Jumat, Mei 22, 2015

Baik dan Sempurna


Untuk kesekian kalinya aku dibuat ternganga setelah membaca jawaban dari pesan singkatmu. Butir-butir kagum kembali menjamahi alam sadar bahwa kamu memang layak dan sangat patut untuk dipuja. Andaikan Tuhan benar-benar akan membersamakan kita dalam ikat benang kehidupan hingga tua nanti, tiada tara rasanya bahagiaku akan terlukis. Sangat sulit bertemu orang dengan watak seperti kamu memilikinya. Habis sudah kata dan kalimat untuk menghaturkan puja dan puji kepada sempurnamu yang kini singgah di hati. Tidak dapat sama sekali aku memastikan bahwa akan selalu ada kata bersama yang terus membayang diantara kita. Karena kamu bisa pergi kapan saja tanpa harus ada persoalan besar yang menjadi penyebabnya.

Jikapun kamu memang diharuskan lepas dari genggamku suatu saat nanti, sebisa mungkin ingin yang bersemayam dalam dadaku akan mencoba untuk rela. Karena aku tahu bahwa perempuan baik hanyalah tercipta untuk laki-laki yang baik pula. Dan sampai detik ini, jika berdiri dihadapanmu, kata baik atau sempurna masih terlalu jauh untuk dapat kugapai, juga masih sangat tinggi untuk coba aku jangkau. Yang berarti besar mungkinnya bahwa aku hanyalah sebagai halte dalam perjalan hidupmu. Kamu menelusuri kisah cintamu sendiri, berhenti sejenak di hatiku, lalu bergerak menjauh meninggalkan beberapa potong kenangan -yang akan membuat luka-. Pribadi yang baik masih terlalu jauh dari hadapku. Dengan kelapangan hati, ikhlas coba aku paksakan untuk rela agar bahagia yang sebenarnya dapat kita raih, meski mungkin tanpa kita saling bersentuh secara fisik.

Rabu, Mei 13, 2015

Skenario Kita -Aku dan Kamu-

Bukan hanya satu, tetapi hampir setiap mulut yang mengenal kita selalu mengatakan hal yang serupa. Meski semua muncul dari berbagai jenis dan macam kalimat, tetapi intinya tetaplah itu dan itu saja. Aku adalah seorang yang beruntung, begitu pikir mereka. Tentu saja mulut-mulut itu bisa menilai hanya dari luar, sekedar membaca dari apa yang mereka lihat, hanya menerjemahkan sesuatu yang terjadi di depan mata mereka tanpa mereka peduli bagaimana skenario sebenarnya yang mereka anggap lancar dan baik itu bisa berjalan. Aku dan kamu sangat mengetahui, ada sesuatu di balik terciptanya cerita yang tampak harmonis tanpa pernah ada goncangan masalah. Seandainya kita berdua mendengar secara langsung apa yang mereka dapat simpulkan dari semua penglihatan, aku yakin kita akan sama-sama tersenyum, kemudian saling menatap sejenak, lalu menarik napas yang sangat dalam atas kesalahan mereka dalam memberi penilaian. Benarkan? Seolah hal yang kita lakukan itu adalah kontra atas semua yang mereka lihat dan ceritakan.

Kita -mungkin lebih baik aku mengubahnya menjadi aku dan kamu- bukan tidak pernah menginjak benang kusut, dan bahkan hanya karena masalah sepele dan sangat kecil aku dan kamu menciptakan rasa kesal masing-masing yang jauh lebih rumit dari sekedar benang kusut. Bahwa bahagia yang tampak di balik damainya cerita yang aku dan kamu buat adalah sebuah topeng yang tidak sengaja terpakai. Keadaan, kesibukan, dan berbagai cerita lain di luar cinta dan kasih sayang membuat aku dan kamu seolah saling paham dan saling mengerti. Tentang bagaimana cara menjaga perasaan, bagaimana memahami keinginan masing-masing, dan bagaimana mencari jalan keluar atas keinginan yang tidak dapat kita capai, maksudku aku dan kamu. Begitukah? 

Mungkin sebagian hal benar begitu adanya. Aku dan kamu mencari jalan keluar bersama meski hanya untuk keinginan-keinginan sederhana yang tidak bisa terlaksana. Dan itu sebenarnya adalah sangat jarang terjadi. Kita punya ego yang sulit untuk di bendung -maksudku aku-. Itulah faktor yang harus bertanggung jawab atas ketidakharmonisan yang mengguncang cerita akhir-akhir ini. Entah mengapa bisa demikian, padahal hati yang isinya sudah penuh dengan namamu ini kadang tidak mau untuk bekerjasama barang sejenak. Keinginan yang dipunyainya harus terwujut. Dan tahukah kamu apa sebenarnya keinginan hati yang kadar egonya bisa berubah menjadi sangat tinggi melebihi apapun itu? 

Itulah dia pertemuan. Hanya sesederhana itu. Tidak masuk akal kadang, ketika rindu terlampau merajalelai pengertian. Meski hanya dalam pertemuan-pertemuan sederhana, tetapi itulah egoisme dari rasa yang selalu ingin bertemu. Pahamilah agak secuil, bahwasanya ketika kata rindu tiba-tiba terucap, itulah paksaan untuk bisa bertemu, sebagai bukti bahwa tidak ada permainan dalam skenario cinta yang sedang kita mainkan.

Minggu, Mei 10, 2015

Tentang Pacaran Menurut Profesor

Umurnya sudah 76 tahun ketika beliau berceramah di hadapan kami. Sudah sangat tidak muda lagi jika dilihat dari segi usia. Nyatanya jiwa dan semangatnya masihlah sangat muda, bahkan menyaingi kami yang sedang mekar-mekarnya dalam semangat menuju sukses. Kali ini beliau tidak berbicara di depan kelas seperti rutinitasnya sehari-hari. Di sebuah mesjid, Mesjid Raden Patah Universitas Brawijaya, di hadapan mahasiswa fakultas yang di ampunya beliau memberikan wejangan yang membuat beberapa hati tersentak dan mungkin ada juga yang memberontak. 

Tentang dunia Islam. Frontal di hadapan kami beliau mengatakan bahwa Islam sangatlah kaku terhadap dunia. Islam dinilai terlalu mengada-ada dan berlebihan terhadap ajaran yang bahkan sebenarnya tidak ada dalil yang mengatakan atau menyuruh untuk berlaku seperti itu. Dan yang dapat kutangkap dari sini adalah mereka yang katanya ahli kitab justru tidak bisa untuk menggunakan dan mengartikan maksud serta kandungan Al-quran dalam dunia yang sebenarnya.

Secara terbuka beliau mengatakan, Ilmu Fiqih adalah yang bertanggung jawab atas semuanya. Kebanyakan Ilmu Fiqih yang tak berdalil (dalam konteks ini dalil yang dijadikan dasar diartikan tidak berdasarkan kehidupan, melainkan hanya kata per kata) jelas dan pasti membuat Islam tidak bisa berbuat apa-apa sehingga terus terusan jalan di tempat, bahkan mungkin ada saatnya Islam malah akan berjalan mundur beberapa saat lagi. Dengan sangat sederhana dan bahasanya yang lugas, beliau memberi contoh yang membuat otak dapat mencerna dengan sangat baik maksud yang di sampaikannya dalam membuka mata manusia Islam sebagai seorang saintis.

Dalam dalil (kata beliau tidak ada) seorang wanita dan laki-laki yang bukan mukhrim tidak diperbolehkan untuk saling pandang. Lalu beliau langsung mulai dengan contohnya. Ketika dosen (dalam hal ini dosen laki-laki) menjelaskan suatu materi, ia tidak diperbolehkan untuk menatap wajah mahasiswinya. Begitu juga sebaliknya. Jika mahasiswi ingin bertanya pada dosen, dia juga tidak boleh menatapkan matanya ke wajah dosen (tentunya harus menunduk). Menurut ilmu Fiqih kedua orang tersebut bukan mukhrim sehingga tidak diperbolehkan untuk saling beradu tatap, tetapi jika diteliti dengan pikiran normal, apakah itu sopan? Jika demikian tentu antara laki-laki dan perempuan tidak akan pernah saling mengenal. Jangankan untuk saling mengenal, untuk memandang wajahnya saja sudah tidak bisa. Tidak akan ada silaturahmi antara laki-laki dan perempuan. Lalu bagaimana mereka bisa menikah nantinya? Bagaimana mereka bisa saling kenal sifat terlebih dahulu sebelum mentukan siapa calon suami dan siapa calon istri? Wong, wajah ae ora ro.

Rabu, Mei 06, 2015

Catatan Kecil di Praktikum Mahasiswa Pertanian (1)


Suasana praktikum salah satu mata kuliah di laboratorium genetika
(Genetika tanaman)
Semuanya dilakukan di luar jam kuliah. Menyita waktu di luar jam yang di agendakan akademik untuk bertatap muka dengan dosen. harusnya seratus menit dalam sehari sudah cukup untuk membuat kepala terasa sedikit oleng. Di sinilah suka duka mahasiswa pertanian diawali. Setelah mengantuk tidak karu-karuan dalam ruangan ber AC bersama 40 orang lain mendengar ceramah dosen yang sulit untuk dicerna, tidak ada kata langsung pulang, istirahat atau nongkrong di kantin sejenak untuk mahasiswa pertanian. Apalagi untuk hangout keluar seperti cafe, mall atau sekedar duduk di taman kota. Saat dosen mengakhiri ocehan ilmiahnya, ancang-ancang juga harus langsung di ambil. Tinggalkan ruangan sesegera mungkin, melangkah melewati tangga atau bahkan kadang berpindah gedung, keluarkan jas laboratorium (jas lab), dan kemudian masuk ke ruangan yang baunya sama sekali berbeda dengan ruang kuliah. Jika ada mata 7 kuliah bersama dosen, maka bersiaplah ada tambahan 7 tatap muka lagi bersama asisten

Selasa, Mei 05, 2015

? . . .


Mungkin sesungguhnya kamu tercipta sebagai peredam amarah, sebagai penyejuk hati yang sering panas, atau sebagai penjaga raga yang masih terombang ambing kesensitifan. Semua adalah hadiah luar biasa dari Tuhan dan aku sangat bersyukur atas semuanya. Dipertemukan lalu dibersamakan dalam satu jalan yang beriring senyum dan kecup. Tetapi logikaku masih takut untuk berbagi cerita. Ketidaksanggupan menjadi sandungan untuk jujur dan terbuka. Takut beberapa kali membuat lidah berubah kalu dan tidak berdaya, diikuti mata yang kemudian tidak berani menatap, dan terakhir disetujui napas yang tiba-tiba menjadi berat. Bagaimana jika di depan tatapmu aku masih dikuasai amarah dan hati yang panas? Bagaimana jikalau kacau dalam ragaku malah membuatmu meneteskan air mata? aku tidak berani membayangkannya. Aku juga tidak berani melihat ke depan dimana kita berada di persimpangan kemudian memilih jalan berbeda yang tidak akan ada temu lagi di ujungnya nanti. Sampai detik ini interval masih menjadi pilihan terbaik menurutku. Terlalu egois jika baikmu justru dijadikan pelampiasan kesal dan amarah. Meski rindu terus hadir dan kadang menyiksa, tetapi setidaknya aku tidak menghadiahkan bentakan untuk jiwamu yang lembut. Dari jauh aku masih bisa melihatmu tersenyum dan ceria meski mungkin terkadang samar. Satu kesimpulan yang tersirat dari sedikit curahanku bahwasanya aku takut kehilangan kamu akibat bodohku yang tidak bisa mengendalikan emosi.

Senin, Mei 04, 2015

Kata Sederhana

Baru saja rintiknya mereda ketika magrib mulai tiba di penghujung. Saat itu di jendela masih menempel gugusan-gugusan embun sisa hujan sore tadi. Dan aku sedang memandang satu sudut ruangan tempat berteduh. Bersama embun yang berangsur hilang di balik jendela kaca, lamun perlahan menghampiri duniaku yang sedang tanpa penguasa. Menerawang jauh melintasi batas pandang mata dan melayang menerobos butiran hujan yang kini telah berubah menjadi gerimis kecil. Beberapa hari yang lalu kata tak disangka terngiang menghujam jiwa. Bukan dari mereka ahli kehidupan, bukan juga dari mereka yang paham dan kaya pengalaman hidup. Seorang remaja beranjak dewasalah yang membuat jiwa-jiwa keropos tersentak dan kembali bergairah dengan beberapa rangkai katanya. 

Tidak satupun belahan dunia lain akan memiliki gadis serupa. Ada kata sederhana yang disampaikannya, yang bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa sepenggal kalimatnya itu telah mengubah (membetulkan) prinsip hidup seorang yang tengah terpuruk jiwa dan raganya. Terasa sebelumnya dalam keadaan bagaimanapun kalimat itu tidak akan mungkin muncul dari bibirnya. Tetapi nyata dan rasa tidaklah selalu bersama di setiap jalan. Tak pernah diduga, beberapa kata yang keluar dari mulutnya bermakna sangat luar biasa.

Kepada Tuhan, terima kasih telah memperkenalkan umat yang ternyata lebih dari sekedar indah. Jika boleh mengirim sebaris pinta, akan berteriak aku diantara pohon yang menjulang dan burung yang terbang menghias langit. Biarkan dia tetap di sini, biarkan dia menjadi sandaran di saat lelah melanda, biarkan dia menjadi bahu tempat bersandar ketika amarah sedang berkuasa, dan biarkan dia menjadi pelangi setelah badai menghantam cemerlangnya dunia. Biarkan bersama sampai akhirnya tanah benar-benar menjadi singgasana terakhir pelepas lelah.

Jumat, Mei 01, 2015

Mengekspos Cinta

Bolehkah berteriak kepada dunia untuk mengatakan bahwa kita adalah kekasih? Aku adalah lembaran hidupmu dan kamu adalah cerita disetiap waktuku. Dalam sadar yang kadang sebenarnya tidak disadari, kita terlihat sangat berhati-hati dalam melangkah menentukan arah. Kita diam dalam jarak ketika berdiri di depan ribuan mata. Kita berlaku bahwa inilah kita dalam jalinan cinta yang sangat biasa.

Kemudian dalam ketidakrasionalan berpikir, muncul tanya yang tidak tertuju pada siapa-siapa. Benarkah kita adalah sepasang kekasih? Apakah nyata bahwa kita sedang menjalin cinta? Apakah sebenarnya kasih sayang itu benar-benar hinggap di hati kita? Dan terus seperti itu, banyak lagi tanya-tanya tak berjawab yang keluar dari bisikan bibir. 

Dari ketidaksadaran yang mulai sadar, dari ketidakrasionalan yang mulai rasional, kita mulai mencoba menarik diri dari dunia semu tempat selama ini kita berpijak. Kita masuki alam nyata dengan sedikit kecanggungan akibat tatap mereka yang tidak sama. Kita mencoba memotong jarak, mendekat hingga hembusan napas masing-masing kita terasa meniup kelopak mata.

Ada gelagat tak biasa ketika kita mencoba untuk bersikap seperti mereka. Apa daya itu bukan fashion kita. Kita berada dalam jangkauan mahligai cinta yang sangat biasa, sangat sederhana dan apa adanya. Tidak ada yang perlu ditampilkan secara lebih, tidak ada yang perlu diekspos kepada dunia. Biarkan dunia mengerti dengan sendirinya. Bahwa dalam sederhana dan kesangatbiasaan ada ketulusan yang melandasi kita dalam berpijak.