 7 lantai berwarna coklat yang berdiri megah di tengah-tengah kampus. Diam-diam dalam langkah itu mulai terselip rasa dari salah satu hati. Hanya saja tidak ada media dan alasan yang membuat semuanya terungkap. Hari terus berjalan seperti kaki yang terus melangkah. Dunia terus berputar layaknya nafas yang tak pernah berhenti menghirup oksigen.
Malam itu pertemuan berakhir di penghujung makan. 2 jam saja waktu memberi kesempatan untuk mereka bertemu. 2 jam yang teramat panjang untuk diceritakan Rahma, dan 2 jam yang terbilang biasa bagi Iga. Ya, menurut Rahma, Iga sangatlah berbeda. Tulisan-tulisan Iga yang mendayu dan menyentuh tidak serta merta mewakili bahwa dia adalah seorang yang lemah lembut, perhatian, dan penyayang.
Selasa, April 05, 2016
Menghapus Sepi (Part 1)
Sepasang mata yang tatapnya sangat biasa, berjalan di sore sepi yang mulai gelap. Menyusuri lorong yang di kanan-kirinya berbaris bangku-bangku dan meja-meja tempat banyak aktifitas biasa dilakukan. Tidak ada yang menyapanya, juga tidak ada yang ia sapa, kecuali seorang laki-laki di pojok dekat belokan lorong sana yang sedang terpaku menatap laptopnya. Rambutnya sudah sedikit acak-acakan, pertanda pusing dan lelah sudah sedikit-sedikit melekat di raganya.
Perempuan itu sudah memperhatikan dari jauh. Dia perlambat langkahnya agar dapat menyaksikannya lebih lama. Memastikan apakah itu laki-laki yang sedang berada dalam pikirannya atau bukan. Jika benar, harus ia pastikan lagi apakah laki-laki itu dapat dia hampiri atau tidak.
Ketika jarak semakin dekat, mulai dapat dilihatnya apa gerangan yang sedang dilakukan laki-laki itu.
"Menulis." Hatinya bergumam.
Dia tahu bahwa laki-laki itu hobi menulis. Dan bahkan beberapa kali pernah menulis tentangnya. Dia terbuai, perempuan mana yang tak tersengat hatinya ketika mendapat alunan pujian dengan desain kata yang elegan nan romantis.
Berhenti langkahnya ketika jarak tinggal 3 meter, lalu ia mematungkan diri, melihat sejenak tulisan apa yang sedang laki-laki itu rangkai. Pastinya adalah buaian-buaian kata mendayu, puitis, dan sederhana namun sangat menusuk. Ah, sungguh pintar orang ini bermain kata.
Jumat, April 01, 2016
Suasana Abstrak
Kamu cukup berhati-hati dalam menyikapi sebab-akibat yang miliki dampak lain, juga kamu tampaknya tidak ingin memancing suasana menjadi lebih dalam. Kamu ternyata pintar dalam memainkan peran. Mampu menaklukkan penjelasan lewat satu sentuhan yang sarat akan manipulasi. Kamu samarkan pujian atas rindu yang sedang mengunjungimu, kamu rekayasa hatimu sendiri dengan hal-hal yang sulit termaknai.
Kebetulan aku dapat membacanya di waktu peralihan dari dinihari ke subuh, dimana waktu saat itu adalah waktu-waktu terpeka bagi hati dan perasaan untuk melayangkan sebuah penilaian. Aku dapat memaknai sebuah maksud yang mungkin sedang kamu sembunyikan. Setengah sisi hatimu ingin bicara mengungkap gembiranya, sementara satu sisi hatimu yang lain memilih bungkam karena belum siap atas resiko yang akan tiba setelahnya.
Apa yang kamu lakukan menjadi terlihat sangat abstrak, tetapi semua hati yang peka berkesimpulan bahwa keabstrakan itu selalu adanya setelah sesuatu yang kongkrit pernah terjadi sebelumnya. Dan kamu adalah keabstrakan yang indah dengan goresan-goresan kata yang sulit terbaca maknanyanya.
Kebetulan aku dapat membacanya di waktu peralihan dari dinihari ke subuh, dimana waktu saat itu adalah waktu-waktu terpeka bagi hati dan perasaan untuk melayangkan sebuah penilaian. Aku dapat memaknai sebuah maksud yang mungkin sedang kamu sembunyikan. Setengah sisi hatimu ingin bicara mengungkap gembiranya, sementara satu sisi hatimu yang lain memilih bungkam karena belum siap atas resiko yang akan tiba setelahnya.
Apa yang kamu lakukan menjadi terlihat sangat abstrak, tetapi semua hati yang peka berkesimpulan bahwa keabstrakan itu selalu adanya setelah sesuatu yang kongkrit pernah terjadi sebelumnya. Dan kamu adalah keabstrakan yang indah dengan goresan-goresan kata yang sulit terbaca maknanyanya.
Langganan:
Postingan (Atom)






