Kamis, Juni 18, 2015

Melancongi Surabaya

Hanya terlintas sebentar saja dalam kepala ketika saya sedang menatapnya saat kami duduk berhadapan di dekat perpustakaan. Saya pikirkan sejenak lalu saya tanyakan kepada dia yang saat itu sedang tersenyum menatap layar laptopnya. Saya tidak yakin dan juga tidak terlalu berharap, kecil kemungkinan apa yang saya pikirkan menjadi daya tarik baginya. tetapi waktu itu tidak apalah, daripada kami bingung mau membahas apa, maka saya ajukan saja sebuah topik yang mungkin membawa pembicaraan kami ke arah yang lebih dalam. Dan ternyata benar.

Saya tanyakan bagaimana seandainya sekali waktu kita (saya dan dia) menghabiskan waktu dengan keluar kota seharian penuh, tentunya kota-kota terdekat yang bisa diakses dengan kendaraan umum. Dia tersenyum, menatap saya sebentar lalu menyetujui ajakan saya yang sebenarnya hanya berupa pendapat dan saran pengisi diam saja. Dari itu mulailah kami merencanakan perjalanan kecil yang akan kami tempuh sebelum ujian nanti.  Berdua menjelajahi kota tetangga. Masing-masing dari kami mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama. Dan uang itu disatukan lalu digunakan untuk keperluan selama perjalanan, mulai dari tiket, makan dan sebagainya.

Beberapa kota masuk dalam seleksi lancongan kami. Paling utama adalah Kediri, kota di kaki gunung kelud yang berjarak sekitar 3 jam dari Malang. Tempat wisata bukan tujuan utama yang ingin kami kunjungi. Simpang Lima Gumul lah yang menjadi daya tarik untuk menginjakkan kaki di sana. Bangunannya mirip dengan monumen Arc De Triomphe Paris dan menjadi ikon bagi Kediri. Sudah bulat tekat awalnya, tinggal menunggu hari yang pas. 

Beberapa hari sebelum berangkat ketika mengecek harga tiket lewat internet, ternyata tidak sesuai ekspektasi. Terlalu mahal untuk jarak 3 jam jika menggunakan kereta. Kami sempat berencana pindah armada menggunakan Bus. Tetapi daya tarik kereta api akhirnya membatalkan niat kami mengunjungi Kediri. 

Blitar menjadi pilihan selanjutnya. Adalah Makam mantan RI 1 Ir. Soekarno magnetnya. Setelah berpikir dan berdebat sedikit, kami putuskan untuk tidak jadi saja. Blitar adalah kota kecil, belum ada diantara kami yang pernah ke sana. Karena menggunakan kendaraan umum, tentunya akan menyulitkan kami untuk bertualang di sana.

How about Surabaya? Kota metropolitan ini memang sudah ada dalam benak semenjak sebelum-sebelumnya. Hanya saja kota ini terlalu maenstream untuk dikunjungi. Saya dan dia sudah pernah menginjak tanah ibukota Jawa Timur itu. Saya pernah menggunakan kereta api dan sepeda motor ke sana. Dia juga sudah beberapa kali ke Kota Pahlawan itu menggunakan kendaraan pribadi. 

Beberapa hari kami sempat berpikir. Dan memang satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk dikunjungi agar kami bisa pulang hari itu juga adalah Surabaya. Ketika melihat tiket kereta api (lagi-lagi lewat internet) ternyata hanya ada kereta yang berangkat pukul Duabelas siang dan pukul Dua siang. Kendala lagi-lagi di kendaraan yang akan mengangkut kami. Akhirnya kami putuskan saja untuk naik bus dari terminal Arjosari karena setiap jam dipastikan ada bus yang berangkat atau tiba dari Surabaya. Fix. Besok berangkat ke Surabaya menggunakan bus.

Beberapa jam sebelum berangkat, entah saya atau dia yang memulai. Kereta sepertinya lebih menarik untuk dinaiki daripada bus. Debat sejenak kembali terjadi hingga jam sudah menunjukkan pukul Sepuluh lewat sedikit. Diputuskan akhirnya untuk naik Kereta saja -entah ilhamnya dari mana-.

Kami akhirnya berubah haluan dan bergerak menuju Stasiun Malang. Sampai di sana sekitar pukul Sebelas dan melihat antrian panjang pemesanan tiket hari ini. Beruntung ada satpam yang bertanya kepada kami, dan dengan bantuannya kami dapat memperoleh tiket lebih cepat. Akhirnya ke Surabaya tinggal di depan mata.

Setengah jam sebelum kereta berangkat kami masuk ke gerbong 6 kereta bernama Jayabaya. Keretanya saat itu sepi. Setiap gerbong hanya diisi tidak lebih dari Sepuluh orang. Dan sedikit sial, tepat di depan kami adalah seorang pemilik tiket jadi-jadian. Dia laki-laki bernama Thomas Becket Angga -nama yang keren menurut saya-. Sayang tidak sekeren penampilannya. Semua yang melekat di badannya adalah atribut wanita, mulai dari tas, celana, kalung hingga sepatu semuanya adalah milik kaum hawa. Sampai gaya bicaranya juga lebih anggun daripada wanita normal kebanyakan.

Kami putuskan untuk pindah saja ke kursi yang lain. Antara geli, takut dan geregetan melihat wujut yang duduk di depan kami. Barulah setelah itu kami dapat bernapas lega. Setengah jam setelah kereta berjalan, kami membuka bekal yang dimasak tadi pagi oleh seorang yang spesial dan tentu saja spesial untuk bekal selama perjalanan -Terimakasih untuk masakannya, kapan-kapan mau lagi-. Ada ikan asin, sayur kangkung dan tempe goreng yang dimasaknya. Juga sebotol sambal pedas yang dia bawa untuk tambahan bekal agar makan terasa lebih nikmat.

Saya makan dengan lahap. kami makan dengan iringan canda tawa dan cerita-cerita seputar masak memasak. Seandainya dia jadi istri saya nanti :D :D :D Selesai makan, kami lanjutkan dengan bercerita tentang apa saja yang akan dilakukan di Surabaya nanti. Beberapa tempat telah saya cek lokasinya, terutama yang dekat dengan stasiun pemberhentian.  Sekitar pukul setengah Dua kereta berhenti. Kami turun dari kereta dan berjalan menyusuri stasiun mencari musholla. Beberapa saat kami tunaikan kewajiban.
Tiket Keberangkatan Malang-Surabaya

Stasiun Surabaya Gubeng. Saya berteriak dalam hati, mungkin dia juga. Kami putuskan untuk langsung saja membeli tiket pulang. Ada dua pilihan. Pukul delapan malam atau pukul setengah Dua belas. Agar tidak terburu-buru tentu saja kami putuskan megambil yang jam setengah Duabelas saja. 

Tujuan selanjutnya setelah mendapatkan tiket pulang adalah Monumen kapal selam. Tidak ada pilihan lain karena inilah tempat wisata paling dekat dengan stasiun Gubeng. hanya sekitar 200 meter sebelah baratnya atau berjalan sekitar sepuluh menit. Disana yang saya dan dia lihat adalah bagian dan alat-alat yang ada dalam kapal selam yang kini telah direnovasi dan dijadikan tempat wisata. kemudian dilanjutkan dengan menonton film tentang kapal tersebut.



Setelah itu -karena tidak tahu jalan- saya bertanya kepada beberapa orang jalan menuju Kebun Binatang Surabaya (KBS). Bukan untuk melihat harimau ompong, mamalia uzur, ataupun Unta lansia, ini hanya untuk mempermudah saja karena tujuan kami sebenarnya adalah Patung ikan hiu Sura dan Buaya yang menjadi simbol kota Surabaya, kebetulan letaknya tepat di depan KBS. 

Kami terus berjalan ke arah barat. Karena mulai bingung, kami mampir sebentar ke Plaza Surabaya. Beberapa menit saja karena hanya hanya untuk numpang ke toilet. Kepada petugas toilet saya tanyakan jalan menuju KBS. Mendengar jawabannya, kami sedikit kecewa karena jaraknya masih terlalu jauh. Dan angkutan Damri yang katanya bisa mengantar kami ke sana sangat jarang muncul, jika pun ada selalu sesak dan tidak bisa di isi penumpang lagi, bahkan untuk berdiri.

Kami terus melangkah sampai bertemu patung air mancur dan kemudian berbelok ke arah Utara. Setengah jam berikutnya kami bertemu tugu pahawan berupa 3 bambu runcing yang berada di tengah jalan. Di pinggirnya ada penjual bakso, kami mampir sebentar, saya memesan es degan dan dia memesan bakso. Dari keterangan tukang bakso, kami dapat menunggu bus Damri di halte tidak jauh dari situ. Ternyata benar saja. Akhirnya Damri mengantarkan kami bertemu dengan Patung Sura dan Buaya.

Setelah turun dari Damri, untuk sampai ke sana kami harus menyeberang dulu melalui jembatan penyeberangan. Ini adalah yang paling saya takutkan. karena biasanya selalu ada preman yang mangkal di sana dan siap memalak setiap orang yang lewat. 

Benar saja, baru sampai di anak tangga ke 6, seseorang terlihat memandang kami dengan wajah tidak menyenangkan. Dia sedikit kumal, bertato dan seperti penjahat gayanya. Preman itu terus memandang kami. Kaki saya gemetar, tetapi karena saat itu sedang berjalan bersama seorang perempuan saya usahakan untuk biasa saja -biar kelihatan gentle :D- Begitu tepat berada di depan sang preman, saya tersenyum sedikit dan menundukkan kepala sambil menyapa. Preman itu tersenyum. Gigi bagian kirinya ompong. Kami berlalu dengan tatapan sang preman yang tetap saja menakutkan meski sudah disapa dengan sangat ramah.

Tiga menit setelahnya, kami benar-benar sampai di tempat yang sangat-sangat sayang jika tidak dikunjungi seandainya mampir ke Surabaya. Tidak ada apa-apanya memang. tetapi inilah Surabaya dengan Sejarah Ikan Hiu Sura dan Buaya yang sedang berkelahi. Beberapa foto kami abadikan di sana. berlatar patung simbol asal mula nama Surabaya itu, kami mengambil beberapa gambar, baik sendiri ataupun berdua. Saat itu sudah sore dan kami belum sholat Ashar. Kami putuskan untuk ke Masjid dulu, dalam rencana akan kembali ke patung jika hari sudah gelap. karena cahaya lampu yag ditembakkan ke arah patung membuat gambar yang diambil akan lebih baik. 
Halo Surabaya

Satu-satunya mesjid adalah di seberang jalan dekat kami turun dari Damri tadi. dan berarti ahrus melewati jembatan penyeberangan lagi, bertemu dengan preman lagi. yang tadi aman, apakah sekarang juga aman?

Kejadian yang sama terulang ketika kami melewatinya. Buru-buru kami melangkah setelah melewati preman yang masih berdiri di atas jembatan. Kami putuskan untuk istirahat sejenak di Mesjid sambil menunggu Magrib tiba. Sambil mengecas hape juga. 

Setelah itu kami sebenarnya berniat untuk kembali ke patung, tetapi berpikir tentang keamanan dan lagipula kami hanya berdua di tambah tidak ada yang kenal kami di kota ini, akhirnya diputuskan saja untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Bungkul, taman yang (kalau tidak salah) memperoleh predikat taman terbaik di Asia Tenggara pada 2013 lalu. Kami ke sana dengan berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh. Di taman Bungkul kami duduk di pinggir batas taman, melihat lalu lalang orang yang mampir sekalian melepas lelah. Saat itu sudah pukul Tujuh malam. Kurang dari 5 jam lagi kami akan angkat kaki dari Surabaya.

Sekitar satu jam kami menikmati malam Surabaya di taman Bungkul. Pukul 8 malam kami sudah angkat kaki karena mengingat begitu sulitnya angkutan di sini. Di halte sekitar 200 meter dari Taman bungkul kami menunggu. Hingga hampir satu jam, tidak satupun Damri yang muncul. Hanya ada beberapa angkot dan tidak tahu tujuannya kemana. Ketika jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam sementara Damri tidak juga muncul, akhirnya tidak ada jalan lain. Kami harus berjalan kaki dari sana menuju stasiun Gubeng Baru tempat kami menunggu kereta ke Malang -letaknya juga tidak kami ketahui. kata petugas di pembelian tiket letaknya tidak jauh dari Stasiun Gubeng lama tapi entah dimananya-

Kami terus berjalan ke arah selatan, setelah berjalan ke arah selatan selama satu jam penuh, kami tiba di persimpangan besar yang membingungkan. rasanya tadi bus Damri tidak melewati jalur ini. Bingung beberapa saat, kami bertanya ke seorang satpam yang kebetulan sedang berjaga malam. Jawabannya lagi-lagi mengecewakan. kami sudah berjalan selama satu jam, dan diakatakannya jarak ke stasiun Gubeng Baru masih cukup jauh. Disarankannya untuk naik becak yang ada di seberang jalan saja karena sudah tidak ada lagi angkutan bermotor.

Kami menyeberang jalan dan tidak menghampiri becak. Kami terus melangkah ke arah yang di tunjuk satpam untuk menuju stasiun. Setengah jam lamanya, terlihat dari kejauhan cahaya terang di tengah jalan. semakin dekat semakin jelas bahwa itu adalah tugu pahlawan dekat kami makan bakso tadi siang. Nafas sedikit lega, karena dari sini saya sudah tahu kemana kaki akan dibelokkan untuk menuju stasiun. Tinggal mencari Stasiun Gubeng baru saja. Pedagang bakso yang tadi mangkal sudah tidak ada lagi. Sudah pulang sepertinya, atau sudah pindah ke tempat lain.

Singkat cerita kami meneruskan perjalanan dan berhenti sebentar tepat di dekat stasiun Gubeng -saat itu keringat sudah mengucur deras dan membasahi pakaian kami masing-masing- Kami membeli beberapa perbekalan untuk di kereta dan selama menunggu ketika sampai di Stasiun Malang nanti malam. Bertanya kepada ptugas supermarket kami dapati petunjuk menuju stasiun Gubeng Baru tempat kereta menaikkan penumpang. Sekitar setengah jam kami berjalan dan akhirnya menemukannya. Senang sekali rasanya, tiket sudah di tangan, Stasiun sudah di depan mata, tinggal menunggu kereta datang dari arah Jakarta. Saat itu pukul Sepuluh lewat sedikit. Kurang lebih satu setengah Jam lagi. Di sana kami menunggu bersama beberapa orang.
Penampakan Stasiun Gubeng Baru bersama tiket kepulangan


Lagi-lagi kami melihat tante Thomas juga ada di sana. Artinya dia akan kembali naik kereta yang sama dengan yang kami naiki. Beberapa kali kami berdoa bersama agar tidak satu gerbong lagi dengan dia, setidaknya tidak satu tempat duduk lagi. Bukan bermaksud merendahkan atau melecehkan, tetapi aneh saja rasanya dan kami sangat tidak biasa bertemu orang seperti itu.

Doa kami terkabul, kami tidak satu gerbong dengannya, tapi kali ini keretanya sedikit lebih ramai. Kami tiba di Stasiun Malang pukul Setengah Dua malam. Tiak ada angkot yang membawa kami ke kost jam segitu. Kami berniat menunggu sampai pagi saja sampai ada angkot yang beroperasi sambil makan nasi goreng yang kami beli dekat stasiun Gubeng sebelum berangkat tadi. 

Malang sangat dingin karena bertepatan dengan memasuki awal tahun ajaran baru. Badan menggigil dalam balutan jaket tipis yang kami kenakan. Untung di dalam tas saya ada kartu Uno. Kami mainkan sebagai pengusir jenuh. Kemudian juga ikut seorang petugas Stasiun bermain bersama kami hingga subuh. Dengannya kami bercerita beberapa hal tentang stasiun dan kampus karena dia tidak sempat merasakan suka duka dunia perkuliahan. Pukul 6 pagi kami meninggalkan stasiun. belum ada angkot sepagi itu. lalu kami berjalan ke pasar besar. Melewati balai kota, pasar burung dan alun-alun yang sedang direnovasi. kami duduk di sebuah halte di depan alun-alun. Bodohnya kami duduk di tempat yang salah. Angkot yang akan kami tumpangi tidak melewati halte itu. Wajar saja sampai matahari terang tidak satupun angkot yang lewat. Lagi-lagi kami harus berjalan kaki lagi beberapa menit menuju jalan yang benar -tempat angkot lewat-.

Pukul 7 kami baru duduk dalam angkot. Dari angkot kami berpisah, turun di kediaman masing-masing dan langsung menuju kasur karena seharian tidak tidur. Kepada seseorang terima kasih atas liburan seharinya di Kota orang, terima kasih telah membuatkan masakan yang enak selama perjalanan. Semoga ada liburan kita yang lebih menyenangkan setelah ini. Uang yang kami kumpulkan khusus untuk jalan-jalan ternyata bersisa cukup banyak. Perlahan uang itu kami habiskan di Malang untuk makan dan jalan-jalan

Kamis, Juni 11, 2015

Setahun Berlalu

Kegiatan lama mengingatkan saya lagi pada peristiwa serupa. Setahun sudah kegiatan yang menghadirkan perkenalan itu berlalu. Setahun sudah sejak berkenalan dengan senyum di belakang kamera yang menggantung di leher. Sebuah jepretan mengagetkan yang ketika itu mengawali perkenalan kami. Setahun sudah. Saya ingat sekali detail bagaimana kami bisa memulai percakapan ketika itu. Hal-hal kecil yang mungkin dia sudah lupa masih membayang jelas di pelupuk mata. Magrib bersejarah. Dan magrib itulah penyebab utama dari kecanggungan hari ini.

Dalam kegiatan yang sama seperti tahun sebelumnya, saya dan dia kembali ambil bagian. Bukan sebuah rencana, bukan pula maksud untuk kembali bersama karena kami memang sudah tidak ada kontak lagi sejak 6 bulan yang lalu. Kisah cinta -terungkap, namun tidak terlaksana- pernah menghias hari-hari yang dulu kami lalui. Diawali dari perkenalan di amlam puncak sebuah kegiatan kampus, kemudian berlanjut di hari-hari berikutnya, hingga akhirnya saya mengenal dia cukup jauh. Kesehariannya, kegiatannya, asalnya, orangtuanya, teman-temannya. Pun begitu juga dengan dia. Siapa saya sudah dikenalnya, bagaimana keseharian saya sudah dihafalnya. Semua tentang saya sudah menjadi rutinitas bagi harinya. Kedekatan kami bertambah setiap hari. Dari hal yang sederhana seperti bertanya kabar, tugas atau semacamnya. 

Entah dari mana rasa nyaman mulai datang. Terasa kurang jika tiada kabar ataupun tidak memberi kabar. Awalnya saya menyalahkan tugas sebagai kambing hitam dari kesemuanya. Kami sama-sama disibukkan oleh tugas di akhir semester. Lelah membuat saya langsung terlelap begitu melihat kasur. Dia sepertinya juga begitu. Sehingga kami saling tidak memberi kabar. untuk beberapa hari awalnya, namun kemudian terus berlarut hingga bahkan ketika liburan tiba di penghujung. Sayang yang sedang mengudara, cinta yang mulai mekar, perhatian yang mulai memberi kenyamanan, perlahan mulai meredupkan cahayanya. Tidak ada ucapan selamat malam atau selamat pagi, tidak ada pertanyaan sedang apa ataupun sudah makan. Semuanya lenyap termakan tugas beberapa minggu yang lalu. Cerita panjang kami lalui dengan jalan masing-masing. Dia bersama kawan-kawannya dan saya bersama orang-orang disekeliling yang menemani. Kami tidak lagi berbagi cerita. Tidak ada saya dalam kesehariannya. Tidak ada dia dalam keseharian saya.

Semenjak tugas yang mahabanyak itu, masing-masing kami merasa berat untuk memulai. Takut mengganggu, takut sedang sibuk dan takut-takut lain yang sebenarnya hanya berupa prasangka tidak berguna yang menghabisi sayang dan cinta kami kala itu. 

Saya dan dia akhirnya benar-benar menulis cerita cinta yang berbeda. Beberapa bulan kemudian kami tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia punya seorang yang kini begitu dekat dengannya. Saya pun menjalin cinta dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Jujur saja sampai saat itu masih ada rasa yang berharap dalam hati saya. Dia juga berkata dengan jujur ketika kami sempat bertemu sekali waktu. Masih menimpan foto kami malam itu sebagai bukti bahwa dia masih ingat dengan saya.

Cinta yang lama biarlah menguap bersama angin, tetapi tetaplah jaga sayang yang sudah hinggap  di dalam hati. Kelak kita akan punya cerita untuk dibagikan. Itu kesimpuan yang kami bicarakan hari itu. Namun tidak semudah mengucap meski sejak hari itu kami benar-benar tidak pernah bertemu.

Saya yakin dia tidak lupa, meskipun kami pernah sepakat untuk melupakan kisah yang lama. Dia berdiri beberapa meter di depan saya. Beberapa kali tertangkap matanya melirik ke tempat saya berada, beberapa kali juga saya ketahuan sedang memandangnya. Namun sampai beberapa menit kemudian tidak tergerak hati untuk menyapa. Berat sekali rasanya bahkan untuk sekedar menyapa dalam bentuk senyum saja. Terasa sekali kecanggungan dalam diri saya. Ingin sekali untuk menyapa, tetapi takut. Takut kalau mengganggu atau dia sedang tidak ingin bertemu atau disapa. Itulah takut tidak berguna yang menguasai hati. Itulah takut yang pernah datang di masa lalu kami. Takut yang menghapus cerita yang sebenarnya bisa kami akhiri dengan bahagia. 

Selasa, Juni 09, 2015

Perempuan Ku

Baik bukan berarti pemberi bahagia. Tidak selalu, karena konotasi dan makna katanya yang tertuju pada topik berbeda. Sedikit aku bercerita bahwa ada pengalaman yang memahamkan aku tentang makna baik dan bahagia. Tentu saja berhubungan dengan seorang makhluk bernama perempuan, dan Cinta.

Perempuanku -sebut saja begitu- seorang yang selalu dipuja setiap waktu oleh mereka yang mengenalnya. Sikapnya yang lemah lembut, tabiatnya yang ramah, dan cara bicaranya yang sopan membuat banyak hati jatuh dalam hipnotis dirinya. Cap baik sudah sangat melekat dalam darahnya. Dia membantu siapapun, siapa yang butuh dan bisa ditolongnya. Banyak orang yang mengumbar kagum di hadapnya. Jiwa sosial dalam relungnya tinggi meski kata jarang terucap dari bibir mungilnya. Aliran pujian sangat deras menghampirinya.

Kemudian suatu cerita di mulai. Tuhan mendekatkan aku dan dia. Memangkas jarak sehingga kami dapat bercengkrama secara dalam. Saat itu bahagia berteman baik dengan kami. tawa dan senyum selalu ada dalam setiap tarikan nafas yang kami hirup. Aku dan dia tampak anggun dalam mesranya sikap yang dibuat sangat biasa. Untaian kagum terus mengalir. Iri juga kadang-kadang singgah dari mereka yang katanya tidak seberuntung aku. Seorang bidadari bisa aku pegang tangannya dan aku ajak untuk bersusah dalam roda kehidupan. 

Lama waktu berlalu tidak banyak yang tahu bagaimana kisah sebenarnya. Layaknya improvisasi dalam skenario, kami tidak sengaja menampilkan dua aura dalam kehidupan. Ketika keramaian mengelilingi, hubungan baik terasa sangat kental, biasa dan tidak berlebihan. Adem ayem tanpa pernah disentuh pertengkaran. Itu di depan mereka. Itu yang mereka lihat dan saksikan. Itu adalah bagian dari topeng tipis yang tidak sengaja kami pakai. Lalu bagaimana keadaan sebenarnya?

Dalam cara yang kadang kekanakan, kami coba menyelesaikan masalah yang ada, namun kerumitannya justru bertambah dalam beberapa situasi. Kami bertengkar karena masalah sepele yang kemudian diangkat untuk dijadikan akar pertengkaran. Lalu tentang kebaikannya. Membuat kesal sering menghampiriku karena merasa sering terlupakan. Amarah membabi buta berkecamuk dalam hatiku karena terus menerus dibaikannya. Kata beruntung yang selalu orang-orang itu lontarkan hanya sebuah bullshit alias omong kosong. Tidak mereka alami bagaimana rasanya diabaikan ketika cinta sedang mekar. Karena dalam kenyataan justru baiknya lah yang membuat aku merasa terpinggirkan.

Tidak seorangpun yang melarangnya untuk berbaik hati. Bahkan oleh aku yang hampir setiap hari berselimut kesal karena selalu dia abaikan. Sebisa mungkin pengertian coba aku kedepankan agar pertengkaran kami dapat dihindarkan. Sayang sekali amarah juga berkuasa. Cemburu menguras sisi baik dari pengertian hati. Berkeringat dingin dibuatnya ketika sering aku coba bertahan dalam situasi seperti itu. Lalu acuhnya akhirnya membuat amarah benar-benar meledak dalam bentuk yang sedikit lebih sopan. 

Dia terdiam, tidak bersuara, tidak berekspresi, tidak juga membantah. Pesan hati yang lama terpendam akhirnya malam itu tersampaikan. Amarah dan kesal sudah lelah untuk terus berdiam diri di relung hati. Lelah pula untuk bercerita bahwa aku juga butuh sedikit perhatian. Kemudian kecewalah yang akhirnya turun tangan mengatasi semua. Dengan nada pasrah dan tidak berharap banyak, muncul cercahan cahaya baik yang membuat aku merasa lebih terperhatikan. Sepiku mulai berkurang, senyumku mulai kembang ketika perlahan perhatian mulai dia cuatkan untuk setiap pagiku. Sikap ini yang dari dulu aku damba -yang dulu tidak pernah aku dapat dan rasakan-. Ada sedikit waktu yang dia khususkan agak sejenak untuk seorang yang benar-benar tulus menyayanginya.

Kepada perempuanku yang berhati mulia, Tiada larangan untuk berbuat baik kepada setiap nyawa yang kau temui. Tetapi sadarilah, bahwa tepat di sampingmu ada satu hati yang menggantungkan bahagia padamu, yang menginginkan perhatian lebih dari apapun dan siapapun. Dia selalu berharap dan selalu merindukan perhatian yang tulus darimu. Dan itulah aku wahai Perempuanku.

"Kata Hati Seorang Sahabat"

Sabtu, Mei 30, 2015

Ingin Pulang Kampung (Bagian 3)

Saya tidak ingat persis kapan tanggal kejadiannya. Yang saya ingat ketika itu tepat setelah mengucap salam di rakaat akhir Isya. Terdengar getar dari atas meja belajar. Tempat dimana saya biasanya menaruh laptop dan handphone secara berdekatan. Sama sekali tidak ada doa yang saya panjatkan malam itu. Rindu membuat pujian kepada Tuhan menjadi tertunda beberapa saat. Dosa baru saja menghampiri, tetapi apalah yang boleh dikata, menerima telpon dari keluarga juga hal yang paling berharga untuk saat itu.

Dengan masih bersarung dan sajadah yang masih tergelar di lantai, saya raih handphone dan segera menjawab panggilan. Hening beberapa saat. Saya ucapkan salam dan halo beberapa kali. Tidak ada jawaban dari seberang. Tiba-tiba panggilan terputus. Beberapa saat ditelpon lagi, saya angkat dan barulah kali ini ada suara dari seberang sana. Dari keterangan Ibu, ternyata jaringan memang sedang tidak baik. Hujan deras sedang menghujam tanah kelahiran saya. Dari siang tadi sangat deras dan baru malam ini sedikit mereda, namun suaranya masih terdengar menyerang atap rumah. 

Hanya sebentar saya bicara dengan Ibu. Saling menanyakan kabar saja lalu Ibu menyuruh saya bicara dengan Ayah karena sedang memasak untuk makan malam. Dengan ayah juga tidak terlalu banyak yang saya bicarakan. Hanya beberapa hal tentang perkuliahan saja. Meski saya tahu beliau mungkin tidak begitu memahami seluk beluk dunia kampus karena Ayah hanya tamatan SMA jurusan Biologi -sekarang IPA-, tetapi saya tetap menjelaskannya. Ada sedikit bangga yang menyelinap dalam percakapan kami malam itu. Bangga atas raihan kami sebagai keluarga terbelakang yang sering mendapat cemooh. Bangga yang tentu saja tidak perlu kami bahas dalam kata yang mengalir di setiap ucapan. Di atas mulut-mulut mereka yang setiap saat menjatuhkan, setidaknya sebuah harapan mulai kami perlihatkan untuk menuju sukses di masa depan. Dan itu sedikit banyaknya berangsur membungkam mulut-mulut tak bertanggung jawab yang biasanya menghina kami. Malah sekarang beberapa dari mulut itu telah merubah format cemooh mereka menjadi pujian dan motivasi. 

"Kamu tidak ingin bicara dengan adik-adik?"

"Oh iya, dimana mereka?"

Ayah lalu memanggil adik saya yang perempuan. Kebetulan ketika itu dia sedang tidak membantu Ibu di dapur. Dia sangat suka memasak. Setiap hari selalu ada makanan kecil yang dibuatnya. Entah itu kue, gorengan, atau apa saja yang bisa ia kreasikan di atas wajan lalu kami santap untuk mengenyangkan perut.

"Halo Uda, lagi apa?"

"Tidak, cuma tiduran aja. Kia ujian kapan?"

"Bulan depan mid semesternya. Uda kapan pulang? Kata Ayah sama Ibu Uda harus pulang."

"Insya Allah."

Percakapan saya dan Kia, -adik perempuan saya- tidak pernah banyak. Dulu waktu kecil sebelum adik kami yang laki-laki lahir, setiap hari rumah selalu di isi dengan pertengkaran. Selalu ada hal-hal kecil yang membuat kami saling menghardik. Sering Ibu menangis dibuatnya. Hingga pernah suatu hari Ibu tidak mau pulang karena kami tidak pernah akur, kemudian beliau menginap di rumah tante kami yang tidak jauh dari sana. Namun semenjak kelahiran adik laki-laki kami, pertengkaran mulai berangsur berkurang -untuk sementara-. Rumah tidak lagi ramai. Kami terlengahkan oleh kehadiran manusia kecil yang lucu dan menggemaskan.

Hingga akhirnya kami bertambah umur dan semakin besar. Pertengkaran berangsur terjadi lagi namun kini posisinya berpindah. Kini adik perempuan dan adik laki-laki saya menjadi biang dari keramaian dalam rumah. Merekalah kini yang membuat Ibu beberapa kali meneteskan air mata. Merekalah kini yang membuat Ibu sering berdiam diri dalam kamar dan mengunci pintu.

"Uda, ini dia ingin bicara."

Dia yang dimaksud adalah adik laki-laki saya yang kini telah menginjak kelas 5 SD.

"Uda, kapan pulang lagi ke sini?" Dia berteriak sebelum handphone menempel di telinganya.

"Mungkin liburan. Kenapa?" Jawab saya singkat sekali.

"Habis lebaran Ijan mau tanding. Bawain baju Arema ya."

Saya diam sejenak. Dia kini adalah bagian inti dari Sekolah Sepak Bola (SSB) kampung kami untuk usianya. Beberapa kali si bandel ini telah bertanding keluar kota. Beberapa kali menang dan pulang dengan tawa karena berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, Beberapa kali dia juga pulang sambil menangis karena kalah. Atau karena tidak berhasil membobol gawang lawan.

"Iya, nanti dibawain, sekalian sama slayernya."

Saya ingat betul ketika tahun lalu pulang tanpa membawa apa-apa kecuali gantungan kunci khas Malang dan satu kardus besar apel Malang. Saya ingin sekali membeli dua pasang jersey Arema untuk mereka, namun tidak jadi karena banyak pertimbangan. Dan saya sangat menyesal atas pertimbangan bodoh itu. Dulu saya sudah berniat untuk membelikan mereka seragam klub kebanggaan kota Malang tempat saya bersekolah, bahkan sudah berada di depan tokonya, tetapi batal. Saya berbalik. Alasan utamanya bukan karena saya tidak punya uang. Saya memiliki sejumlah tabungan yang dari awal memang sudah diniatkan untuk membeli oleh-oleh. Tidak banyak memang, tetapi sudah lebih dari cukup jika dibelikan beberapa pasang seragam sepak bola.

Saya sedih mengingat semuanya. Terlalu egois menjadi seorang kakak. Terlalu mementingkan diri sendiri. Saya tahu tidak akan mendapat uang jajan selama di rumah nanti. Dan dalam pikiran saya ketika itu, tabungan yang sudah saya niatkan untuk membeli oleh-oleh itu saya alihfungsikan untuk kepentingan saya nanti saat di rumah. Jahat sekali memang tetapi itulah satu dari beberapa sesal yang tidak pernah bisa saya hapus. Dimana letak jiwa saya sebagai seorang kakak saat itu? Saya mengutuki diri sendiri hingga kini. Untuk saat ini, dengan kondisi seperti sekarang, saya tidak bisa berbuat seperti dulu, jangankan membeli oleh-oleh, untuk makan saja saya kini kesulitan.

Dan satu hal yang saya dapat pelajari dari pengalaman pahit ini. Selagi bisa maka lakukanlah, apapun itu. Jangan menunggu sampai nanti karena belum tentu ada kesempatan kedua untuk hal yang sama.

"Kemaren Ijan liat foto Uda di facebook sama kakak-kakak. Itu pacar Uda?"

Saya tidak terlalu menghiraukan pertanyaan itu. Masih ada sesal yang terasa setiap kali bocah badung Ibu ini bicara. Saya ingat betul, ketika dulu saya tiba di rumah, dialah yang pertama menyambut saya di depan pintu. Bahkan dia menyambut sejak saya turun dari travel yang mengantar ke depan rumah. Kepolosannya merangkul saya dan membantu membawakan koper dan tentengan saya ke dalam rumah. Selalu dipandangnya bawaan saya yang masih tergeletak di depan TV. Jelas sekali dari wajahnya sangat berharap ada sesuatu yang bisa diterimanya untuk ia pamerkan pada teman-teman. Saya kemudian mengeluarkan apel dari kardus. Dan tampaknya dia tidak tertarik sama sekali karena memang saat itu sedang berada di bulan Ramadhan. Kemudian dari tas, saya keluarkan gantungan kunci yang jumlahnya lebih dari Sepuluh. Dia mulai tersenyum, dan menimang-nimang benda sederhana itu dengan mata yang sangat girang. Bagaimana jika seandainya saya belikan dia baju Arema untuk dipakainya ketika latihan? Pasti senangnya bukan main. Wajahnya pasti akan lebih girang dari pernah saya lihat. Sayang sekali itu tidak terjadi. Ah, sungguh seorang kakak yang gagal.

"Hahaha. Sok tau." Itu jawab saya untuk merespon pertanyaannya.

Saya sangat sadar apa yang sedang dan telah saya lakukan. Ingin sekali rasanya untuk segera menebus salah tentang harap dia yang ternyata tidak menjadi nyata. Bisa saya bayangkan bagaimana senangnya ia ketika mengiring bola dengan kaki kecil dan pendeknya itu, seandainya saja........ Ah saya menangis membayangkannya. Bagaimana jika saya yang berada di posisi dia? Akankah saya bisa menampilkan wajah riang seperti dia ketika hanya menerima hadiah kecil sementara dia berharap sangat besar?

Uang sisa yang berada dalam rekening kemudian tidak saya sentuh sama sekali. Yang sengaja saya niatkan untuk membeli oleh-oleh saya biarkan tetap berada di sana sebagai saldo. Hingga beberapa hari setelah lebaran, tanpa sepengetahuan Ibu, saya ajak kedua adik saya jalan-jalan. Kami pergi ke pasar terbesar yang ada di sana. Saya masuki beberapa toko besar. Kia masih bingung dengan semuanya, namun dia tidak banyak bicara, mengikut saja kemana saya melangkah.

"Mau beli tas?" Saya bertanya.

Dia tersenyum.

"Ayo, mau apa nggak?" Tanya saya lagi.

Dia kemudian mengangguk lalu melihat-lihat beberapa model tas yang membuatnya tertarik. Dipilihnya satu lalu dimintainya persetujuan saya. Setelah membayar, kami lanjutkan menuju toko olahraga. Saya suruh Ijan memilih sepatu bola yang sesuai dengan kakinya, berikut dengan dekker dan kaos kaki. Sementara saya melihat-lihat bola kemudian memilih satu yang berwarna orange. Tidak lama kemudian kami meninggalkan toko itu dengan membawa masing-masing satu tentengan dari sana, plus satu tentengan dari toko sebelumnya tempat Kia membeli tas.

"Kita makan dulu?" Tanya saya.

"Ayo, Ijan lapar."

"Kia juga." Keduanya berteriak senang dan mempercepat langkah menuju arah rumah makan.

Kami makan di tempat biasa Ayah atau Ibu mengajak kami makan setiap mampir di pasar itu. Dan baru sampai di rumah lagi ketika ashar menjelang.

Belum hilang sesak nafas karena lelah, Ibu langsung bertanya dengan nada yang tidak biasa ketika melihat tentengan yang kami bawa pulang.

"Ini Uda yang belikan." Jawab adik saya hampir bersamaan.

"Kamu dapat uang dari mana? Buat apa beli barang-barang itu, ha? Yang lama kan masih bisa mereka pakai !!!"

"Ini tabungan saya selama di Malang" Saya menunduk.

"Ngapain beli barang-barang ini segala??! Mikiiir!!! Kamu itu punya banyak keperluan. Tiketmu, uang kuliahmu, kost mu yang harus Ibu bayar. Belum lagi keperluan-keperluan lain kamu untuk kuliah. Mengapa kamu tidak gunakan otak sedikit saja??!!! Kamu habiskan uangmu buat barang-barang yang belum perlu. Sepatu bola adikmu masih bagus. tasnya juga belum rusak dan masih bisa dipakai. Percuma Ayah dan Ibu menyekolahkanmu ke Jawa kalau otakmu tidak bisa kamu gunakan. Jalankan sedikit isi kepalamu.!!"

Saya hanya diam saja di dekat pintu. Sementara ibu masih terus dengan ocehan dan amarahnya hingga hampir satu jam menceramahi saya. Saya lihat kedua adik saya menunduk sambil kedua tangan mereka menggenggam erat tentengan belanjaan mereka.

"Balikin lagi ke tokonya sekarang !!!" Teriak Ibu dengan amarah bernada tinggi di akhir kalimatnya, kemudian beliau langsung menuju dapur.

Saya lihat kedua adik saya menggenggam semakin erat belanjaan mereka yang masih berada dalam kresek itu. Seolah tidak ikhlas jika barang itu harus di lepas lagi ke tokonya sesuai perintah Ibu. Dilihatnya saya yang masih terpaku di dekat pintu dengan sudut mata mereka yang sangat tajam.

Sempat saya perhatikan mereka bertatap-tatap beberapa kali lalu bergerak mendekat ke arah saya.

"Ayo Uda, kita balikin saja ke tokonya. Ibu marah." Suara polos Ijan -yang saat itu masih kelas 4 SD- terdengar gemetar.

"Iya, balikin saja Da." Sambung Kia sambil terisak.

Keduanya menangis. Saya sangat iba melihat mereka. Tidak seharusnya Ibu bicara seperti itu ketika ada mereka. Jikapun Ibu marah pada saya, seharusnya tidak di depan mereka. Bisa dibicarakan saat mereka tidak ada. Itu secara psikologis telah mengganggu mental kedua adik saya. Untuk hari itu, saya benar-benar tidak ingin menyapa Ibu.

"Sudah, tidak usah. Simpan saja dulu dalam lemari." Kata saya.

"Tapi Ibu marah." Keduanya berkata sambil terisak. Dan saya sangat tidak tega melihatnya.

"Sudahlah, taruh di lemari. Itu sudah jadi milik kalian." Saya perintahkan keduanya meletakkan barang mereka.

Mereka menurut saja namun isak tangis masih saja tetap terdengar.

Malam itu tidak ada acara makan malam bersama. Kedua adik saya tidak keluar kamar sejak saya suruh meletakkan barang belanjaan mereka. Tidak ada yang mau keluar kamar dan bertemu dengan Ibu. Takut kalau-kalau Ibu tiba-tiba memarahi mereka. Saya akhirnya makan lebih dulu. Kemudian di susul Ayah. Sementara Ibu masih terlihat marah dan tidak mengiraukan saya sama sekali.

Setelah agak malam saya masuki kamar dimana mereka berdiam diri, ternyata belum tidur. Dan sepertinya keduanya sedang lapar tapi masih takut untuk keluar. Saya ambilkan nasi beserta lauknya. Dengan rakus mereka menghabiskan nasi satu piring dengan sangat cepat. Namun terlihat jelas bahwa sampai saya masuk, mereka masih menangis. Air mata keduanya masih menggenang di kelopak mata masing-masing. Saya membelai lembut kepala adik-adik saya yang sedang dilanda ketakutan hingga mereka tertidur, hingga saya juga tertidur. Dan akhirnya malam itu kami tidur bertiga dalam satu kamar.




Rabu, Mei 27, 2015

Ingin Pulang Kampung (Bagian 2)

Seharian ini tidak ada kegiatan yang saya lakukan kecuali tidur di kasur yang telah dua tahun menemani istirahat saya. Yang setiap hari terhimpit buku dan laporan, yang setiap hari pula menjadi sarang nyamuk karena baju kotor yang berserakan di atasnya. Kebetulan sekali hari ini adalah Minggu. Saya tidak keluar kamar sama sekali kecuali pukul Sebelas tadi membeli sarapan. Ya, itu adalah kegiatan rutin saya selama berada di tanah perantauan. Menggabungkan sarapan dan makan siang di pertengahan jadwalnya sehingga bisa menghemat beberapa Rupiah untuk ditabung dan digunakan pada keperluan lain.

Bagi saya berhemat adalah suatu keharusan yang sangat wajib dilakukan. Sebagai seorang mahasiswa rantau yang ekonomi keluarganya sedang berantakan, saya diharuskan untuk menjadi seorang yang sangat tahu diri. Tidak pernah ada saldo cadangan di rekening saya. jangankan itu, uang bulanan yang saya terima dari kiriman orang tua kadang sangat-sangat terbatas, bahkan di beberapa waktu justru lebih sedikit dari jatah yang seharusnya mereka kirimkan. Jadilah saya seperti sekarang, sangat tertutup dengan pergaulan karena biasanya selalu berhubungan dengan uang dan uang.

Pukul tiga sore handphone jadul yang saya khususkan untuk menerima panggilan dari kampung bergetar di atas meja belajar. Entah sudah berapa lama handphone itu tergeletak di sana. Hanya bergeser sedikit posisinya ketika saya cas saat daya baterainya sudah melemah. Biasanya sekali seminggu.

Seperti bulan lalu -terakhir kali handphone jadul itu menerima panggilan- yang menelpon adalah Ibu. Namun yang bicara di balik sana ternyata bukan Ibu, tetapi Ayah. Ayah tidak punya dan tidak mau punya handphone meski sudah dipaksa setiap hari hingga mulut sudah lelah untuk menyuruhnya. Sayang sekali kepala Ayah keras seperti batu. Tidak juga beliau mau menerima saran kami -anak-anak dan istrinya-. Bagi beliau lebih baik membelikan saya sepatu atau mebelikan adik-adik tas daripada membeli handphone untuk dirinya sendiri.

"Ayah tidak butuh itu. Kalau ada yang harus di telpon, Ayah bisa pakai handphone Ibu. lebih baik uangnya kalian pakai saja buat beli tas, sepatu dan yang lainnya."

Itu alasan Ayah setiap kali disinggung agar beliau memakai handphone sendiri. Sangat rasional karena memang keluarga kami benar-benar sedang terpuruk berbarengan di saat besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Bahkan sampai sekarang Ayah tidak bisa mengoperasikan benda ajaib yang menghubungkan orang dari jarak jauh itu. Jadi setiap ingin menelpon seseorang, Ayah akan selalu mengandalkan Ibu, saya, ataupun adik-adik untuk mengoperasikan handpone agar bisa menghubungi orang yang ingin dihubunginya. Bukan karena Ayah jadul, gaptek ataupun ndeso, hanya saja beliau tidak pernah mau untuk mempelajarinya, apalagi memilikinya. Tapi jangan salah, se jadul-jadulnya Ayah, beliau bisa mengetik pada mesin ketik dengan menggunakan Sepuluh jari dalam waktu yang sangat singkat -apalagi menggunakan laptop, pasti lebih cepat karena tidak perlu menekan tuts keyboard terlalu dalam- dengan mata tertutup

Jadi sebenarnya bukan kebodohan atau kejadulan Ayah yang membuat beliau terlihat seperti seorang yang tidak tahu perkembangan zaman sama sekali, tetapi keadaanlah yang menjadikan semuanya demikian. 

"Halo, kamu tidak kuliah?"

Ayah yang bicara duluan ketika telpon aku jawab. tentunya setelah kami berbalas salam terlebih dahulu

"Kan Minggu, jadi libur."
"Astaga, iya ya. Ayah lupa."

"Ada apa Yah? Tumben nelponnya sore, biasanya kan selalu malem."

Ini bukan hal yang biasa. Tidak pernah sebelumnya aku di telpon sore hari seperti ini. Ini adalah jam sibuk Ayah di kebun kakao sengketa yang menjadi penopang uang kuliah dan uang jajan saya selama ini, termasuk juga belanja rumah tangga, semuanya berasal dari kebun yang sebenarnya tidak terlalu luas ini.

"Uang buat beli tiket sudah Ayah kirim tadi. Sekalian sama uang bulanan kamu. Silahkan kamu mau pulang dari Surabaya atau mau dari Jakarta."

Jantung saya berdegup cepat di buatnya. Beberapa pertanyaan kemudian muncul di benak. Dari mana Ayah dapat uang? Bukankah kemaren adik saya memberi tahu bahwa Ayah dan Ibu tidak memegang uang sama sekali sehingga kiriman untuk uang bulanan saya telat? tapi tentu saja pertanyaan itu tidak saya munculkan. Saya terdiam beberapa saat. lalu Ayah mengagetkan saya dengan melanjutkan penjelasannya.

"Tidak usah kamu pikirkan darimana Ayah dapat uang. Semuanya sudah Ayah pikirkan. Bagaimanapun keadaannya tahun ini kamu harus pulang."

Saya tidak lagi berani menjawab. Hilang sudah kekukuhan hati untuk tidak menginjak kampung halaman pada libur lebaran kali ini, meskipun hingga beberapa hari setelahnya saya masih berusaha mencari alasan untuk tidak pulang agar bisa menghemat pengeluaran keluarga, atau setidaknya mengalihkan penggunaan uang untuk beberapa keperluan kuliah.

"Iya, kalau begitu nanti saya kabarin kapan pulangnya. Soalnya masih ujian sampai akhir bulan ini."

Begitu jawaban saya karena bingung harus menjawabnya bagaimana. Sama sekali tidak ada kata terima kasih keluar dari bibir saya, itu adalah kebiasaan yang dari dulu terjai. Sangat berat rasanya untuk mengucap terima kasih secara langsung. Hanya bisa disampaikan lewat laku dan sikap baik saja. Pun Ayah sudah mengerti akan hal itu meski kami tidak pernah membahasnya.

"Kamu ingat kolam ikan yang dulu kamu isi dengan ikan gurame?"

Ayah bertanya yang saat itu entah apa maksudnya. Memang selain kebun kakao yang sedang dalam sengketa keluarga, keluarga kami memiliki beberapa kolam ikan -yang ini asli milik keluarga, bukan sengketa-. Salah satunya saya modali dari THR lebaran yang saya kumpulkan selama 3 tahun dan kemudian saya rawat dan kelola sendiri. Saya minta kepada Ayah dan Ibu dulu untuk mengelola satu diantara 4 kolam yang kami punya. Mereka lalu memberikan yang paling besar. Beberapa kali usaha yang saya jalani tidak mengalami kegagalan meski dengan untung yang hanya sangat sedikit sekali. 

"Iya kenapa, Yah?"

Saya ingat, karena akan pergi lama dan tidak mungkin untuk mengurusnya, saya putuskan untuk mengisi kolam kelolaan saya dengan ikan Gurame saja. Perawatannya tidak sulit, -tidak seperti ikan lain yang hanya butuh waktu 4-5 bulan saja dan harus rutin di beri makan- waktu yang dibutuhkan gurame juga cukup lama sehingga bisa saya panen setelah pulang dari rantau.

"Guramenya sudah siap untuk di panen. Makanya kamu harus pulang." 

Ayah berkelakar. Itu hanyalah lelucon yang menjadi alasan kesekian mengapa saya harus pulang liburan ini. Tiba-tiba entah darimana, muncul pikiran bahwa dengan inilah Ayah membiayai tiket saya pulang. Sempat saya kecewa beberapa saat dibuatnya. Saya ingin marah kepada Ayah. Saya dulu meniatkan hasil gurame yang saya kelola untuk membeli handphone canggih seperti yang dipunyai teman-teman. Lalu Ayah mengambilnya begitu saja tanpa izin? Ayah yang sepertinya mengerti jalan pikir saya lalu kembali berkata. 

"Tenang saja, bukan uang hasil gurame yang Ayah kirim untuk membeli tiketmu. Uang untuk tiket mu sudah Ayah tabung sedikit demi sedikit semenjak hari pertama kamu kuliah. Maafkan Ayah karena uangnya baru terkumpul sekarang setelah Dua tahun, sehingga kamu baru bisa pulang pada lebaran ini."

Saya tersandar lemas di dinding. Belum apa-apa sudah berpikir tidak baik pada Ayah. Ternyata Ayah benar-benar memikirkan tentang kuliah saya dengan sangat matang. Bahkan sampai hal kecil yang sangat detail seperti itu. Yang saya pun tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.

"Owh."

Singkat sekali jawaban yang saya berikan. Saya kehabisan kata bagaimana cara mengungkapkan perasaan pada Ayah. Kami tidak pernah benar-benar bicara dari hati ke hati sebelumnya. Ayah seorang pendiam dan tidak banyak bicara. Ayah juga tidak bisa berdiam diri, menonton tv atau sekedar tiduran ketika matahari masih ada. Ayah selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bermanfaat dan tidak ingin membuang waktu. Saya sangat bangga pada beliau.

Beberapa saat hening menguasai sore. Saya diam dan Ayah juga diam. Sunyi yang sangat senyap, suara tarikan nafas Ayah pun tidak terdengar. Saya pejamkan mata sejenak untuk benar-benar bisa merasakan perjuangan Ayah agar anak sulungnya ini tetap bisa mengejar Sarjana seperti impianya. Dan kini tinggal beberapa langkah lagi. Sebentar lagi ijazah yang akan saya dapat itu akan menjadi kado indah buat Ayah. Ayah memang tidak pernah berkata apa-apa tentang gelar Sarjana yang akan segera saya peroleh (Insya Allah). Hanya saja dari cerita Ibu saya tahu, gelar sarjana anaknya dari tanah Jawa, akan menaikkan derajat Ayah di hadapan saudara-saudaranya. Dan akan bisa membuat beliau berdiri dan duduk sama tinggi dengan mereka tanpa merasa rendah diri dan direndahkan.

Tetapi jika saya pulang maka ada kemungkinannya untuk tidak bisa balik lagi ke sini karena ketiadaan biaya. Lalu kado indah buat Ayah bisa sirna, beliau akan tetap di pandang rendah, dan tetap tidak akan dihargai sampai hayat menjemput. Ayah akan menderita sepanjang hidup. Tidak akan pernah bahagia menyentuh harinya agak sejenak. Ah, lagi-lagi saya berpikir tentang itu. Padahal bulan lalu, Ayah telah berjanji pada saya melalui Ibu, bahwa kuliah saya pasti tetap berlanjut meski harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli tiket pulang.

"Masih ingat puluhan pohon pinang yang dulu kamu tanam di pinggiran kolam?"

"Iya, masih." Jawab saya.

Dulu ketika masih SMP saya menanam banyak sekali pohon pinang. Suatu saat agar saya atau siapapun tinggal memetik buahnya saja untuk tambahan uang saku. Inspirasi seperti itu saya dapat dari kampung tetangga, dimana mereka (yang punya tanah) menanam pinang di sekeliling tanah mereka dan buahnya banyak sekali. Setiap minggu saya lihat si empunya memetik buah pinang dari ratusan pohon yang berjejer rapi. Lalu ketika Kamis tiba, saya lihat dia kewalahan mengangkut goni-goni besar menuju pasar. Isinya adalah pinang yang sudah ia belah dua dan sudah di jemur.

"Sudah bisa dipetik sekarang. Tapi maaf uangnya belum sampai ke tangan kamu. Uangnya selalu terpakai buat jajan adik-adik sama kebutuhan Ibu di dapur."

Saya tersenyum mendengarnya. memang dulu saya niatkan untuk penambah pemasukan. Tapi beberapa waktu terakhir ini saya justru tidak ingat sama sekali. Saya hanya ingat tentang gurame yang saya modali dari tabungan THR beberapa tahun.

"Iya, tidak apa-apa. lagi pula saya tanam dulu niatnya juga untuk menambah penghasilan."

Begitu saya jawab sekenanya karena masih ada sedikit beban pikiran yang menyumbat hati.

"Ekhm." Ayah batuk kecil beberapa kali. Tarikan nafasnya kini terdengar sedikit berdesah.

"Tenang saja, Ayah yang pastikan kamu akan balik lagi kesana, melanjutkan kuliah setelah berlebaran di kampung. Meskipun kita bukan orang kaya, Ayah jamin kamu akan sekolah sampai lulus."

Ah, Ayah memang laur biasa. beliau mengerti ketakutan yang masih menjamah raga saya. Namun kali ini saya telah mendengar langsung dari Ayah bahwa saya akan tetap berkuliah setelah ini. Kata-kata Ayah membuat saya jauh lebih tenang.


Minggu, Mei 24, 2015

Ingin Pulang Kampung (Bagian 1)

Momen yang mereka maksud (mungkin) hanya terjadi sekali setahun dan biasanya itu adalah momen yang di tunggu banyak orang dengan jutaan suka cita di dalamnya. Seorang perantau seperti saya adalah salah satu yang sangat menunggu momen besar seperti itu. Meski pulang belum membawa apa-apa kecuali rindu dan beberapa potong pakaian yang sudah lusuh, -bahkan selembar ijazah pun belum- momen sekali setahun ini selalu menghadirkan cerita berbeda di setiap detiknya. Melepas rindu dalam pelukan orang tersayang, berbagi cerita sedih dan bahagia selama berada di tanah orang. Kemudian mendengar cerita tentang kampung halaman yang lama ditinggalkan. Juga bertemu beberapa kawan lama yang tetap setia menunggu ataupun mereka yang kebetulan punya kesempatan untuk kembali mengunjungi tanah kecil mereka.

Kembali kepada saya yang kini sedang berada di tanah perantauan, berkutat dengan tugas akhir dan bersiap menghadapi Ujian Akhir Semester, garis akhir dimana setelah itu ada waktu jeda untuk beristirahat sejenak melupakan tugas kuliah beserta tetek bengek kesibukannya. Ada waktu untuk sekedar tidur di kamar, atau jalan-jalan ke tempat wisata atau ke kota terdekat -Memangnya saya punya banyak uang untuk menghabiskan liburan dengan jalan-jalan? Bisa makan dua kali sehari saja sudah sangat syukur-, atau mungkin pulang kampung? Ekhm, saya tidak pernah berpikir untuk pulang kampung ketika libur tiba. Biayanya terlalu besar.

Biasanya jika libur akhir semester selalu saya gunakan untuk sekedar istirahat dan tidur saja di kamar, atau paling tidak jalan-jalan sendirian di sekitar kampus untuk menikmati bebas yang waktunya sangat terbatas. Saya bukan mahasiswa berkantong tebal sehingga sering tidak bisa ikut teman untuk jalan-jalan.

Saat itu saya sedang tiduran di kamar, baru selesai mandi dan merebahkan badan sebentar untuk mengusir lelah sebelum kembali mengerjakan tugas. Handphone jadul pemberian abang sepupu tiba-tiba bergetar di atas meja. Ibu menelpon. Sedikit saya ceritakan bahwa keluarga di kampung sangat jarang menelpon saya. Bukan karena mereka sibuk atau tidak peduli, ini adalah tentang masalah ekonomi. Sejujurnya, untuk membeli pulsa yang harganya kurang dari Rp 10.000,- saja agar bisa mendengar suara saya, Ibu dan Ayah harus berpikir dua kali. Begitu sulitnya keluarga saya ketika itu hingga untuk sekedar melepas sedikit rindu -bahkan hanya lewat suara saja- harus dengan perhitungan yang matang. Ada baiknya kadang uang sejumlah itu digunakan untuk jajan adik saya setiap pergi sekolah.

"Nak, kamu sedang apa?" begitu ibu awalnya menyapa setelah mengucap salam.
"Baru pulang, Bu. Tadi ada kuliah malam" Begitu jawab saya singkat.

Saya tahu, jika Ibu sudah menelpon, pasti ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakannya. Tidak hanya satu, biasanya Ibu mengumpulkan beberapa cerita terlebih dahulu sebelum menelpon, tentunya untuk menghemat pengeluaran -membeli pulsa- karena jika menelpon lama, tentunya akan ada bonus cuma-cuma yang bisa dimanfaatkan untuk bercerita lebih banyak. Dan itulah yang biasanya keluarga saya manfaatkan untuk melepas rindu dari jarak jauh. Keluarga yang susah sekali memang. Benar, tetapi itulah keluarga saya. Saya sangat menyayangi mereka. Di tengah susahnya kehidupan, mereka masih bersemangat untuk menyekolahkan saya hingga tingkat Universitas di pulau Jawa seperti impian saya semasa SMP dulu.

"Kamu ujiannya kapan?"
"Mungkin pertengahan bulan depan."
"Sampai kapan?"
"Ya, sampai akhir bulannya Bu."

Percakapan kami pendek-pendek. Sudah sangat saya pahami bahwa itu adalah salah satu dari beberapa basa-basi Ibu sebelum menuju inti dari apa yang ingin beliau bicarakan.

"Nak, liburan kemarin kamu tidak pulang, liburan ini kamu pulang dulu ya? Mungkin cuma sekali ini kamu bisa pulang sampai lulus nanti."

Ibu mulai masuk dalam topik pembicaraan. Saya yang sudah tahu tidak akan pernah diberi uang untuk membeli tiket pulang sedikit kaget.

"Kenapa? Ibu punya uang? Sayang uangnya Bu kalau dipakai buat beli tiket. Lebih baik dipakai untuk keperluan adik-adik di rumah. Saya di sini baik-baik saja."

"Tidak Nak. Liburan ini kamu harus pulang. Nggak apa-apa sekali-sekali. Ada hal yang Ayah sama Ibu harus bicarakan."

"Kenapa tidak lewat telpon saja?" 

Saya bangun dari kasur dan duduk sambil bersandar di dinding tepat di depan pintu kamar yang tertutup.

"Tidak bisa. Kita harus bicara langsung. Lagipula adik-adikmu juga sudah kangen."

Sepertinya setelah bicara Ibu langsung mengarahkan sebentar handphone ke arah kedua adik saya yang sedang bertengkar. Jelas sekali suara mereka terdengar. Seperti dulu ketika saya masih di rumah, mereka selalu meributkan film yang ingin mereka tonton di TV kecil yang dulu dibeli ayah sebelum saya masuk sekolah. Sudah lama sekali dan saya ingat betul bagaimana ceritanya sehingga TV itu bisa berada di rumah. Ayah membelinya karena keinginan saya yang kelewatan saat itu. Saya terus menangis dan meminta dibelikan TV setiap Ayah pulang kerja. Saya iri melihat teman-teman yang setiap hari menceritakan film yang mereka lihat tadi malam. Sementara saya?

Akhirnya Ayah mengajak saya ke Payakumbuh -pasar besar yang terdekat dari rumah kami dan berada di luar kota- setelah semakin hari tangis semakin memenuhi rumah, tanpa memberi tahu terlebih dahulu untuk apa kami kesana. Saya sangat kaget ketika diajak Ayah masuk ke toko eloktronik. Dan dari sana kami akhirnya membawa pulang TV terkecil dengan banderol harga termurah. Saya senang bukan kepalang. Saya lihat Ayah  tersenyum begitu TV itu terpasang di rumah dan saya menatap tanpa kedip ke layarnya. Sekali-sekali Ayah juga memeluk saya ketika kami nonton bersama, kadang juga mencium pipi dan kening saya sebagai ungkapan sayangnya kepada saya yang saat itu adalah anak satu-satunya. Baru ketika saya lulus SMA kemarin diceritakan Ibu bahwa Ayah dulu meminjam uang temannya untuk membeli TV yang saya minta. Ah, nostalgia sejenak yang mengharukan.

"Bagaimana?"

Ibu bertanya yang akhirnya membuyarkan ingatan tentang saya yang dulu tidak tahu diri.

"Terserah Ibu saja. Tapi coba dipikir lagi dulu saja, Bu. Jumlah uang untuk beli tiket itu bisa mencukupi kebutuhan adik-adik. Apakah itu tidak sayang. Saya bilang begitu bukan karena tidak mau pulang. bukan karena tidak rindu pada Ayah dan Ibu, bukan tidak ingin bertemu adik-adik. Saya bahkan sangat ingin pulang melihat kampung kita. Tapi saya tahu kondisinya sedang tidak baik."

"Makanya itu, Nak. Libur ini kamu harus pulang. Ini bertepatan sama lebaran juga. Lebaran tahun lalu kamu kan juga nggak pulang."

"Tapi Bu...."

Kata-kata saya kemudian terpotong oleh suara Ibu.

"Sudahlah, Nak. Ikuti saja kata Ibu dan Ayah. Soal biaya jangan kamu pikirkan. Pikirkan saja bagaimana nilaimu harus bagus. Nak, sekarang cuma kamu yang bisa bikin Ayah berbangga diri di depan saudara-saudaranya yang sukses. Ayah sudah terlalu sering mereka rendahkan karena kemiskinan kita. Kamulah yang saat ini harus berada di samping Ayah agar Ayah dihargai mereka-mereka yang kaya itu. Makanya ibu minta liburan ini kamu harus pulang."

Saya diam, tidak berani menyahut lagi pernyataan Ibu barusan. Tidak biasanya Ibu memanggil saya dengan sebutan Nak, apalagi setelah perkataan beliau disela beberapa kali. Biasanya ibu akan langsung meninggikan nada bicaranya jika ada yang menentang apa yang beliau ucapkan. 

"Apa yang kamu takutkan sampai tidak mau pulang?"

Ibu mulai memahami apa yang saya pikirkan. Sejujurnya saya memiliki sedikit ketakutan jika harus pulang di liburan kali ini. Begitu banyak biaya yang harus keluarga kami keluarkan sebelum dan sehabis lebaran. Dan jika saya tidak pulang, setidaknya akan menghemat beberapa Rupiah yang bisa digunakan untuk kepentingan yang lebih perlu.

"Saya takut tidak balik lagi ke sini, Bu"

Tidak ada balasan dari Ibu, dan saya meneteskan air mata tanpa sadar. Yang terdengar di seberang  telepon hanyalah suara tarikan nafas ibu yang sangat dalam.

Jumat, Mei 22, 2015

Aku dan Kamu Bukanlah Kita


Siapa kita sebenarnya? Atau mungkin sedikit kuralat pertanyaan tak bertujuan yang baru saja aku lontarkan itu. Siapa aku dan kamu? Atau mungkin yang ini lebih tepat, Siapa aku dan siapa kamu? Semakin dipisah tampaknya semakin mencerminkan keadaan kita yang sebenarnya. Penggunaan kata Kita dalam pertanyaan tersebut tampaknya tidak lagi cocok, atau bahkan memang sudah tidak cocok dari awal. Mengapa aku harus meng-kita-kan aku dan kamu sementara kamu entah peduli atau tidak dengan hal itu, lalu mengapa juga aku harus meng-aku dan kamu-kan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya jika memang aku dan kamu tidak bisa saling memahami. Kita tidak mempunyai laras yang sama. Aku juga merasa kita bukanlah siapa-siapa. Hubungan jarak jauh kita yang hanya dalam lingkup kota bahkan kampus yang sama juga terasa semakin memburuk.

Sejenak, pernahkah kamu berpikir lebih jauh akan makna tentang kata 'Kita'? Aku yakin tidak. Dan sebelum kamu menjawab sudah dapat kupastikan seperti itulah kira-kira jawabanmu. Kata kita yang selama ini menggema ketika aku dan kamu bersama hanya sebuah omong kosong dan istilah penyejuk suasana saja, sejatinya agar kita terlihat lebih dekat dan lebih akrab, itu saja. Tidak dalam nyata bahwa kita yang sebenarnya adalah aku dan kamu yang benar-benar menjadi penyejuk antara satu sama lain. Semua tentang kita, kesemuanya adalah omong kosong dan bualan.

Kita, -maaf, maksudku aku dan kamu- tidaklah saling bisa mengerti dan memahami. Aku dan kamu selalu terlibat dalam kecamuk masing-masing sehingga lupa mengaplikasikan kata 'Kita' yang sudah berangsur melekat. Lewat pengertian di awal kebersamaan, aku dan kamu coba dipersempit menjadi kita, sesungguhnya adalah agar jarak yang membatas menjadi semakin pudar atau bahkan hilang sama sekali. Hanya diawal ternyata, dan tidak ada usaha lain setelah itu baik dari aku ataupun kamu, ataupun kita berdua untuk membuat batas itu semakin samar. Kita terlalu patuh pada keadaan dan terlalu takut untuk memulai. Hingga berangsur istilah 'Kita' mengelupas dan kembali ke wujut asalnya, 'Aku dan Kamu'.

Semoga kamu bisa mencerna dengan benar maksud dari setiap kata yang aku tulis. Bahwasanya selama ini aku dan kamu bukanlah kita. Lalu bagaimana saat ini, hari ini, atau hari selanjutnya? Pertanyaan yang sangat mudah untuk di jawab. "Hanya Aku dan Kamu yang akan menjawabnya di tanggal 22 untuk yang kesebelas kalinya ini."