Menatap dia dalam doa, di tengah pekatnya malam menuju hari kemenangan. Sedikit asa muncul ketika sepertiga malam mulai datang. Membayangkan dia yang terlelap akibat perjalanan jauh yang ditempuhnya. Saat matanya terpejam, saat tubuhnya diam tak bergerak, sebuah doa kepada yang kuasa terbisik. "Hadirkan aku dalam mimipi-mimpi indahnya. Jadikan aku awal dari senyumnya kala ia membuka mata. Jadikan aku fajar untuk pagi indahnya"
Rabu, Juli 02, 2014
Selasa, Juli 01, 2014
Distance
Hal (yang ditakutkan) itu benar-benar terjadi. Disaat rasa masih menggebu dan bergejolak, keadaan tak mampu untuk menahan serangan jarak yang menjadi pemisah. Waktu pun hanya terdiam. Menyaksikan kemurungan diantara benih-benih cinta yang sedang tumbuh subur. Tak ada yang mampu melawan. Ini adalah suratan yang akan dan harus terjadi. Sudah tertulis sejak 2 pasang bola mata ini belum menyatu.
Dalam kesendirian, aku merasa sangat ja(t)uh. Jarak seolah tidak mau memahami bahwa masih ada kerinduan untuk menatap matanya lebih lama. Masih ada cerita yang ingin aku rangkai bersamanya. Aku masih ingin merasakan hangatnya dekapan yang ia berikan. Aku masih membutuhkan sentuhan dan belaian lembut dari tangan halusnya.
Ah, terkadang Tuhan punya rencana yang tidak terprediksi. Sesekali air mata memang harus tampil lebih dulu untuk sebuah senyum. Kesedihan kadang juga harus menjadi awal untuk sebuah keceriaan. Dan itu mungkin saja berlaku untuk kali ini
Senin, Juni 30, 2014
My First
Embun pagi yang kini sedang berada di awang-awang membuat aku ingin kembali merasakan yang terjadi malam itu. Ada kehangatan meski sebenarnya malam saat itu jauh lebih dingin dari pagi yang kini menyelimuti dunia. Baru beberapa hari yang lalu, dan kini aku merindukannya kembali.
Ada banyak kenangan yang membuat aku tidak pernah bisa lupa. Begitu tulus jemari bermain di telapak tangan. Meninggalkan sedikit rasa geli di bekas sentuhannya. Memunculkan kehangatan serta menghadirkan senyum saat mata memandang.
Kala itu adalah yang pertama dalam hidup. Melangkah bersama ditemani banyak cerita. Menghabiskan malam dalam dekapan kehangatan. Menyaksikan bulan yang saat itu sinarnya sedang redup, dan juga bintang yang hanya menampakkan diri beberapa saja. Membuat langit terlihat begitu sepi dan murung. Bertolak belakang dengan hati yang kini sedang girang merasakan damainya cinta
Minggu, Juni 29, 2014
Kehangatan
Aku terbangun dari tidur dan masih teringat jelas hal terindah yang pernah aku rasakan di sini. Sebuah kehangatan yang menyiram tubuh di tengah suhu kota yang sebenarnya terbilang dingin. Duduk bersebelahan dengannya menikmati udara malam bersama hembusan angin. Sandaran kepalanya di bahuku seolah menghadirkan aliran lembut nada-nada pendamai jiwa yang kini tidak lagi kosong. Ada kebahagian malam itu saat rambutnya beterbangan tertiup angin, menyentuh wajahku dan meninggalkan aroma semerbak yang sangat khas. Tak bisa kusembunyikan, bahwa ada hasrat ingin membelai lembut kepalanya, menggenggam tangannya yang memancarkan kehangatan, dan mengecup keningnya dengan penuh kasih.
Chemistry is You and Me
Beberapa saat yang lalu kami menghabiskan waktu bersama dengan melangkah mengelilingi museum yang baru saja diresmikan. Berjalan melihat dunia tempo doeloe di berbagai belahan dunia. Berdampingan dalam langkah yang seirama. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk benar-benar bisa menyaksikan semua yang ada dalam museum. Dan dalam dua jam itu pulalah, aku dan dia berusaha membentuk sebuah chemistry agar rasa canggung tak lagi menjadi penghalang untuk kebersamaan kami kelak.
Banyak foto yang terabadikan di sore itu. Sayang sekali tak semua momen dapat diabadikan saat aku berada di sampingnya. Butuh relawan lain untuk membantu menjepret kamera. Dan itu bukanlah hal mudah karena tidak semua orang mau menjadi suka relawan mengabadikan kebersamaan dua insan yang masih sangat anyar dalam damainya cinta.
Kami berjalan menyusuri rute sesuai panah yang telah tersedia. Berjalan berdampingan bersama bahu yang terus bergesekan dengan halus akibat dekatnya jarak saat melangkah. Tak ada lagi pemisah. Kami adalah sepasang insan yang masih berusaha untuk melakukan sebuah pendekatan. Melahirkan pengertian satu sama lain untuk saling memahami. Dan mungkin inilah tempat untuk itu semua bisa menjadi sebuah kenyataan.
Tidak ada yang mengenal kami di sini. Tatapan mata yang saling beradu pandang ditemani senyum adalah bukti sekaligus saksi bahwa kami sekarang adalah sepasang kekasih. Tak banyak kata yang keluar dari bibir, tetapi makna tatapan dan senyuman sudah cukup mampu untuk menciptakan sebuah pengertian diantara kami.
Sebuah bangku bermotif mobil lawas keluaran jerman terlihat kosong di rute akhir perjalanan kami. Berada di pojok dan sedikit tertutup, menjadi tempat yang pas untuk melepas kepenatan kaki setelah melangkah beberapa jam lamanya. Aku mengajaknya duduk, dan kami duduk berdampingan untuk jarak yang sangat dekat. Bahu saling bersinggungan dan rambutnya kadang-kadang menyentuh wajahku. Aku dan dia bersandar dengan sangat santai. Dan dalam jarak yang sangat dekat itu, kapala kami saling menopang. Terkadang saling memandang. Membuat aku dapat merasakan hembusan nafasnya. Kemudian kata-kata keluar dari mulutku untuk mengajaknya bicara. Kami bercerita banyak hal, tentang apa saja, tentang kuliah, tentang keluarga, teman lama, dan tentu saja masalah kecil yang sebentar lagi akan kami hadapi selama dua bulan lamanya.
Banyak cerita yang terukir sore itu. Bahkan hingga langit sudah benar-benar gelap, kami masih betah dalam kebersamaan di sana. Tak peduli beberapa orang yang melirik kepada kami. Satu yang pasti, kebahagiaan benar-benar ada di sore menjelang malam kala itu.
Aku menyodorkan tanganku saat kami hendak kembali berjalan meninggalkan museum. Dia tersenyum, menatapku sejenak dan membalas sodoran tanganku dengan sebuah genggaman yang begitu hangat. Kami mulai melangkah menyusuri lorong akhir dari perjalanan di museum dengan tangan yang saling menggenggam.
Udara dingin di luar begitu menusuk, tulang seolah bergetar akibat angin malam yang berusaha merasuki tubuh. Kami melanjutkan malam di alun-alun kota. Alun-alun indah yang menjadi icon kota ini. Duduk bersama diantara ramainya pengunjung dan kerlap kerlipnya lampu yang menghiasi.
Kami berjalan mencari tempat nyaman untuk bisa menikmati malam perpisahan. Di bawah komidi putar kami berhenti dan disanalah kami kembali bercerita banyak tentang apa saja. Udara malam semakin dingin, hembusan angin pun semakin kencang.
Dia menatapku dalam-dalam. Matanya jelas menusuk jauh ke dalam bola mataku. Dia tersenyum, dan aku mulai memahami maksudnya. Tangannya kuraih dan kembali aku menggenggam jemarinya yang lebih mungil dari jari-jariku. Dia tersenyum dan tetap menatap ku dalam senyum. Kemudian sandaran kepalanya di bahuku membuat rasa dingin benar-benar terusir. Begitu lama kami berada dalam keadaan demikian. Menikmati malam yang semakin larut bersama seorang yang namanya kini ada di ruang hati yang paling megah.
Begitu indah malam yang kini aku nikmati. Sentuhan lembut dari kulitnya menghilangan rasa dingin yang menyelimuti Kota. Gerak rambutnya yang membelai wajah membuat aku benar-benar merasa manja. Dan dia, ketika kepalanya bersandar di bahuku, tampak senyum indah menghiasi bibir tipisnya, memperlihatkan lesung pipinya yang membuat ia tambah cantik malam ini.
Jumat, Juni 27, 2014
Rindu Setia
Aku butuh sebuah kata bernama 'kesetiaan' yang membuat keyakinan mengalir di hati. Aku butuh sebuah bukti kecil yang membuat rinduku tak sia-sia. Juga aku butuh kepercayaan untuk menjaga semua yang berhubungan dengan kita. Kita masih terlalu muda, masih terlalu dini untuk berbicara mengenai kesetiaan. Kita belum bisa memaknai kesetiaan itu seperti apa. Tetapi kita dapat merasakan bahwa kerinduan ada dalam dada saat jarak menjadi pembatas. Saat mata tak saling menatap, rindu selalu berbicara dalam sebuah harmoni, mengungkap rasa pada jiwa-jiwa yang tengah kesepian
Kamis, Juni 26, 2014
--------
Ada kisah baru di beberapa kata yang ada saat ini terangkai. Pertama dalam keisenganku membuat kata-kata tak bermakna ditemani seorang yang selama ini secara tidak langsung namanya sudah terpampang dalam postingan-postingan sebelumnya. Sedikit bergetar jemari untuk berkolaborasi dengan tuts-tuts yang ada. Sedikit lebih susah untuk berfikir, kata apa yang sebaiknya tercipta saat telunjuk dan yang lainnya menyentuh beberapa huruf yang tertera. Seolah otak belum mampu untuk menyatakan apa yang sebenarnya hati rasakan sekarang. Ada cerita tak terungkap dibalik ini semua. Duduk berdampingan dengan seorang yang selama ini menginspirasi. Mata yang sedikit nakal berusaha untuk melirik ke samping, memperhatikan ekspresi wajah yang kini ia tampilkan. Ada rasa yang masih terus membelenggu hati dan ini adalah sebuah siksaan. Sangat tampak bahwa sifat pengecut terhampar di hadapannya kini. Hanya mampu bermain kata dalam tulisan untuk mengungkapkan kekaguman. Bahkan saat ini, ketika dia berada di sisi, tetap saja keberanian belum mampu untuk mengungkap isi hati yang berisi pujian dari sebuah ketulusan.
Langganan:
Postingan (Atom)






